DARI KL MIM WONOSARI UNTUK LOMBOK

Riuh suara anak-anak merespon dongeng yang di bawakan kak Blangkon. Ada yang tertawa ada yang berteriak ada yang menjulurkan tangan, bahkan ada yang berusaha memeluk kaki kak Blangkon. Itulah ekspresi kegembiraan siswa-siswa MIM Wonosari yang pagi hari itu (Jumat, 10/8/18) kedatangan tim Lazismu Kota Semarang bersama seorang pendongeng, kak Blangkon Ardi Anazra.

Kedatangan tim Lazismu dalam rangka membangun kebersamaan dalam membantu saudara-saudara di Lombok NTB, yang sedang mengalami musibah gempa beberapa hari yang lalu. Karena itulah tim Lazismu menggandeng seorang seniman pendongeng yang juga guru menggambar di beberapa sekolah TK di Kota Semarang.

Kepala sekolah MIM Wonosari, Moh. Pujianto menyatakan terimakasih kepada tim Lazismu yang telah memberikan  pembelajaran kepada siswa-siswa dengan cara yang menyenangkan dan menghibur melalui dongeng. Dirinya juga tidak menyangka bisa mengumpulkan dana hingga mendekati angka tiga juta, dari siswa yang berjumlah 128 orang. Satu hal yang lebih penting menurutnya bahwa pembelajaran karakter kedermawanan yang dilakukan melalui kaleng infaq Lazismu yang telah diberikan kepada masing-masing siswa sejak bulan Ramadhan tahun lalu, telah memberikan hasil yang positif. Terbukti dari hasil perolehan infaq kali ini yang jauh diatas  ekspektasi, katanya. Selain itu mampu memberikan santunan untuk siswa yang terkena musibah, membantu siswa yang kurang mampu dan setiap seminggu sekali siswa mendapatkan jatah makanan tambahan bergizi. Itu semua hasil dari pemanfaatan dana infaq siswa dalam program kaleng infaq, tutur Pujianto.

Semetara itu tokoh masyarakat sekaligus guru agama di MIM, H. Moh Najib, mengisahkan tentang perjuangan masa lalu ranting Muhammadiyah Wonosari, dimana ranting memegang peranan vital dalam membangun masyarakat di bidang sosial dan keagamaan. Terbukti dengan keberhasilannya mendirikan sebuah masjid yang diberi nama masjid Muhajirin, sebuah sekolah MIM serta kantor PRM. Semua bangunan tersebut berada dalam satu komplek pemukiman dengan sertifikat milik Muhammadiyah, serta berkedudukan stategis dan sangat dekat dari jalan pantura. Dahulu semua kegiatan dakwah terkoordinir melalui PRM, namun beberapa tahun belakangan terjadi kelesuan, sehingga dakwah di tingkat PRM kurang aktif. Najib memberikan masukan agar pimpinan daerah serta cabang menerjunkan da’I lebih sering lagi ke PRM Wonosari. Najib juga berpesan bahwa salah satu kunci keberhasilan dakwah adalah ketersediaan dana yang berasal dari zakat, infaq dan shadaqah. Untuk itu perlu digalakkan penggalangan dana ZIS tersebut melalui Lazismu, tutup Najib. (Cak San)

Peresmian Bangunan SD Muhammadiyah 04 Semarang

Sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci sukses sebuah sekolah, terutama guru harus mempunyai kompetensi yang standar, fokus dan konsisten dalam melaksanakan tugas pengajaran di sekolah.  Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, Prof. Dr. Kasmadi, M.Sc. saat meresmikan pemakaian gedung baru SD Muhammadiyah 04 Semarang Timur, Sabtu (04/08/18).

Faktor lain keberhasilan penyelenggaraan sekolah kata prof. Kasmadi, adalah pendanaan yang sehat. Hal ini menjadi tugas dan tanggung jawab penyelenggara, baik PCM maupun PDM. Untuk itu penyelenggara harus aktif dan kreatif dalam menggali sumber-sumber dana yang memungkinkan bisa diakses. Beliau mencontohkan, salah satu alternatif pendanaan sekolah adalah menggunakan dana zakat, infaq dan shadaqah. Seperti yang dilakukan dalam proses pembangunan dua ruang kelas SDM 04 tersebut, dana berasal dari infaq donatur yang disalurkan bekerjasama dengan Lazismu.

