Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ganti Bentakan dengan Pelukan: Seni Mendidik Anak Tanpa Amarah ala Aisyiyah

7 Mei 2026, 20:49 WIB • 2 menit baca
Foto low-angle yang menampilkan seorang ayah mengenakan kemeja biru muda sedang menggendong anak laki-lakinya di atas pundak. Sang ayah tampak tersenyum lebar dan menengadah ke langit, sementara anak laki-lakinya duduk dengan nyaman sambil merentangkan kedua tangannya seperti sayap pesawat, juga menatap ke atas. Mereka berdua terlihat bahagia di bawah langit biru cerah yang bersih dengan sedikit awan tipis, menciptakan suasana yang bebas dan penuh kegembiraan.
Sebuah ilustrasi yang menggambarkan kekuatan kasih sayang dalam mendidik anak tanpa amarah. Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kota Semarang (7/5/2026) menekankan bahwa pendekatan parenting tanpa marah melalui pelukan dan keteladanan—seperti merentangkan tangan dengan bebas di bawah langit cerah—jauh lebih efektif dalam membentuk karakter anak dan membangun keberanian mereka untuk berekspresi dibandingkan bentakan keras.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Menghadapi tingkah polah buah hati seringkali menguji batas kesabaran orang tua di tengah kesibukan Kota Semarang. Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Semarang menawarkan perspektif menyejukkan melalui metode parenting tanpa marah. Konsep ini mengedepankan kekuatan kasih sayang sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter anak tanpa kehilangan ketegasan.

Wakil Ketua III PDA Kota Semarang, Dra. S. Minangwati, M.Pd., membagikan pemikiran ini dalam wawancara daring pada Kamis (7/5/2026). Pakar pendidikan ini menegaskan bahwa mendidik tanpa amarah bukan berarti membiarkan anak tumbuh tanpa aturan. Beliau menjelaskan bahwa pendekatan ini mengganti suara keras dengan perhatian mendalam yang tetap konsisten pada kedisiplinan.

“Konsep parenting tanpa marah maksudnya tidak dengan kemarahan, melainkan dengan kasih sayang, perhatian, tetapi tetap tegas,” ungkap S. Minangwati saat dihubungi hari ini, Kamis (7/5).

Ketegasan yang Membebaskan: Membedah Marah Destruktif vs Mendidik

Banyak orang tua terjebak dalam kemarahan destruktif yang justru menciptakan jurang ketakutan bagi buah hati. Amarah yang meledak-ledak seringkali membuat anak bungkam dan kehilangan keberanian untuk berekspresi secara jujur. Sebaliknya, ketegasan yang mendidik justru memberikan ruang aman bagi anak untuk tetap berani berbagi cerita harian.

Cara paling efektif untuk mendisiplinkan anak tanpa nada tinggi adalah melalui kekuatan keteladanan orang tua. Ayah dan ibu cukup memberikan contoh nyata melalui kebiasaan kecil seperti merapikan sepatu di tempatnya. Langkah sederhana ini terbukti jauh lebih membekas dalam ingatan anak daripada sebuah bentakan yang melengking.

“Ketegasan yang mendidik menyebabkan anak tidak takut, tetap berani berbicara atau bercerita pengalaman di sekolah,” jelas sosok yang membidangi PAUD ini.

Menjadi Teman bagi Anak: Kunci Kedekatan di Era Modern

Pola asuh tradisional yang bersifat otoriter kini mulai kehilangan relevansinya bagi generasi muda era digital. PDA Kota Semarang mengajak para orang tua bertransformasi menjadi teman terbaik bagi anak-anak mereka. Kedekatan emosional yang terbangun baik akan membuat anak merasa nyaman mengungkapkan isi hati tanpa rasa waswas.

Pihak organisasi juga menyatakan kesiapan untuk menyelenggarakan edukasi parenting yang lebih masif bagi masyarakat. Langkah ini menjadi jawaban atas kebutuhan orang tua era Gen Z yang memerlukan narasumber mumpuni. Sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan menjadi kunci utama dalam mencetak generasi masa depan yang tangguh.

“Marilah para orang tua berperan sebagai teman bagi anaknya agar kedekatan emosional berlangsung,” pungkas S. Minangwati dalam wawancara Kamis siang tersebut.

Kontributor: Rizqi Aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: