Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Berhenti Menuntut Sempurna: Mengapa Islam Melarang Kita Terlalu Keras pada Diri Sendiri?

27 Januari 2026, 18:52 WIB • 2 menit baca
Sebuah ilustrasi surealis yang menampilkan sosok manusia bercahaya berdiri di tengah gerbang cermin di sebuah lembah bunga yang indah. Di langit terdapat dua tangan raksasa yang terbuka menyambut di antara awan melingkar, dengan latar belakang matahari terbenam yang hangat dan pegunungan yang tenang.
Menghargai diri sebagai amanah: Ilustrasi ini menggambarkan prinsip Wasathiyah atau jalan tengah, di mana manusia memberikan hak bagi jiwa dan raganya untuk beristirahat. Islam melarang sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan mengajak umatnya untuk mempraktikkan self-compassion sebagai bentuk syukur atas titipan Allah SWT.

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Dalam dunia yang serba cepat ini, banyak orang merasa terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Kita sering memaksa diri untuk terus berlari, bekerja tanpa henti, dan merasa berdosa saat rasa lelah tiba. Namun, tahukah Anda bahwa Islam justru melarang kita untuk bersikap melampaui batas, termasuk terhadap diri kita sendiri?

Islam memandang diri manusia sebagai amanah. Maka, memaksakan diri hingga kelelahan mental bukan hanya menyakitkan secara emosional, tetapi juga mencederai amanah yang Allah titipkan.

Islam Mengakui Rasa Lelah sebagai Fitrah

Agama kita tidak pernah meminta pemeluknya untuk menjadi robot yang tak punya rasa capek. Justru, Islam sangat menghargai jeda. Rasulullah SAW melalui lisan para sahabatnya sering kali mengingatkan agar kita memberikan hak bagi setiap bagian tubuh dan jiwa kita.

Dilansir dari Hadits Riwayat Bukhari (No. 1975), Rasulullah SAW menegaskan keseimbangan hidup kepada Abdullah bin Amr dengan bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu, matamu memiliki hak atas dirimu, dan jiwamu pun memiliki hak atas dirimu.”

Pesan ini sangat jelas: tubuh dan jiwa kita bukan milik kita sepenuhnya untuk dieksploitasi, melainkan titipan yang perlu kita rawat dengan porsi istirahat yang cukup.

Menghindari Sikap Ghuluw (Berlebih-lebihan)

Sikap terlalu keras pada diri sendiri, baik dalam urusan dunia maupun ibadah, sering kali berujung pada kelelahan mental (burnout). Islam menyebut sikap berlebih-lebihan ini sebagai ghuluw.

Alih-alih membawa kita lebih dekat kepada Allah, sikap kaku dan keras pada diri sendiri justru sering kali membuat seseorang merasa jauh dan putus asa.

Melansir dari dokumen Risalah Islam Berkemajuan yang diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48, Islam ditekankan sebagai agama Wasathiyah (tengah-tengah).

Prinsip ini mengajak umat untuk tidak ekstrem, termasuk tidak ekstrem dalam menuntut kesempurnaan diri yang akhirnya merusak kesehatan batin.

Memberi Ruang untuk Beristirahat

Saat Anda merasa lelah, hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah menerimanya sebagai sinyal fitrah. Beristirahat bukanlah tanda kelemahan iman.

Justru, dengan beristirahat, Anda sedang mengumpulkan energi untuk kembali beribadah dan berkarya dengan lebih baik.

Alih-alih terus mencambuk diri dengan kritik negatif, cobalah untuk mempraktikkan self-compassion (belas kasih pada diri sendiri) yang sejalan dengan sifat Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Jika Allah saja Maha Pengampun dan Maha Lembut kepada hamba-Nya, mengapa kita begitu keras dan kasar terhadap diri Anda sendiri?

Kontributor: Tim Redaksi
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: