Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Memuliakan Manusia: Resep Abdul Mu’ti untuk Sekolah Muhammadiyah yang Unggul

7 Mei 2026, 12:17 WIB • 2 menit baca
Foto Abdul Mu’ti sedang berdiri mengenakan baju batik lengan panjang bermotif dominan biru tua dan peci hitam. Beliau tampak sedang memberikan paparan dengan memegang mikrofon di tangan kiri dan tangan kanan yang terbuka menunjukkan gestur penjelasan. Di latar belakang, terdapat spanduk atau baliho besar yang menampilkan foto beliau dan tulisan nama serta gelar akademis. Di bagian depan, terlihat bagian belakang kepala beberapa jemaah atau peserta yang sedang menyimak materi secara khidmat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, saat memberikan arahan strategis di hadapan para kepala sekolah di Banyuwangi (6/5/2026). Beliau menekankan bahwa inti dari sekolah Muhammadiyah unggul adalah komitmen pendidik dalam mengembangkan fitrah siswa serta menjaga integritas tata kelola lembaga secara profesional.

Banyuwangi, muhammadiyahsemarangkota.org — Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah seni memuliakan martabat manusia di hadapan Sang Pencipta. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menekankan filosofi mendalam ini saat menyapa pengelola sekolah di Banyuwangi, Rabu (6/5/2026). Sang menteri mengajak para pendidik untuk menyentuh fitrah setiap siswa dengan penuh ketulusan dan kasih sayang yang tulus.

Dilansir dari laman muhammadiyah.or.id, pertemuan hangat di Hotel Ketapang Indah ini menjadi momentum refleksi bagi sepuluh kepala sekolah terpilih. Abdul Mu’ti hadir bersama Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah untuk merumuskan langkah besar pendidikan di daerah tersebut. Tokoh pendidikan ini percaya bahwa sekolah yang hebat lahir dari komitmen kuat para pengelolanya dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

“Pendidikan merupakan proses menemukan dan mengembangkan fitrah manusia. Inti pendidikan adalah memuliakan manusia, dan sekolah Muhammadiyah harus terus menjaga komitmen tersebut,” tegas Abdul Mu’ti.

Tiga Pilar Utama Menuju Sekolah Profesional dan Adaptif

Sosok menteri yang juga sekretaris umum Muhammadiyah ini memaparkan tiga pilar penting untuk mendukung kemajuan sekolah Muhammadiyah. Pilar pertama menyangkut tata kelola konflik yang harus pengelola hadapi secara dewasa dan profesional. Perbedaan pendapat merupakan hal wajar, namun jangan sampai menghambat pertumbuhan lembaga pendidikan itu sendiri.

Selanjutnya, pilar kedua menekankan pentingnya menjauhi segala bentuk praktik korupsi di lingkungan sekolah. Tindakan tidak terpuji tersebut dapat merusak kepercayaan masyarakat dan melemahkan seluruh sistem pendidikan yang ada. Integritas menjadi harga mati bagi setiap pengelola agar lembaga tetap berdiri tegak sebagai pilar moral bangsa.

“Jika tidak dikelola dengan baik, konflik atau perbedaan dapat menghambat kemajuan lembaga,” ujar Abdul Mu’ti mengingatkan para kepala sekolah.

Sikap Terbuka Sebagai Kunci Inovasi Pendidikan

Pilar ketiga yang menjadi sorotan adalah pentingnya keterbukaan terhadap kritik, saran, serta inovasi global. Sikap menutup diri hanya akan membuat lembaga pendidikan tertinggal dari perkembangan zaman yang sangat cepat. Sekolah harus terus bertransformasi menjadi wadah yang adaptif dan inklusif bagi seluruh perkembangan teknologi serta metode pembelajaran terbaru.

Penerapan ketiga prinsip ini akan memastikan sekolah tumbuh secara sehat dan mandiri di masa depan. Abdul Mu’ti optimis bahwa sekolah Muhammadiyah di Banyuwangi mampu menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal profesionalisme. Semangat ini diharapkan terus membara di dada setiap guru dan kepala sekolah demi mencetak generasi unggul.

“Lembaga pendidikan Muhammadiyah akan tumbuh secara sehat, profesional, dan adaptif jika tiga hal ini menjadi pegangan bersama,” pungkas Abdul Mu’ti dengan optimis.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: