Memuliakan Manusia: Resep Abdul Mu’ti untuk Sekolah Muhammadiyah yang Unggul
Banyuwangi, muhammadiyahsemarangkota.org — Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah seni memuliakan martabat manusia di hadapan Sang Pencipta. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menekankan filosofi mendalam ini saat menyapa pengelola sekolah di Banyuwangi, Rabu (6/5/2026). Sang menteri mengajak para pendidik untuk menyentuh fitrah setiap siswa dengan penuh ketulusan dan kasih sayang yang tulus.
Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, pertemuan hangat di Hotel Ketapang Indah ini menjadi momentum refleksi bagi sepuluh kepala sekolah terpilih. Abdul Mu’ti hadir bersama Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah untuk merumuskan langkah besar pendidikan di daerah tersebut. Tokoh pendidikan ini percaya bahwa sekolah yang hebat lahir dari komitmen kuat para pengelolanya dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Pendidikan merupakan proses menemukan dan mengembangkan fitrah manusia. Inti pendidikan adalah memuliakan manusia, dan sekolah Muhammadiyah harus terus menjaga komitmen tersebut,” tegas Abdul Mu’ti.
Tiga Pilar Utama Menuju Sekolah Profesional dan Adaptif
Sosok menteri yang juga sekretaris umum Muhammadiyah ini memaparkan tiga pilar penting untuk mendukung kemajuan sekolah Muhammadiyah. Pilar pertama menyangkut tata kelola konflik yang harus pengelola hadapi secara dewasa dan profesional. Perbedaan pendapat merupakan hal wajar, namun jangan sampai menghambat pertumbuhan lembaga pendidikan itu sendiri.
Selanjutnya, pilar kedua menekankan pentingnya menjauhi segala bentuk praktik korupsi di lingkungan sekolah. Tindakan tidak terpuji tersebut dapat merusak kepercayaan masyarakat dan melemahkan seluruh sistem pendidikan yang ada. Integritas menjadi harga mati bagi setiap pengelola agar lembaga tetap berdiri tegak sebagai pilar moral bangsa.
“Jika tidak dikelola dengan baik, konflik atau perbedaan dapat menghambat kemajuan lembaga,” ujar Abdul Mu’ti mengingatkan para kepala sekolah.
Sikap Terbuka Sebagai Kunci Inovasi Pendidikan
Pilar ketiga yang menjadi sorotan adalah pentingnya keterbukaan terhadap kritik, saran, serta inovasi global. Sikap menutup diri hanya akan membuat lembaga pendidikan tertinggal dari perkembangan zaman yang sangat cepat. Sekolah harus terus bertransformasi menjadi wadah yang adaptif dan inklusif bagi seluruh perkembangan teknologi serta metode pembelajaran terbaru.
Penerapan ketiga prinsip ini akan memastikan sekolah tumbuh secara sehat dan mandiri di masa depan. Abdul Mu’ti optimis bahwa sekolah Muhammadiyah di Banyuwangi mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal profesionalisme. Semangat ini diharapkan terus membara di dada setiap guru dan kepala sekolah demi mencetak generasi unggul.
“Lembaga pendidikan Muhammadiyah akan tumbuh secara sehat, profesional, dan adaptif jika tiga hal ini menjadi pegangan bersama,” pungkas Abdul Mu’ti dengan optimis.