Ketua PCM Semarang Timur, H Rohmadi menyatakan terimakasih kepada semua fihak yang telah membantu mewujudkan pembangunan gedung tersebut. Selanjutnya akan dimanfaatkan menjadi dua ruang kelas bagi siswa baru tahun ini. Dirinya menambahkan bahwa pembangunan gedung tersebut adalah renovasi bangunan lama yang sudah rusak. Dengan berfungsinya gedung tersebut akan menambah manfaat dan mendukung dakwah Muhammadiyah di Semarang Timur. (cak San)

 

Beginilah Kyai Dahlan Mendidik Kita

Oleh: Dr. Adian Husaini

Peneliti INSISTS, Pendiri Pesantren at-Taqwa, Depok

“Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil (mengikuti. Pen.) kepadanya, tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah; tahun ’62 ini saya berkata, moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhaanahu wa-Ta’ala, dan jikalau saya meninggal supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya.”

(Soekarno)

***

Itulah sebagian isi pidato Bung Karno pada Muktamar Muhammadiyah di Jakarta, 25 November 1962. Bung Karno mengaku kagum dengan Kyai Ahmad Dahlan sejak usia muda, tatkala masih berdiam di rumah HOS Tjokroaminoto. Karena terpesona dengan ceramah-ceramah Kyai Dahlan, maka Soekarno muda berkali-kali mengikuti tabligh Kyai Dahlan. “… saya tatkala berusia 15 tahun telah buat pertama kali berjumpa dan terpukau – dalam arti yang baik – oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan,” kata Presiden Soekarno. Karena itu, lanjut Bung Karno, “saya ngintil – ngintil artinya mengikuti – Kyai Ahmad Dahlan itu.”

Itulah sosok Kyai Haji Ahmad Dahlan yang membuat Soekarno muda terpukau dan ‘ngintil’ kemana saja Kyai Dahlan berceramah. Seperti apakah pribadi Kyai Dahlan yang mempesona itu? Solichin Salam, dalam bukunya, K.H. Ahmad Dahlan, Reformer Islam Indonesia (1963), mendokumentasikan sosok dan perjuangan Kyai Dahlan.

“Kebesaran Kyai Dahlan tidaklah terletak pada luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya, melainkan terletak pada kebesaran jiwanya, kebesaran pribadinya. Dengan bermodalkan kebesaran jiwanya dan disertai keichlasan dalam berjuang dan berkorban inilah yang menyebabkan segala gerak-langkahnya, amal usaha dan perjuangannya senantiasa berhasil,” tulis Solichin Salam.

Tentang kepribadian Kyai Dahlan, digambarkan: “Pribadi manusia Ahmad Dahlan ialah pribadi manusia yang sepi ing pamrih, tapi rame ing gawe. Manusia yang ikhlas, manusia yang jernih, jauh dari rasa dendam dan dengki. Kyai Ahmad Dahlan adalah manusia yang telah matang jiwanya, karenanya beliau dapat tenang dalam hidupnya.”

Semangat perjuangan dan pengorbanan Kyai Dahlan dapat disimak dalam sejumlah kisah berikut. Saat Kyai Dahlan jatuh sakit, seorang dokter Belanda menasehatinya untuk beristirahat. Kata si Dokter: “Saya mengetahui apa yang menjadi cita-cita Tuan, dan sebagai seorang dokter, saya pun mengetahui penyakit yang kyai derita. Penyakit kyai ini tidak memerlukan tetirah keluar kota, tetapi cukup di rumah saja. Sakit kyai ini hanya memerlukan mengaso, lain tidak.”

Tetapi, Kyai Dahlan tidak memperhatikan nasehat dokter tersebut. Ia terus berkeliling daerah, bertabligh, tanpa peduli kesehatannya. Kyai Dahlan wafat pada 23 Februari 1923. Beberapa bulan sebelum wafatnya, Kyai Dahlan pergi 17 kali meninggalkan Yogyakarta untuk berbagai kegiatan dakwah.

Berikut ini di antara kegiatan Kyai Dahlan pada akhir-akhir hidupnya. Pada 7 Januari 1922, membuka rapat di Banyuwangi; 28 Januari 1922, membuat promosi di Jakarta tentang pendirian Sekolah Guru Agama Islam; 6 Agustus 1922, membuka pengajaran agama Islam di sekolah Hoogere Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (Sekolah Guru Tinggi untuk guru Bumiputra) di Purworejo; 7 Agustus 1922 membantu usaha pendirian sekolah agama Islam di Kepanjen; 21 September 1922, mengurus pengajaran agama Islam di H.K.S. Purworejo; 4 November 1922, membuka pengajaran agama Islam di O.S.V.I.A (Opleidingschool voor Indlansche Ambtenaren) di Magelang; dan berbagai kegiatan lainnya.

Jadilah guru!

Tidak diragukan, Kyai Ahmad Dahlan adalah pejuang dan tokoh pendidikan nasional sejati. Disebutkan, bahwa sebab-sebab didirikannya Persyarikatan Muhammadiyah adalah: (a) Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi sehingga merajalelanya syirik, bid’ah, dan tachyul. Akibatnya agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi, (b) ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi Islam yang kuat, (c) kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memproduksi kader-kader, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman, (d) karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam umat Islam, bagi keluhuran serta keberlangsungan agama Islam di Indonesia, berhubung dengan kegiatan dari zending dan missi Kristen di Indonesia, (e) adanya tantangan dan sikap acuh tak acuh (onverschillig) atau rasa kebencian di kalangan intelegensia terhadap agama Islam, yang oleh mereka dianggap sudah kolot serta tidak up-to-date lagi, (f) ingin menciptakan suatu masyarakat, di mana di dalamnya benar-benar berlaku segala ajaran dan hukum-hukum Islam.

Kyai Ahmad Dahlan memang seorang manusia amal. Ia bukan hanya berpikir, dan memahami masalah. Tetapi, lebih penting lagi, ia berpikir jauh ke depan, dan mencarikan solusi masalah secara mendasar. Bahkan, lebih dari itu, Kyai Dahlan langsung memimpin perjuangan itu sendiri; menjadikan dirinya, istrinya, dan keluarganya sebagai teladan perjuangan. Inilah yang membuat seorang Soekarno terpesona sejak usia mudanya.

Meskipun terjajah secara ekonomi, politik, dan militer, Kyai Dahlan paham benar, bahwa akar masalah umat dan bangsa ini terletak pada masalah pendidikan. Dari pendidikan inilah akan dilahirkan kader-kader umat dan bangsa. Uniknya, Kyai Dahlan memulai dari pendidikan kaum perempuan. Sebab, menurutnya, perempuan memegang peran penting dalam pendidikan anak.

Kyai Dahlan tidak menunggu gedung megah untuk membuka sekolah. Ia mulai dari serambi rumahnya. Di situlah belajar sejumlah murid pertama, seperti Aisyah Hilal, Busyro Isom, Zahro Muhsin, Wadi’ah Nuh, Dalalah Hisyam, Bariah, Dawinah, dan Badilah Zuber. Kyai Dahlan sendiri yang mengajar mereka. Sekolah itu belum diberi nama. Para murid belajar ilmu aqaid, fiqih, akhlak, qira’ah, dan lain-lain.

Barulah pada tahun 1913, sekolah itu berpindah ke gedung baru. Atas jasa putranya, H. Siraj Dahlan, terbentuklah sebuah madrasah yang diberi nama “al-Qismul Arqa”. Pada tahun-tahun berikutnya, madrasah ini diberi nama Hooger Muhammadiyah School, lalu menjadi Kweekschool Islam, dan pada 1932 berubah nama menjadi Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Inilah sekolah guru Muhammadiyah.

Sekolah guru ini dimaksudkan untuk melahirkan kader-kader pejuang. Patut dicatat, bahwa ketika itu, banyak orang tertarik menjadi guru karena status sosial yang tinggi. Banyak anak-anak muslim memasuki sekolah guru Belanda atau sekolah Guru Kristen, sehingga mereka menjadi sekuler atau menjadi Kristen.

Salah satu anak muslim yang berubah menjadi Katolik setelah memasuki sekolah guru Katolik adalah Soegijapranata. Buku “Ragi Carita: Sejarah Gereja di Indonesia 1860-an sampai Sekarang” karya Dr. Th. Van den End dan Dr. J. Weitjens SJ (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002) menuliskan sekilas kisah Soegijapranata bersekolah guru dan mengubah agama menjadi Katolik di bawah asuhan Frans van Lith: “Waktu masuk Muntilan, Soegija menyatakan dia ingin sekolah, tak mau jadi Katolik, tetapi pada tanggal 24 Desember 1909 Albertus Soegijapranata dibaptis.”

Posisi sekolah guru (kweekschool) asuhan Frans van Lith diuntungkan oleh kebijakan pemerintah penjajah Belanda, khususnya di bawah Gubernur Jenderal AF van Idenburg (1909-1916) yang sangat berpihak kepada misi Kristen di Hindia Belanda (Indonesia). Lulusan sekolah ini diberi hak yang sama dengan sekolah milik Belanda untuk menjadi guru di sekolah-sekolah negeri. Bagi masyarakat umum saat itu, menjadi guru di sekolah-sekolah milik pemerintahan Hindia Belanda, dianggap bergengsi.

Jadi, Kyai Ahmad Dahlan paham benar akan nilai strategisnya aspek pendidikan. Sedangkan kunci keberhasilan pendidikan terletak pada kualitas guru. Dari sekolah-sekolah Guru Muhammadiyah inilah lahir para pemimpin, ulama, dan tokoh masyarakat. Bangsa Indonesia tak akan lupa sosok pahlawan besar, Jenderal Sudirman, seorang guru Muhammadiyah.

