Muhammadiyah Siagakan 15 Rumah Sakit Tangani Corona

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA– Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, ada 15 rumah sakit PKU Muhammadiyah yang siap untuk menangani pasien positif virus corona covid-19. Beberapa rumah sakit itu di antaranya ada di Solo dan Yogyakarta.  

“Kami siap membantu tangani corona, kami punya 15 (rumah sakit) di beberapa kota besar,” ujar Haedar di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3).   

Haedar menyebut pihaknya juga telah melakukan simulasi langsung penanganan pasien yang positif virus corona di rumah sakit tersebut.    “Bahkan RS PKU di Solo di mana cucu presiden dua-duanya lahir di sana sudah simulasi dan insyaallah akreditasi sudah internasional. Kami siap,” katanya.  

Haedar mengimbau masyarakat tak panik terhadap penyebaran virus corona menyusul dua WNI asal Depok, Jawa Barat, yang positif virus corona. Ia meminta masyarakat tetap mengandalkan pihak medis jika mengalami gejala yang mirip virus corona.  

“Yang penting masyarakat tidak panik dan tetap andalkan usaha yang sifatnya medis. Infrastruktur rumah sakit juga harus siaga semua dan tentu kita sambil terus ikhtiar dan berdoa,” pungkasnya

sumber : http://muhammadiyah.or.id – 02-03-2020

DUNIA EKSTREM INDONESIA

Oleh: Haedaar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Musuh terbesar Pancasila ialah agama! Indonesia pun menjadi gaduh. Jika pernyataan kontroversial itu lahir dari fakta kelompok kecil umat yang memandang Pancasila thaghut. Kesimpulan tersebut jelas salah secara logika maupun substansi. 

Jika anda melihat kucing hitam hatta jumlahnya banyak maka jangan simpulkan semua kucing berbulu hitam. Ini pelajaran mantiq paling elementer. Ketika kesalahan logika dasar itu dibenarkan dan diulangi, boleh jadi ada masalah lain yang lebih problematik di ranah personal dan institusional. 

Kesalahan subtansi menjadi lebih parah. Agama manapun tidak bertentangan dan memusuhi Pancasila. Para pendiri bangsa dari semua golongan telah bersepakat menjadikan Pancasila ideologi negara. Di dalam Pancasila terkandung jiwa dan nilai ajaran agama yang luhur. Bung Karno bahkan berkata, dengan sila Ketuhanan maka bukan hanya manusianya, tetapi Negara Indonesia itu bertuhan. 

Indonesia sebenarnya tak perlu gaduh, jika siapapun yang salah berjiwa kesatria. Bila kearifan itu lahir tanpa kepongahan, reaksi publik tentu positif. Klarifikasi pun tidak diperlukan jika sekadar apologia “post factum”, mencari pembenaran di kemudian hari dengan merakit argumen baru yang esensinya bermasalah. Apalagi setelah ini meluncur pernyataan serupa yang kian riuh! 

Paradigma Ekstrem 

Menyatakan agama musuh terbesar Pancasila sama bermasalah dengan memandang Pancasila thaghut modern. Setali mata uang dengan pemikiran jika Indonesia ingin maju tirulah Singapura yang menjauhkan agama dari negara. Berbanding lurus dengan pandangan bila negeri ini ingin keluar dari masalah harus menjadi negara khilafah. 

Sejumlah kegaduhan di negeri ini terjadi tidak secara kebetulan. Di ibalik kontroversi soal agama versus Pancasila serta pandangan sejenis lainnya terdapat gunung es kesalahan paradigma dalam memposisikan agama dan kebangsaan. Di dalamnya bersemi paradigma ekstrem (ghuluw, taṭarruf) dalam memandang agama, Pancasila, keindonesiaan, dan dimensi kehidupan lainnya.  

Pikiran ekstrem dalam hal apapun akan melahirkan pandangan dan tindakan yang berlebihan. Karena sudah lama dicekoki oleh pemikiran bahwa sumber radikalisme-esktremisme dalam kehidupan berbangsa ialah agama dan umat beragama, maka lahirlah pandangan dan orientasi yang serba ekstrem tentang agama dan kebangsaan. Agama seolah racun negara dan Pancasila. 

Apalagi ada realitas induksi ketika sebagian kecil umat beragama mengembangkan paham ekstrem dalam menyikapi dunia dan negara. Kelompok ini dikenal  beraliran takfiri dengan memandang pihak lain salah, sesat, dan kafir. Negara-bangsa atau bentuk negara lainnya dipandang sebagai thaghut. Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia produk dari sistem thaghut itu yang harus dilawan. 

Pola pandang ekstrem beragama ala takfiri ini melahirkan pengikut (follower) fanatik buta. Sebaliknya melahirkan reaksi balik yang sama ekstrem. Tumbuh pula kelompok ekstrem liberal-sekular, yang tampil dalam kekenesan baru. Dalam situasi paradoks ini negara seolah ikut andil dalam memproduksi ekstremitas melalui program deradikalisme, sehingga kian menambah rumit persilangan dunia ekstrem di Republik ini. Plus berbagai persoalan bangsa yang dibiarkan akut dan menjengkelkan. 

Dunia serbaekstrem inilah yang melahirkan konflik antar pemikiran yang sama-sama keras. Agama versus Pancasila. NKRI versus Khilafah. Ekstrem kanan lawan ekstrem kiri. Radikal dilawan radikal, melahirkan radikal-ekstrem baru. Tariq Ali menyebutnya sebagai The Clash of Fundamentalism, sementaraMichael Adas mencandranya sebagai fenomena sosiologis “the sectarian respons”. Konflik  kebangsaan ini akan terus berlangsung jika tidak ada peninjauan ulang terhadap paradigma keindonesiaan yang ekstrem dalam hegemoni nalar positivistik, kuasa monolitik, dan mono-perspektif di Republik ini. 

Jalan Terjal Moderasi

 Indonesia menghadapi jalan terjal dunia ekstrem. Dua kecenderungan antagonistik dalam relasi agama dan negara mengemuka di negeri ini. Pertama, ekstremitas atau kesekstreman dalam memandang radikalisme hanya tertuju pada radikalisme agama khususnya Islam. Akibatnya, negara dan kalangan tertentu terjebak pada kesalahan pandangan dalam menentukan posisi agama dan negara. Pancasila dan Indonesia pun dikonstruksi  dengan paradigma liberal-sekular. 

Kedua, pola pikir keagamaan yang ekstrem, yang memandang kehidupan bernegara serbasalah, thaghut, dan sesat. Pandangan ini beriringan dengan kebangkitan agama era abad tengah yang teosentrisme, millenari, dan hitam-putih. Paham ekstrem keagaamaan ini sering didukung diam-diam oleh mereka yang kecewa terhadap keadaan —dalam istilah Taspinar ekstrem karena deprivasi relatif— sehingga lahir revitalisasi paham ekstrem keagamaan. 

Bagaimana solusinya? Kembangkan moderasi atau wasathiyyah, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan. Masalah moderasi telah dipilih banyak pihak untuk melawan masalah mendesak saat ini, yaitu ekstremisme (Haslina, 2018). Jika ingin terbangun kehidupan beragama, berbangsa, dan bersemesta yang moderat maka jalan utamanya niscaya moderasi, bukan deradikalisasi. 

Paradigma deradikalisme menimbulkan benturan karena ekstrem dilawan ekstrem dalam oposisi biner yang sama-sama monolitik. Membenturkan agama versus Pancasila maupun ide mengganti salam agama dengan salam Pancasila secara sadar atau tidak merupakan buah dari alam pikiran deradikalisme yang esktrem. Jika paradigma ini terus dipertahankan maka akan muncul lagi kontroversi serupa yang menghadap-hadapkan secara diametral agama dan kebangsaan, yang sejatinya terintegrasi. 

Mayoritas umat beragama di negeri ini sejatinya moderat, termasuk umat Islam sebagai mayoritas. Masyarakat Indonesia pun dalam keragaman suku, keturunan,  dan kedaerahan sama moderat. Hidup di negeri kepulauan dengan angin tropis dan keindahan alamnya membuat masyarakat Indonesia berkepribadian ramah, lembut, toleran, dan saling berinteraksi dengan cair sehingga lahir bhineka tunggal ika. Pancasila dan negara-bangsa telah diterima sebagai kesepakatan nasional yang dalam paradigma Muhammdiyah disebut Darul Ahdi Wasyahadah. 

Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai dasar dan ideologi moderat. Sekali Pancasila dan Indonesia dibawa ke paradigma ekstrem, maka berlawanan dengan hakikat Pancasila dan Keindonesiaan yang diletakkan oleh para pendiri negara. Siapapun yang membenturkan Pancasila dengan agama dan elemen penting keindonesiaan lainnya pasti ahistoris dan melawan ideologi dasar dan nilai fundamental yang hidup di bumi Indonesia. Jika ingin Indonesia moderat maka jangan biarkan kehidupan keagamaan dan kebangsaan disandera oleh sangkar-besi paradigma dunia ekstrem! 

Tulisan ini telah dimuat di halaman Republika pada Sabtu (22/2)

MUSYPIMDA PDM KOTA SEMARANG

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang menjelang Muktamar ke 48 di Solo tahun 2020 akan menyelenggarakan Musyawarah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang yang akan diselenggarakan di Aula Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang Lantai 7 pada hari Sabtu tanggal 22 Pebruari 2020 dimulai pukul 07.30 sampai dengan selesai.

Kegiatan akan diikuti oleh seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah : Anggota Pleno PDM, Ketua dan Sekretaris Lembaga/ Majelis PDM Kota Semarang, Ortom, Ketua PCM dan 3 perwakilan dari PCM seluruh Kota Semarang.

Berdasarkan Anggaran Rumat Tangga (ART) Muhammadiyah ayat 28 menyebutkan bahwa Musypim dihadiri oleh Anggota Pimpinan Daerah yang telah disahkan oleh Pimpinan Wilayah , Ketua PCM, wakil Cabang 3 orang, 2 orang wakil Ortom tingkat Daerah, dan 2 orang (Ketua dan Sekretaris ) unsur pembantu pimpinan masing-masing serta undangan khusus.

Salah satu agenda yang di bahas adalah persiapan Jelang Muktamar, penentuan peserta Muktamar dan lain. (edp.mpi)

1

MUHAMMADIYAH DAN SALAFI : SERUPA TAPI TAK SAMA, INI BEDANYA

PWMU.CO – Banyak yang tidak bisa membedakan antara Muhammadiyah dan Salafiyah atau Wahabiyah. Tulisan ini berupaya memberi gambaran tentang persimpangan antara Muhammadiyah dan Salafi Wahabi.

Meskipun sama-sama mengusung jargon ar-ruju ila al-Quran wa al-Sunnah, paradigma dan metode pemahaman terhadap teks keagamaan tersebut tidaklah sama.

SEJARAH SINGKAT SALAFI

Secara geneologis, Salafi Wahabi berakar pada Ahmad Ibn Hanbal, seorang imam mazhab yang juga ahlu hadits. Paradigmanya adalah meneliti hadits—sanad dan matannya.

Hadits atau sunnah Nabi tersebut diikuti secara literal. Legitimasinya adalah al-Ahzab ayat 21 yang menyatakan bahwa Rasulullah adalah sosok uswah hasanah. Jika dilakukan nabi, maka diikuti (ittiba’) secara apa adanya. Demikian sebaliknya. Salaf dimaksudkan sebagai orang-orang yang mendahului sebelum kita, yaitu para Sahabat dan Thabi’in.

Pola pemikiran ahlu hadits ini di kemudian hari diteruskan oleh Ibnu Taimiyah dan dikembangkan secara lebih luas oleh Muhammad Ibn Wahab.

Ibnu Wahab menggunakan metode ahlu hadist dengan penekanan pada aspek tauhid (akidah) dan melahirkan paham agama yang kaku. Ada yang menyebut bahwa Salafi Wahabi mengikuti Imam Ahmad dalam bidang fikih dan mengikuti Ibnu Taimiyah dalam bidang akidah.

Ajaran Ibn Wahab yang bersinggungan dengan Ibn Sa’ud menghasilkan dakwah yang keras. Perilaku takhayul, bid’ah, dan khurafat dilawan secara keras. Makam dan situs sejarah banyak dihancurkan secara paksa. Ibn Wahab sebagai syeikh dan Ibn Sa’ud sebagai amir berperan penting bagi Arab Saudi modern.

SALAFI WAHABI DI INDONESIA

Fenomena dakwah Salafi modern di Indonesia terutama sejak era 1980-an dipelopori lulusan LIPIA Jakarta dan perguruan atau ma’had di Saudi Arabia, Yordan, dan Yaman.

Mereka menyebarkan dakwah di tengah masyarakat, pesantren, dan kampus, melalui forum pengajian. Mereka juga eksis melalui Majalah As Sunnah dan Majalah Al-Furqon. Mereka mengklaim Salafi sebagai kegiatan dakwah, bukan organisasi.

Jaringan Salafi di Indonesia beragam, dan tergantung pada ulama Timur Tengah yang dijadikan rujukan. Semisal ketika Syeikh Yahya al-Hajuri (menantu sekaligus pengganti Syeikh Muqbil di Dar al-Hadis) terlibat perselisihan dengan Syeikh Rabi’ al-Madkhali, berdampak pada perselisihan pengikutnya di Indonesia.

Pada mulanya, tokoh Salafi tersebut merupakan kolega, namun seiring waktu, perselisihan doktrinal di antara mereka menjadi permasalahan serius hingga terfragmentasi menjadi beberapa faksi.

Masing-masing faksi mengklaim sebagai yang paling selamat dan berjalan di atas manhaj salaf, sebagai firqah najiyah, dan thaifah mansurah. Perselisihan di antara mereka sering membingungkan publik.

FAKSI-FAKSI SALAFI

Gerakan Salafi di Indonesia umumnya bercorak Salafi Yamani dengan ma’had dan lembaga yang dirintisnya. Salafi Yamani tegas terhadap kelompok Islam yang dianggap menyimpang dari manhaj salaf dengan mengambil parameter fatwa Syaikh Rabi’ al-Madkhali dan Muqbil al-Wadi’i. Mereka misalkan menyebut Yusuf Qardhawi sebagai musuh Islam.

Salafi Yamani di Indonesia dipimpin oleh Muhammad Umar as-Sewed dan Luqman Ba’abduh, serta alumni Dar al-Hadis Dammaj, Yaman.

Para penggerak dakwahnya adalah Ja’far Umar Thalib (FKAW/Laskar Jihad), Yusuf Baisa (Ma’had al-Irsyad, Tengaran, Semarang), Abu Nida’ Khamsaha (Ma’had Bin Baz Yogyakarta).

Juga Yazid Abdul Jawwaz (Bogor), Ahmad Fais Asifuddin (Ma’had Imam Bukhari, Surakarta), Aunur Rafiq Ghufron (Ma’had al-Furqan, Gresik), dan Abdurrahman al-Tamimi (Ma’had Al-Irsyad, Surabaya).

PERBEDAAN MUHAMMADIYAH DAN SALAFI

Tulisan ini akan menunjukkan perbedaan mendasar antara Muhammadiyah dan Salafi Wahabi. Muhammadiyah mengedepankan sikap moderat dalam paham keagamaan. Islam yang mengandung nilai-nilai kemajuan tidak harus diformalisasi dalam bentuk negara Islam, namun diaktualkan nilai ajarannya dalam semua bidang kehidupan.
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid menggunakan manhaj tersendiri.

Muhammadiyah merupakan perpaduan banyak gagasan besar, mulai dari Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, hingga Ibn Wahab, yang diramu oleh KH Ahmad Dahlan dan para penerusnya.

Muhammadiyah melakukan purifikasi pada aspek akidah dan ibadah mahdhah, sementara dalam aspek muamalah melakukan modernisasi atau dinaminasi.

Muhammadiyah selain sebagai gerakan purifikasi, juga merupakan gerakan pembaharuan. Wahabi penekanannya pada purifikasi tanpa rasionalisasi.

Dalam hal rujukan pada sumber ajaran Islam, al-Quran dan as-Sunnah, Muhammadiyah memahami dengan menggunakan akal pikiran yang sesuai dengan jiwa ajaran Islam. Sementara Salafi memahaminya secara literal.

Muhammadiyah menerima kemajuan dan kemoderenan serta melakukan modernisasi dalam bidang muamalah. Salafi menolak modernisasi, tapi menerima produk teknologi. Muhammadiyah tidak menjadikan Barat sebagai musuh, namun sebagai pemacu untuk berfastabiqul khairat.

SOAL BUDAYA, BEDA MUHAMMADIYAH DAN SALAFI

Muhammadiyah menerima budaya Barat jika sesuai dengan ajaran Islam dan menolak yang tidak sesuai. Salafi menolak budaya Barat, meskipun dalam realitas juga menirunya.

Muhammadiyah menerima budaya lokal dan melakukan islamisasi terhadap budaya lokal yang tidak sesuai nilai Islam. Salafi menolak budaya lokal dan mengacu pada budaya Arab masa Nabi yang tergambar dalam hadis.

Muhammadiyah berdakwah kepada Muslim dan non-Muslim. Kepada objek non-Muslim, didakwahi agar mengerti Islam. Kepada objek Muslim didakwahi agar menjadi muslim ideal yang lebih baik. Pendekatannya dengan prinsip hikmah, edukasi, dan dialog. Salafi berdakwah kepada muslim saja agar menjadi Muslim ideal yang bermanhaj salaf. Adapun non-Muslim dipandang kafir.

Muhammadiyah melakukan amar makruf nahi munkar secara individual dan kelembagaan. Secara individual dilakukan melalui pengajian, kultum, dan tabligh. Secara kelembagaan dilakukan secara sistematis melalui AUM (amal usaha Muhamamdiyah) dan filantropi pemberdayaan masyarakat.

Salafi melakukannya dengan tahzir (memperingatkan) dan hajr al-mubtadi’ (mengisolasi atau menyingkirkan pelaku bid’ah).

HUBUNGAN DENGAN NKRI

Muhammadiyah turut mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memperjuangkan agar NKRI menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Salafi Yamani patuh pada pemerintah NKRI, tetapi pasif. Salafi haraki dan jihadi menyimpan harapan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam.

Muhammadiyah memandang Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahdi wa al-Syahadah, tinggal mengisinya agar sesuai dengan ajaran Islam. Salafi Yamani berprinsip apolitik, tetapi mengidolakan kehidupan berbangsa seperti zaman Nabi. Salafi haraki dan jihadi memperjuangkan terbentuknya negara Islam dan pemberlakukan hukum syariah.

Muhammadiyah berpandangan bahwa akal adalah perangkat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia untuk bisa survive. Akal berfungsi untuk memahami alam semesta dan teks keagamaan.

Muhammadiyah menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani dalam memahami al-Quran dan al-Sunnah. Teks keagamaan tersebut dipahami dengan menggunakan akal, karena Islam diturunkan untuk semua umat manusia dengan berbagai latar budaya dan peradaban yang berbeda.

Salafi mengabaikan peran akal dalam menafsirkan teks keagamaan. Bagi mereka, kebenaran itu tunggal dan hanya terletak dalam wahyu. Wahyu adalah sumber yang tidak bisa diperselisihkan, dan respons manusia terhadap wahyu terbelah menjadi taat dan ingkar.

Muhammadiyah berpandangan bahwa rasionalitas dan pengembangan ilmu-ilmu sosial humaniora diperlukan untuk memahami teks dan untuk membangun peradaban manusia yang maslahah dan islami. Salafi mengharamkan filsafat dan tasawuf.

BEBERAPA PERBEDAAN HUKUM

Menurut Muhammadiyah, perempuan memiliki peran domestik dan publik. Perempuan boleh menjadi pemimpin atau pejabat publik jika memiliki kapasitas, serta boleh bepergian tanpa mahram bila keadaan aman dan terjaga dari fitnah.

