Sentilan Haedar Nashir: Dakwah Muhammadiyah Itu Solusi, Jangan Cuma Ceramah!
YOGYAKARTA, muhammadiyahsemarangkota.org — Kritik tajam terhadap model ceramah konvensional yang miskin solusi memicu lahirnya gerakan baru dalam metode dakwah komunitas Muhammadiyah. Guna menjawab tantangan tersebut, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah melaporkan strategi baru untuk turun langsung membersamai komunitas marjinal pada Ahad (21/06/26). Mereka kini diwajibkan merangkul berbagai kelompok akar rumput mulai dari mualaf di pedalaman, komunitas motor, hingga mantan pelaku terorisme.
Merangkul Eks Napiter Hingga BikersMu
Program berani tersebut dipaparkan langsung oleh pengurus LDK PWM Jawa Tengah saat menemui pimpinan pusat di Kota Yogyakarta. Di hadapan para tokoh, mereka menjabarkan bukti konkret mengenai cara membawa dakwah keluar dari zona nyaman masjid.
Selain melakukan deradikalisasi terhadap mantan narapidana terorisme (eks napiter), tim dakwah ini juga aktif membina BikersMu yang menjadi wadah pencinta otomotif. Bahkan, mereka menggunakan jalur seni dengan menggelar pertunjukan wayang kulit sebanyak 22 kali di berbagai pelosok daerah.
Langkah inklusif ini mendapat perhatian khusus dari pimpinan tertinggi organisasi. Pendekatan berbasis rangkulan dinilai jauh lebih efektif untuk meredam potensi konflik sosial di masyarakat.
Penegasan Haedar Nashir Soal Dakwah Nyata
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan dakwah kultural tersebut. Ia mengingatkan bahwa dinamika global dan perkembangan teknologi menuntut para pendakwah untuk mengubah total pola pikir lama.
“Dakwah Muhammadiyah harus menjadi dakwah yang menggembirakan, mencerahkan, menenangkan, dan memberikan harapan kepada masyarakat,” tegas Haedar Nashir saat berdialog dengan rombongan di Yogyakarta.
Menurutnya, masyarakat saat ini sudah jenuh dengan model komunikasi satu arah yang kaku. Pendakwah masa kini wajib hadir membawa program pemberdayaan ekonomi atau bantuan hukum yang nyata.
“Dakwah harus hadir di tengah kehidupan masyarakat dengan membawa solusi, bukan sekadar menyampaikan ceramah,” lanjut Haedar Nashir.
Meneladani Perjuangan Pendiri dan Penguatan Eco Masjid
Komitmen untuk terus bergerak di akar rumput ini diperkuat melalui rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) sejak Sabtu, 20 Juni 2026. Rombongan mengawali langkah mereka dengan melakukan ziarah ideologis ke makam KH Ahmad Dahlan untuk menyerap kembali sari perjuangan sang pendiri organisasi.
Setelah itu, penguatan spiritual berlanjut pada Ahad pagi dengan mengikuti pengajian akbar yang dihadiri seribu jemaah di Sleman. Pada hari yang sama, rombongan juga membedah kunci sukses pengelolaan Masjid Al Muharram Brajan yang dikenal sebagai pelopor Eco Masjid Indonesia melalui Gerakan Sedekah Sampah.
Keberhasilan pengelolaan lingkungan dan kemandirian ekonomi di masjid tersebut menjadi bekal berharga bagi pengurus Jawa Tengah. Sekembalinya dari Yogyakarta, para pendakwah berkomitmen menerapkan model pembinaan yang humanis, kreatif, dan membawa manfaat instan bagi masyarakat.