Batu pertama

Di bulan-bulan menjelang wafatnya, kondisi kesehatan Kyai Ahmad Dahlan semakin menurun. Dokter menyarankan ia beristirahat di sebuah daerah di lereng Gunung Bromo. Tapi, lagi-lagi, di situ pula Kyai Dahlan justru aktif berdakwah. Usaha murid-muridnya untuk membujuknya beristirahat gagal lagi. Maka, dimintalah Nyai Dahlan menasehati Sang Suami.

“Istirahat dulu, Kyai!” saran sang istri.

“Mengapa saya akan istirahat?” tanya Kyai Dahlan.

“Kyai sakit, istirahatlah dulu, menunggu sembuh,” kata Nyai Dahlan lagi.

“Ajaib,” kata Kyai Dahlan, “Orang di kiri kananku menyuruh aku berhenti beramal, tidak saya pedulikan. Tetapi sekarang kau sendiri pun ikut pula.”

Dengan meneteskan air mata, istrinya berucap, “Saya bukan menghalangi Kyai beramal, tetapi mengharap kesehatan Kyai, karena dengan kesehatan itulah Kyai dapat bekerja lebih giat di belakang hari.”

Kyai Dahlan pun menenangkan istrinya; menjelaskan latar belakang perjuangannya. “Saya mesti bekerja keras, untuk meletakkan batu pertama dari pada amal yang besar ini. Kalau sekiranya saya lambatkan atau pun saya hentikan, lantaran sakitku ini, maka tidak ada orang yang akan sanggup meletakkan dasar itu. Saya sudah merasa, bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Maka jika saya kerjakan selekas mungkin, maka yang tinggal sedikit itu, mudahlah yang di bekalang nanti untuk menyempurnakannya.”

Suatu saat, seorang keponakan Kyai Dahlan bernama Badawi, menengoknya. Sang Kyai bertanya, “Apa maksudmu datang kemari, menghendaki matiku ataukah sakitku?” Badawi menjawab, “Tentu menghendaki sembuhnya Kyai.”

Maka Kyai Dahlan berujar, “Kalau kamu menghendaki sembuhku, tahukah kamu apa yang menjadi sebab sakitku ini? Yaitu, karena memikirkan Muhammadiyah. Karena itu bantulah Muhammadiyah. Pergilah kepada Muchtar dan tanyakan apa yang diperlukan Muhammadiyah.”

Ternyata, menurut Muchtar, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah memerlukan tenaga guru. Akhirnya, Badawi pun menyumbangkan tenaganya, mengajar di Mu’allimin Muhammadiyah.

Kira-kira seminggu sebelum wafatnya, Kyai Dahlan berpesan kepada murid-muridnya, “Aku tak lara ya, kowe kabeh temandanga!” (Saya mau sakit, bekerjalah kalian semua!”).

Beginilah Kyai Ahmad Dahlan mendidik kita; bagaimana memahami hidup, cinta dan ikhlas dalam perjuangan dan pengorbanan; juga bagaimana menjadi guru sejati, guru pejuang! Ia pun berpesan, “Kita manusia ini, hidup di dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?”

KUNCI PERBAIKAN PENDIDIKAN KITA ADALAH KESUKSESAN MENANAMKAN AKHLAK MULIA… Semoga kisah perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam pendidikan tersebut bisa kita teladani.

Semoga dunia pendidikan kita TIDAK menghasilkan manusia-manusia yang gila dunia, lupa akhirat, sampai-sampai menghalalkan segala cara untuk meraih kursi sekolah, harta, dan tahta! Wallahu A’lam bish-shawab.

(Artikel ini dimuat di Jurnal ISLAMIA, Republika-INSISTS, edisi 19 Juli 2018)

http://www.smpmu-imamsyuhodo.com/2018/07/beginilah-kyai-dahlan-mendidik-kita.html

LAZISMU MENDUKUNG DIFABEL MANDIRI

WhatsApp Image 2018-07-20 at 6.42.44 AMMengajarkan satu huruf pun harus di ulang-ulang beberapa kali, dan pada pertemuan berikutnya beberapa huruf yang telah diajarkan masih susah diingat lagi. Itu salah satu gambaran proses mengajar anak-anak difabel yang dilakukan oleh seorang relawan, Rofiatun, di kampung Pengkol, desa Kedungsari Rowosari, kecamatan Tembalang, kota Semarang. Menurut Rofiatun ada sekitar 30 orang difabel yang tinggal di sekitar kampung itu, namun yang aktif di kelompok belajar yang biasa disebut sekolah ada 11 orang.

Setiap hari Rabu, seminggu sekali Rofiatun mengajar anak-anak difabel di kampung Pengkol, bermodal kemauan. Itu dilakukan setelah selesai mengajar di pos PAUD Nusa Indah Jaya 8. Tidak semua anak difabel bisa aktif ke sekolah karena sebagian mereka tidak bisa mandiri datang ke sekolah, sementara orang tua / keluarganya sibuk bekerja.