Muhammadiyah bahkan memfasilitasi perempuan untuk berorganisasi melalui Aisyiyah. Menurut Salafi, peran perempuan adalah di sektor domestik. Adapun sektor publik diperuntukkan bagi laki-laki. Perempuan bepergian harus selalu didampingi mahram.

Muhammadiyah memandang perempuan sebagaimana laki-laki, harus mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya di semua bidang ilmu. Menurut Salafi, perempuan perlu mendapatkan pendidikan yang baik terutama bidang keagamaan dan bidang yang menopang peran domestiknya.

Muhammadiyah mendukung prinsip pernikahan monogami untuk menciptakan keluarga sakinah, walaupun tidak mengharamkan praktik poligami. Salafi mendukung poligami, meskipun membolehkan monogami.

CARA BERPAKAIAN YANG BEDA

Bagi Muhammadiyah, berpakaian yang penting adalah menutup aurat. Boleh memakai pakaian tradisional, lokal, Arab ataupun Barat. Bisa berbentuk batik, sarung, peci, jas, celana panjang, kebaya, dan sejenisnya.

Cara berpakaian Salafi membiasakan empat identitas: jalabiya (baju panjang terusan atau jubah), tidak isbal (celana di atas mata kaki), lihya (memelihara jenggot), dan niqab (memakai cadar bagi perempuan).

Bidang seni semisal aktivitas bermusik, bernyanyi, bermain drama, teater, menurut Muhammadiyah bisa menjadi media dakwah Islam. Objek dakwah perlu didekati dengan berbagai pendekatan, termasuk seni.

Bagi Salafi, seni adalah bid’ah dan haram. Menonton TV, bermusik, dan hiburan adalah terlarang.

Dalam hal penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri, menurut Muhammadiyah, metodenya menggunakan ilmu hisab. Salafi menggunakan metode rukyat dan untuk penentuan Idul Adha mengikuti ketentuan wukuf di Arafah di Saudi Arabia.

Muhammadiyah membolehkan zakat fitrah dengan menggunakan uang dalam keadaan tertentu. Menurut Salafi, zakat fitrah harus berbentuk makanan pokok. Muhammadiyah berpandangan bahwa zakat bisa diberikan ke panitia pembangunan masjid dan kesejahteraan umum lainnya. Menurut Salafi, zakat harus diberikan kepada delapan asnaf.

Dalam hal peringatan maulid Nabi, Muhammadiyah memandang bahwa jika membawa mashlahat dan dilakukan dengan cara yang makruf, peringatan maulid boleh dilakukan. Maulid termasuk bidang muamalah. Menurut Salafi, peringatan maulid nabi mutlak haram. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni. Artikel ini telah dimuat Majalah Matan Edis 162 Januari 2020.

Sumber : www.pwmu.co

Cara menuju ke Arena Muktamar 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Solo pakai Bus Umum

Pelaksanaan Muktamar 48 Muhammmadiyah dan Aisyiyah yang seperti kita ketahui akan digelar di Surakarta, tepatnya di Kompleks Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 1-5 Juli 2020. Kampus UMS berada di Jalan Ahmad Yani, Mendungan, Pabelan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.

Bagi para muktamirin dan penggembira muktamar yang akan ke kampus UMS sangat mudah dijangkau dengan berbagai transportasi, baik pribadi ataupun umum.

Berikut redaksi MentariNews.Com diambil dari berbagai sumber, akan mencoba memaparkan cara para muktamirin dan penggembira yang akan menuju Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan menggunakan kendaraan Bus Umum.

Dari arah Jogja

Muktamirin dan penggembira yang berasal dari arah Jogja ataupun isa naik bus umum jurusan Solo Jogja dan minta turun di Kampus UMS.

Dari arah Semarang

Dapat naik bus jurusan Semarang-Solo, kemudian minta turun di depan kampus UMS.

Dari arah Sragen

Dapat naik bus jurusan Surabaya-Solo, kemudian turun di Terminal Tirtonadi Solo lalu disambung naik bus atau angkot jurusan ke Kartasura dan turun di depan Kampus UMS.

Dari arah Purwodadi

Dapat naik bus jurusan Purwodadi-Solo turun di Terminal Tirtonadi, kemudian naik bus atau angkot jurusan Solo-Boyolali dan minta turun di depan Kampus UMS.

Dari arah Wonogiri

Naik bus Wonogiri-Solo, minta turun di pertigaan kerten, kemudoan naik bus atau angkot jurusan Kartasura, lalu minta turun di depan kampus UMS.

Demikian info menuju ke venue atau tempat acara Muktamar 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah yang 1-5 Juli 2020 akan dilaksanakan di kompleks Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sumber : MentariNews.Com

Negara Pancasila : Dar Al-Ahdi Wa Al Syahadah

Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah telah diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke 47 pada 3-7 Agustus 2015 di Makassar.

“Darul ahdi artinya negara tempat kita melakukan konsensus nasional. Negara kita berdiri karena seluruh kemajemukan bangsa, golongan, daerah, kekuatan politik, sepakat untuk mendirikan Indonesia. Kita ingin mengembalikan ke sana,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Rabu (24/5).

“Kalau darul syahadah artinya negara tempat kita mengisi. Jadi setelah kita punya Indonesia yang merdeka, maka seluruh elemen bangsa harus mengisi bangsa ini menjadi Negara yang maju, makmur, adil bermartabat,” sambung Haedar.

Haedar mengatakan, saat ini ramai dibicarakan soal kecenderungan separatis, radikalis, dan penyimpangan di berbagai daerah di Indonesia. Muhammadiyah ingin kembali meluruskan kiblat bangsa.

“Kita ingin mengajak seluruh elemen bangsa untuk berpijaklah pada prinsip dasar bahwa Negara ini milik kita bersama, dan Negara ini harus kita bangun, kita selamatkan, tak boleh kita rusak,” ujarnya.

Haedar mengatakan Pancasila yang menjadi dasar Negara ini sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa menjaga konsep tersebut, agar Indonesia menjadi Negara yang diampuni Tuhan.

“Ini sebuah draf penting, jihad kebangsaan,” pungkas Haedar.

Pada pengantar PP Muhammadiyah dalam buku konsep “Negara Pancasila: Darul Ahdi Wa Syahadah” terbitan PP Muhammadiyah, disebutkan bahwa konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah didasarkan pada pemikiran-pemikiran resmi yang selama ini telah menjadi pedoman dan rujukan organisasi seperti Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Kepribadian Muhammadiyah, Khittah-khittah Muhammadiyah, Membangun visi dan Karakter Bangsa, serta hasil Tanwir Muhammadiyah di Bandung tahun 2012 dan Tanwir Samarinda tahun 2014.

Pemikiran tentang Negara Pancasila itu dimaksudkan untuk menadi rujukan dan orientasi pemikiran serta tindakan bagi seluruh anggota Muhammadiyah dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara secara kontekstual berdasarkan pandangan Islam Berkemajuan yang selama ini menjadi perspektif ke-Islaman Muhammadiyah.

Warga Muhammadiyah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya sebagai kekuatan mayoritas diharapkan mampu mengisi dan membangun Negara Pancasila yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasar Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai negeri dan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat sejalan dengan cita-cita Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. (dzar)

sumber : Suara Muhammadiyah / muhammadiyah.or.id

WUJUDKAN DAKWAH RAHMATAN LIL ALAMIN

Bangunan bergaya rumah tradisional Jawa Tengah, dengan halaman yang cukup luas itu sekilas mirip dengan tempat tinggal pribadi. Itulah bangunan sekolah TK ABA 54 Ngaliyan Kota Semarang, yang diresmikan setahun yang lalu. Di sisi sebelah kanan berdiri bangunan gedung berlantai dua yang dipisahkan oleh halaman. Gedung ini dipergunakan sebagai kantor PCM serta PCA Ngaliyan.

Di rumah tradisional inilah pertama kalinya dilaksanakan pengajian Ahad pagi PCM Ngaliyan, pada hari Ahad (22/09/19) kemarin. Sebelumnya pengajian dilaksanakan di masjid Ulul Albab, yang terletak di komplek Akademi Ilmu Statistika (AIS) Muhammadiyah. Karena  pertimbangan agar syiar dakwah menyebar lebih luas, kemudian pelaksanaan pengajian Ahad pagi mulai saat itu dipindahkan ke tempat tersebut.

Tempat tersebut lebih representative, dengan bangunan baru yang mampu menampung jumlah jamaah lebih banyak dan tempat parkir yang lebih luas. Sedikit kekurangannya adalah lokasi sekolah yang berada di perkampungan, sehingga untuk mencapainya harus melalui jalan kampung. Namun kekurangan itu tidak menjadikan surutnya semangat jamaah untuk mendatangi tempat tersebut.

Pengajian di sampaikan oleh ustadz Drs. H. Danusiri, M.  Ag pengajar senior di UIN Walisongo, yang juga salah satu ketua PDM Kota Semarang.  Beliau memberikan tausiyah tentang amanah. Dimana setiap jiwa yang lahir ke dunia ini sudah membawa amanah. Untuk itulah dalam kehidupan manusia harus menjalankan amanah dengan cara menjalankan rukun iman dan rukun Islam dengan baik dan benar.

Setelah selesai pengajian tersebut dilaksanakan juga santunan kepada 20 orang siswa TK ABA 31, TK Pembina ABA 54, MI Muhammadiyah Wonosari dan anak warga sekitar yang disampaikan oleh ketua PCM Ngaliyan, H. Anas Hamzah. Dalam pesan singkatnya Ketua PCM Ngaliyan mengharapkan agar anak-anak mempunyai cita-cita yang tinggi dan belajar dengan baik agar cita-citanya tercapai. Dia menyampaikan bahwa bantuan yang diterimakan adalah hasil pengumpulan infaq dan shadaqah dari jamaah dibawah koordinasi Kantor Layanan Lazismu PCM Ngaliyan. Untuk itu dirinya menyampaikan terimakasih atas kepercayaan muzaki menyampaikan infaq dan zakatnya melalui Lazismu KL Ngaliyan.