Lazismu Kota Semarang berkunjung ke lokasi pada hari Rabu, 18/7/18 yang lalu, dan bertemu dengan empat orang difabel yang masuk sekolah pada hari itu. Salah seorang siswa difabel yang paling kecil berumur enam tahun, untuk berjalan tegakpun belum bisa, masih harus dituntun atau berpegangan benda disekitarnya, dia baru bisa belajar memegang pensil dan mencoret-coret diatas kertas. Tiga siswa yang lain usianya sudah mendekati 15 tahun namun mereka belum bisa membaca apalagi menulis, mereka masih mempelajari huruf satu per satu.

WhatsApp Image 2018-07-20 at 6.42.43 AMTempat belajar mereka sebelumnya di rumah Rofiatun, namun satu bulan terakhir mendapat pinjaman sebuah bangunan rumah milik pemerintah desa Rowosari, yang sedianya mau dipakai untuk pengelolaan sampah, namun belum dimanfaatkan. Alhamdulillah pak kades memberikan pinjaman rumah ini untuk dipakai PAUD dan sekolah difabel, ujar Rofiatun. Belum ada peralatan belajar yang memadai untuk mereka, alhamdulilillah Lazismu memberikan beberapa buah meja belajar untuk memudahkan anak-anak belajar. Tikarpun masih pinjam punya PKK kata Rofiatun.

Bersama dalam kunjungan tersebut, direktur Lazismu Jawa Tengah, Alwi Mashuri dan seorang professional di bidang kesehatan dokter Mila. Menurut Alwi Lazismu harus mendukung proses belajar mengajar anak-anak dengan kebutuhan khusus, membantu pendidikan mereka agar menjadi pribadi yang mandiri dan tidak menjadi beban bagi keluarga maupun lingkungannya.

Sementara itu dokter Mila memberikan beberapa tips kesehatan dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus tersebut, dan berpesan kepada para pengelola sekolah difabel agar menjalankan semuanya dengan penuh kesabaran disertai jiwa sosial yang tinggi.

Bayangkan, masih banyak ditemui disekitar kita difabel-difabel lain yang membutuhkan uluran tangan dan kebersamaan kita, apakah kita tega membiarkannya ? Segera hubungi Lazismu Kota Semarang untuk kebersamaan membangun bangsa yang mandiri. (cak San)

ZAIRADIO MENDUKUNG DAKWAH DI PERSYARIKATAN

WhatsApp Image 2018-07-17 at 1.53.19 PMSekilas tidak ada hal yang istimewa dari pelaksanaan pengajian Ahad pagi majelis Tabligh PDM Kota Semarang, tanggal 15/7/18. Dilaksanakan di masjid At-Taqwa Wonodri dengan penceramah ustadz Dr. Zuhad Masduki, yang membahas tentang syarat menjadi orang sukses.

Jamaah tidak menyadari adanya perbedaan pengajian kali ini dengan yang dilaksanakan sebelumnya, baru setelah panitia menyampaikan, jamaah mengetahui bahwa pengajian yang dilaksanakan pagi itu juga disiarkan melalui radio streaming milik Muhammadiyah, zairadio.com. Sehingga jamaah yang tidak datang di lokasi pun bisa mendengarkan menggunakan ponsel dimanapun berada.

Zairadio adalah singkatan dari zakat dan filantropi radio, yang menggunakan internet sebagai sarana penghubung ke pendengarnya. Radio ini diselenggarakan oleh Lazismu Kota Semarang guna mendukung dakwah di persyarikatan. Hal ini penting mengingat banyak jamaah yang tersebar di berbagai tempat yang tidak memungkinkan untuk berkumpul di satu tempat dalam waktu yang bersamaan. Untuk itu diperlukan media dakwah alternatif guna menjangkau keberadaan jamaah tersebut.

WhatsApp Image 2018-07-17 at 1.53.18 PMSecara terpisah ketua Lazismu Kota Semarang, Drs. Azis Sholeh mendukung sepenuhnya keberadaan radio tersebut. Dirinya berharap keberadaan radio menjadi media dakwah sekaligus media pembelajaran bagi semua insan di persyarikatan. Radio adalah sebuah system yang tidak mudah, sehingga bisa dijadikan media pembelajaran tentang banyak hal diantaranya : jurnalisme, teknik radio, materi siaran, kode etik penyiaran dan sebagainya. Untuk itu dirinya mempersilakan semua majelis, lembaga, AUM juga ortom di persyarikatan agar aktif mengisi acara di radio tersebut.