Anas Hamzah juga menyampaikan bahwa PCM Ngaliyan sangat mendukung terhadap operasional Lazismu KL Ngaliyan, dengan di angkatnya seorang eksekutif Agung Arifianto, agar siap melayani muzaki di seluruh wilayah teritori kecamatan Ngaliyan. Karena dana ZIS sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan dakwah di masyarakat.

Pada kesempatan itu juga dilaksanakan penggalangan dana kemanusiaan untuk membantu korban kebakaran yang melanda beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan. Agung menyampaikan bahwa penggalangan pagi itu mendapatkan dana sebesar 2 juta an rupiah, dan masih akan berlanjut hingga tanggal 4 Oktober, bulan depan. Dirinya juga memberi kesempatan amal kepada jamaah dengan membagikan kaleng infaq untuk dibawa pulang kerumah, agar memudahkan jamaah dalam berinfaq.

Pada kesempatan itu juga dilaksanakan cek-up kesehatan dan pengobatan oleh tim medis RS Roemani Semarang, bekerjasama dengan KL Lazismu guna memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tanpa dipungut biaya. Pelayanan sepeti inilah yang diharapkan oleh Anas Hamzah pada setiap kesempatan pengajian, “pengajian disertai tasharuf dan bakti social, untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin”, demikian tutup Anas Hamzah.

Pada kesempatan itu juga dilaksanakan cek-up kesehatan dan pengobatan oleh tim medis RS Roemani Semarang, bekerjasama dengan KL Lazismu guna memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tanpa dipungut biaya. Pelayanan sepeti inilah yang diharapkan oleh Anas Hamzah pada setiap kesempatan pengajian, “pengajian disertai tasharuf dan bakti social, untuk mewujudkan Islam rahmatan lil alamin”, demikian tutup Anas Hamzah.

1
2
3
4
5

PERLUNYA UPGRADING KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan menjadi salah satu titik perhatian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang. Untuk menciptakan kepemimpinan yang efektif dalam mengemban tugas dakwah, PDM melaksanakan kegiatan upgrading. Kegiatan berlangsung pada hari Sabtu (7/9/19) di Tlogo Resort, Tuntang, Semarang. Di ikuti oleh sekitar seratus orang, terdiri dari unsur pimpinan daerah, pimpinan cabang, amal usaha serta organisasi otonom (Ortom) di jajaran Muhammadiyah kota Semarang.

Dalam kegiatan yang berlangsung mulai jam 09.00 itu, dibuka oleh Badan Kesbangpol Pemkot Semarang, di dampingi oleh ketua PDM, Fachrur Rozi. Sebagai pemateri menghadirkan 3 orang pembicara, pertama dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, H. Tafsir, kemudian seorang motivator Agus Siswanto dan seorang budayawan Pri GS.

Dalam kesempatan itu PWM Jateng, H. Tafsir menyampaikan tentang model kepemimpinan di Muhammadiyah. Beberapa pokoknya adalah : 1) Tidak ada perlakuan istimewa terhadap pemimpin organisasi dan pemimpin keagamaan, bersifat egaliter. 2) Tidak ada otoritas penuh pada satu orang pimpinan, keputusan diambil bersama-sama dalam rapat pleno pimpinan. 3) Tidak ada hitungan gaji, karena memimpin adalah melaksanakan kekuasaan dakwah sebagai wujud pengabdian/ibadah kepada Allah yang maha kuasa.

Pesan dari seorang motivator kepemimpinan yang sudah ternama di Jawa Tengah, Agus Siswanto dalam ceramahnya menyampaikan bahwa pemimpin harus mampu membawa organisasinya menjadi lebih baik dan berusaha keras mencapai kehebatan. Karena di zaman ini baik saja tidak cukup, semestinya menjadi hebat. Untuk itu pemimpin harus : 1) Memahami karakteristik dan menguasai medan tugasnya. 2) Kinerja melampaui target yang telah ditentukan. 3) Memiliki tujuan yang pasti dan tahu jalan yang benar. 4) Memberi inspirasi bagi konstituennya.

Sementara itu seorang budayawan senior Semarang yang sering menjadi pembicara nasional, Pri GS memberikan pesan kepada peserta : 1) Pemimpin harus mempunyai visi jauh ke depan untuk menjamin keberlangsungan organisasi . 2) Pemimpin harus mampu membaca situasi sedetail mungkin dan menerjemahkan dalam tindakan yang tepat.

Ketua PDM, Fachrur Rozi, sebagai penyelenggara kegiatan tersebut menyampaikan bahwa upgrading bertujuan untuk meningkatkan kinerja dakwah di semua tingkatan. Pertama kali dilaksanakan tahun 2017, dan saat ini untuk yang kedua kalinya. Dirinya menyampaikan terimakasih kepada pemkot, karena program persyarikatan ini didukung sepenuhnya oleh pemkot Semarang. Lebih lanjut Fahrur menyampaikan bahwa kegiatan dakwah bisa berkembang apabila didukung dengan pendanaan yang cukup. Untuk itu dirinya menganggap penting bagi semua cabang, ranting, AUM dan ortom untuk mempersiapkan dana bekerjasama dengan Lazismu sebagai organisasi pengelola zakat yang resmi di persyaraikatan.