Ketua majelis Tabligh, Muhammad Zaenuri juga menyatakan kegembiraannya dengan kehadiran media baru tersebut. Ternyata untuk menghasilkan fungsi radio yang kekinian tidak perlu peralatan yang mahal, cukup dengan satu buah sinthesizer pengatur suara disertai dengan komputer yang dilengkapi koneksi internet. Dan yang lebih penting adalah SDM nya.

Semantara itu salah seorang jamaah Hj. Noor Aini M Yasin yang tidak bisa hadir karena sedang mengikuti acara lain, sempat mengirimkan pesan agar pengajian tersebut direkam supaya bisa didengarkan kembali di lain waktu. Senada dengan pendapat tersebut ustad Zuhad juga mengharapkan agar materi-materi dakwah tersebut bisa terdokumentasi dengan baik, agar tetap bisa menjadi manfaat dimasa yang akan datang. (cak San)

DAURAH TAHFIDZ

WhatsApp Image 2018-07-11 at 2.46.55 PMPada hari Jum’at 6 Juli 2018 dilangsungkan acara tasyakuran selesainya program Daurah Tahfidz dari ponpes Muhammadiyah Kudus. Diselenggarakan di rumah salah seorang wali santri yang bersedia dan mampu menampung sejumlah 16 orang santri peserta daurah. Secara kebetulan lokasi berada di daerah Bukitsari Semarang.

Program tersebut bertujuan utuk menguatkan dan menambah hafalan Qur’an masing-masing santri yang tergabung dalam Program Kelompok Unggulan Tahfidz, demikian disampaikan oleh ustadz Wakhid, salah satu dari dua ustadz pengasuh program Program Kelompok Unggulan Tahfidz dan daurah tersebut. Disampaikan juga bahwa selama mengikuti program tersebut semua santri merasa nyaman dan menikmati program dhourah intensif ini. Salah satu santri berhasil menyelesaikan satu jus selama program tersebut.

WhatsApp Image 2018-07-11 at 2.46.56 PMSantri peserta daurah terdiri dari siswa-siswa ponpes Muhammadiyah Kudus yang memenuhi standar kualitas tertentu sehingga dikategorikan sebagai kelompok akselerasi. Mereka dikumpulkan dan dibina dalam waktu sepuluh hari, disaat sedang libur sekolah. Salah satu santri, Adnan merasa kerasan dan menyukai model dan suasana belajar seperti dhourah tahfidz ini, yang membuatnya semangat dan tidak bosan untuk menghafal al qur’an.

Tasyakuran dilaksanakan dengan tausiyah oleh ustadz Mustofa, kemudian dilanjutkan dengan do’a oleh ustadz Fikri dan diamini oleh semua hadirin. Acara ditutup dengan makan bersama membentuk dua buah lingkaran besar yang di tengahnya di gelar beberapa daun pisang yang utuh, kemudian nasi beserta lauknya ditaruh di atasnya membentuk sejumlah gunung kecil sebanyak orang yang hadir di acara tersebut.

WhatsApp Image 2018-07-11 at 2.46.57 PMProsesi yang sederhana, namun meriah dan menumbuhkan keakraban tanpa meninggalkan sunnah rasulullah makan menggunakan jari tangan. Ada satu hal yang patut menjadi catatan, bahwa makanan yang telah dihidangkan harus dimakan habis. Dan tidak ada makanan yang mubadzir, ini juga salah satu sunah rosul yang semestinya kita ikuti.

Sementara tuan rumah pun merasa bangga menerima kehadiran para santri dan berharap agar mereka menjadi khafidz-khafidz penjaga AL-Qur’an yang dimuliakan. Selesai makan dan berkemas, rombongan santri program daurah sudah ditunggu satu armada mobil yang disiapkan tuan rumah untuk mengantar mereka kembali ke pondok pesantren Muhammadiyah di Kudus. (Can San)

PELAYANAN AMBULANCE DI HARI RAYA

WhatsApp Image 2018-06-23 at 5.31.29 AMHari raya idul fitri adalah hari yang paling membahagiakan bagi sebagian besar umat Islam, karena pada hari itu semua merayakan kemenangan setelah berjuang selama sebulan penuh melawan hawa nafsu dengan berpuasa. Namun tidak bagi keluarga Gunawar, seorang Pimpinan Cabang Muhammadiyah Semarang Timur, karena pagi itu sekitar jam 10.00 Gunawar telah di panggil oleh Yang Maha Kuasa untuk menghadapNya. Duka yang mendalam dari segenap keluarga, di hari kemenangan ini.
WhatsApp Image 2018-06-23 at 5.31.30 AMJam 11 pagi pada hari Jum’at (15/6/18), saya sedang bersiap untuk shalat Jum’at ketika tiba-tiba mendapatkan informasi tentang meninggalnya salah seorang pimpinan Cabang Muhammadiyah Semarang Timur, bapak Gunawar, yang sudah sekian lama menderita sakit.
Tidak perlu menunggu lama, setelah konfirmasi kepastian saya dapatkan, segera bergegas menyiapkan mobil ambulance sekaligus drivernya. Rencana pemakaman di kota Klaten yang berjarak sekitar 114 km dari Semarang.
Banyak warga persyarikatan yang hadir melepas keberangkatan almarhum menuju pemakaman di Klaten. Salah satu sesepuh masyarakat yang juga mantan ketua PDM Kota Semarang, H. Suratman HM, dalam pidato pelepasannya menyampaikan bahwa setiap jiwa adalah milik Allah dan pada saatnya pasti akan kembali kepada Allah. Beliau juga mengingatkan pentingnya mengisi kehidupan ini dengan perbuatan yang baik, untuk mempersiapkan segala kebutuhan pada kehidupan berikutnya setelah datangnya kematian.
WhatsApp Image 2018-06-23 at 5.31.30 AMoSelain sebagai PCM, Gunawar adalah seorang pendekar Tapak Suci yang cukup disegani di dunia persilatan Kota Semarang. Dia meninggal dalam usia 58 tahun, dan meninggalkan seorang isteri beserta empat orang anak. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah, dan kepadaNya akan kembali. (cak San)

 

POSKO MUDIK LEBARAN – MUHAMMADIYAH

Menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, orang-orang sibuk menyambut hari raya idul fitri / lebaran.  Belum lengkap rasanya kalau merayakan lebaran tidak berkumpul dengan keluarga besar, apalagi kalau masih ada orang tua, seolah menjadi kewajiban untuk mengunjungi orang tua dihari lebaran. Oleh karenanya setiap menjelang lebaran jalanan menjadi ramai.

Menempuh perjalanan mudik menjadi rutinitas yang berimbas pada kepadatan jalan raya menjelang lebaran.

Posko mudik menjadi salah satu alternative kegiatan filantropi. Begitu juga yang dilakukan oleh PDM Kota Semarang, dengan mendirikan dua buah posko sekaligus yang berlokasi di dua titik berbeda yaitu di Jl. Pamularsih dan di Jl. Raya Tugu.

Ketua PDM, Dr Shofa Chasani, yang telah berkenan meresmikan pembukaan posko mengatakan bahwa Muhammadiyah mempunyai komitmen untuk membantu masyarakat di bidang sosial dan kemanusiaan, sebagai bagian dari dakwah bil hal, yaitu dakwah dalam bentuk tindakan yang nyata.

Selanjutnya dikatakan bahwa posko di jl Raya Tugu ditujukan untuk melayani pemudik yang baru masuk kota Semarang, sedangkan posko di jl Pamularsih ditujukan untuk melayani pengguna sepeda motor ke arah Solo dan sekitarnya.

Posko ini menjadi bagian dari jaringan posko Mudikmu Aman Muhammadiyah, yang pada tahun ini membuka sebanyak kurang lebih 200 titik posko di sepanjang jalur mudik di seluruh Jawa

Pelayanan posko lebaran dilakukan setiap tahun untuk menegaskan kembali peran persyarikatan Muhammadiyah dalam kiprah dakwah yang berkemajuan.