Menyinggung tentang perkembangan dakwah di PDM Kota Semarang, Fahrur menyampaikan bahwa perkembangannya cukup bagus, pengajian dilaksanakan di semua tingkatan, mulai daerah, cabang, ranting, AUM dan ortom semua ada. Meskipun intensitasnya berbeda-beda, ada yang mingguan, bulanan, selapanan dan sebagainya. Untuk memperbaiki kinerja dakwah secara keseluruhan, dirinya memandang masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan menjelang datangnya muktamar yang direncanakan digelar tahun depan. (Hasan)

1

PELATIHAN PENYEMBELIHAN HALAL

Dalam rangkaian kegiatan memeriahkan hari raya Idul Adha 1440 H dengan tema Qurban Untuk Kemanusiaan, Lazismu kota Semarang pada hari ini, Sabtu (3 Agustus 2019) memulai acara dengan kegiatan Pelatihan Penyembelihan Halal. Pelatihan dimaksudkan untuk memberikan informasi yang benar tentang proses penyembelihan sesuai aturan syariat Islam. Dalam hal ini salah satu point kuncinya adalah bagaimana melaksanakan proses penyembelihan agar menghasilkan makanan halal dan proses tersebut tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Pelatihan ini melibatkan dua unsur narasumber, pertama dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, membawakan materi tentang penyembelihan yang halal dari sisi syar’i. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan bilah pisau yang benar, serta praktek menyembelih dan menguliti secara efektif, yang dibawakan oleh komunitas Juleha (juru sembelih halal).

Antusiasme peserta bisa dirasakan dari keterlaksanaan kegiatan yang semestinya dijadwalkan selesai jam 13.00, namun masih berlanjut dalam diskusi informal hingga jam 14.00. Panitia penyelenggara merasakan hasil jerih payah mempersiapkan acara ini tidak sia-sia. Kegiatan yang ditawarkan kepada masyarakat ini ternyata sangat dibutuhkan oleh kalangan tertentu, dalam hal ini juru sembelih, demikian komentar Arga Dahana, ketua panitia acara. Kepanitiaan bersama dalam acara ini, Lazismu Kota Semarang melibatkan personil kantor layanan ZIS di tingkat cabang (PCM) guna menjalin koordinasi yang efektif antar KL di lingkungan kerja Lazismu.

Rangkaian acara berikutnya adalah pelaksanaan ibadah shalat idul adha. Pelaksanaan shalat ini diselenggarakan di masing masing tempat konsentrasi jamaah. Ada yang terkonsentrasi di masjid, sekolah maupun di majelis pengajian di masyarkat. Pada saat pelaksanaan shalat hari raya ini, Lazismu menekankan agar di semua lokasi jamaah, KL Lazismu harus aktif memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh jamaah yang sudah mempunyai niat infaq & shadaqah. Pelayanan tidak terbatas pada safari kotak kardus, namun kantor layanan sudah saatnya mempersiapkan personil yang siap melayani secara fisik dilengkapi dengan meja dan peralatan memadai, didukung dengan alat promosi yang standard.

Tasyrik hari pertama Lazismu Kota Semarang melaksanakan penyembelihan hewan qurban di desa binaan Rowosari, Tembalang. Di musim kemarau seperti sekarang ini, Rowosari adalah salah satu titik rawan kekurangan air bersih. Suplai air ke jaringan pipa PDAM sudah mengalami penyusutan, hingga pelayanan air bersih di Rowosari di lakukan dengan cara droping menggunakan tangki. Beruntungnya masyarakat Rowosari masih mempunyai cadangan air sungai Gede, hingga tiap hari banyak warga yang memanfaatkan air sungai ini untuk mandi dan mencuci pakaian.

Tasyrik hari kedua direncanakan untuk pelaksanaan penyembelihan qurban di desa Getasan  kabupaten Semarang bersama Lazismu Jawa Tengah. Desa ini menjadi obyek pemberdayaan untuk memperkuat system dakwah di masyarakat pedesaan serta membangun ekonomi dan aqidah di kawasan 3T (terluar, terbelakang, tertinggal). Sudah disiapkan satu ekor sapi qurban, disertai bakti social pelayanan kesehatan, bagi sembako dan school kit.

Masih ada satu tugas penting Lazismu untuk dilaksanakan, yaitu pendataan qurban. Agar ibadah qurban bisa dijadikan sarana dakwah yang efektif, maka harus didukung dengan data yang detail dan valid. Untuk itulah maka Lazismu harus mempersiapkan SDM dan peralatan pendukung yang berhubungan dengan persiapan pendataan. Kesadaran akan pentingnya data perlu dibangun di semua lapisan masyarakat. Terutama yang terkait dengan kebutuhan dakwah, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan semua sendi penting di masyarakat. (Hasan)

1
2
3
4
5