Daftar Khotib/ Imam Iedul Fitri 1439 H / 2018 M

  1. Drs. H A’an Jumeno MM Halaman SD Sampangan 2 Jl. Menoreh Tengah X Sampangan
  2. Drs. HA. Wahab Barara, M.Pd. I, lapangan parkir Ngaliyan Square.
  3. Drs. H. Asep Jauharuddin, Halaman MI Muhammadiyah Wonosari Ngaliyan
  4. Drs. KH. Musman Thalib, M.Ag Halaman Rektorat Unimus
  5. Dr. H. Masrifan Djamil, MPH, MMR Perumahaan Setia Budi, Banyumanik Semarang.
  6. Tri Wiyanto, S.Sos Halaman SD Kruing, Jl. Kruing Raya, Banyumanik, Semarang.
  7. Dr. Muhammad Saerozi, MA  Halaman Gedung Serba Guna UNDIP semarang.
  8. Achmad AR, S. Pd. I, Halaman Masjid Al Kautsar Wonolopo Mijen ( Ranting Mijen )
  9. H. Soewarso, S. Ag, Halaman Musholla Miftakhul Jannah ( Ranting Polaman )
  10. Kholid Winandar, S. Ag, Lapangan/Halaman Masjid Mujahidin ( Kampus Muhammadiyah Mijen ) Ranting Jatisari
  11. Fahrudin Fatkhurrohim, S. Pd, Halaman SD Negeri Tambangan 1 ( Ranting Cangkiran )
  12. Eko Yulianto, S. Pd, Musholla Al Ikhlas Kuncen/Bubakan ( Ranting Bubakan )
  13. Drs. Afif Shodiq, Halaman Masjid At Taqwa Genuk
  14. ..Halaman masjid Luqmanul Hakim Tlogosari imam dsn khotib. Ustadz H. Atmo Nurfianto PRM Tlogosari kulon PCM Pedurungan.
  15. Lapangan parkir Giant Super Mall. PRM Plamongan Sari l. Imam dan khotib . Ustadz Genry uswantoro. SS
  16. Halaman Masjid Nurul Qomariyah. PRM Pedurungan Kidul . Imam dan khotib. Drs.H. Ainul Yaqin.
  17. Halaman masjid Baitussalam PRM Kalicari. Imam dan khotib Drs H. GUNARTO.
  18. Lapangan Fasum jl.Sdo drajat PRM. Muktiharjo kidul Imam dan khotib Ustadz H. Mufid. S.Ag.
  19. Masjid attaqwa PDM. Drs. H. Muhtar Hadi
  20. Lapangan perum Ghanesa Pandean lamper pcm Gayamsari, imam khatib : Usadz Djajuli.
  21. Halaman masjid At Taqwa Genuk  imam : Abdullah.Afif  M.Ag.. Khotib : Nurhadi Mustofa SH.MH.
  22. Lapangan parkir Taksi.sebelah timur pom bensin pamularsih.Imam dan Khotib. Bp.Nurbini.
  23. Masjid Baitul Iman Panjangan. Imam dan Khotib Bp.Imam sumarno.
  24. Masjid Al Muhajirin Karangayu. Imam dan khotib Bp.Arief Istamam.
  25. Masjid al Falah Perum BPI Ngaliyan, Ustadz H. Abdullah Muhajir, SE.
  26. Ustadz H. Machasin, M. Ag di Taman Mangga
  27. PCM Tugu di halaman Smp Muhammadiyah 9 . H. Samsul Hidayat, M.Ag.
  28. PCM Semarang Tengah di Kampus Indraprasta, Bpk H Hamzah Rifki
  29. Hal Wonderia Jl Sriwijaya Semarang PCM Candisari Semarang H. Amrudin Mahfud Jumai, SE.MM ( Ketua PD Pemuda Muhammadiyah )
  30. Dr.H Hardiwinoto SE, MSi : Halaman PDAM Jl.Kelud Raya Semarang
  31. Dr. Ir. H. Achmad Syafi’i, M.Pdi. Tempat Lapangan Taman Maluku
  32. Drs. H. Farchan, di Lapangan SD MUHAMMADIYAH Pucang gading.

BUKA BERSAMA PEMULUNG

WhatsApp Image 2018-06-10 at 1.03.40 PMSuasana riuh saling mendahului, disertai candaan kegirangan dari warga lembah Jatibarang yang baru selesai buka bersama yang ditutup dengan pembagian pakaian pantas pakai.

Menjelang lebaran warga lembah Jatibarang bersukaria dengan diserahkannya 12 koli pakaian layak pakai yang digalang oleh Lazismu dan PDA Kota Semarang.
Peristiwa itu berlangsung pada tanggal 6 Juni 2018, saat Lazismu Kota Semarang mengadakan acara buka puasa bersama pemulung dan pekerja pengangkut sampah, di lembah Jatibarang. Sebuah lokasi tempat tinggal sementara sekitar 450 orang pekerja. Lokasi tersebut berdekatan dengan lokasi pembuangan sampah terbesar di Kota Semarang.

Turut hadir dalam acara tersebut, PCM Ngaliyan H. Anas Hamzah, dan PCM Mijen H. Fajar Arifin, dua cabang yang mempunyai jarak jangkauan terdekat ke lembah Jatibarang.

Dalam tausiyah yang disampaikan oleh anggota PCM Ngaliyan, H. Suroto WhatsApp Image 2018-06-10 at 1.03.41 PMmenekankan agar jamaah memperkuat akidah Islamiyahnya agar tidak mudah tergoyah karena iming-iming harta benda keduaniaan.

Pada acara buka bersama tersebut PD Aisyiyah sudah menyediakan 200 bungkus nasi dan kolak, namun karena musola Al-Ikhlas hanya mampu menampung jamaah sekitar 30 orang, maka banyak jamaah yang hadir terpaksa makan sambil duduk bergerombol diluar musola.

WhatsApp Image 2018-06-10 at 1.03.43 PMWarga lembah Jatibarang yang diwakili oleh imam musola Al-Ikhlas, Muhlisin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh umat muslim yang telah menyalurkan bantuannya berupa, makanan, pakaian dan mushaf Al-Qur’an untuk warga lembah Jatibarang.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini, akan dijadwalkan pengajian setiap selapan (35 hari), yang diisi oleh mubaligh dari PCM Ngaliyan atau Mijen secara bergiliran. (cak San)