Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Logika Cinta Kepada Allah, Kenapa Kita Datang Hanya Saat Susah?

22 Juni 2026, 13:29 WIB • 3 menit baca
Foto Ustadz Djajuli sedang memberikan ceramah di depan jamaah Pengajian Ahad Pagi Semarang dengan latar belakang spanduk biru bermotif kubah masjid.
Ustadz Djajuli, dari Majelis Tabligh PCM Gayamsari, saat memberikan pencerahan mengenai hakikat "Logika Cinta Kepada Allah" dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, Semarang.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Bayangkan seseorang yang mengabaikan semua pesan Anda sepanjang tahun. Namun, ia tiba-tiba mengetuk pintu rumah Anda di tengah malam hanya untuk meminjam uang. Sungguh sebuah ironi yang memalukan ketika kita menyadari bahwa begitulah cara kita sering kali menerapkan logika cinta kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Peristiwa yang menggetarkan hati ini berlangsung dalam acara Pengajian Ahad Pagi pada Ahad (21/06/26). Jamaah tampak memadati ruang utama Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates, Semarang. Mereka terdiam saat mendengarkan ceramah Ustadz Djajuli, seorang ulama dari Majelis Tabligh PCM Gayamsari yang sehari-hari bertugas resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) dan juga Dai Kamtibmas Polrestabes Semarang. Melalui mimbar tersebut, ia mengajak pendengar membedah hubungan pertemanan di dunia nyata untuk merefleksikan iman.

“Kita tentu akan jauh lebih respek dan sayang kepada teman yang rajin bersilaturahmi kapan pun—baik saat senang maupun susah, punya uang maupun tidak—dibandingkan dengan teman yang hanya datang mengetuk pintu saat butuh pinjaman uang saja,” tutur Ustadz Djajuli dengan nada yang menyentuh hati.

Mengubah Pola Pikir Ibadah Transaksional

Perumpamaan tersebut seketika menelanjangi ego manusia modern saat berhadapan dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, sang ustadz mengingatkan jamaah untuk menata ulang niat ibadah mereka. Ia menegaskan bahwa Allah Yang Maha Kaya sama sekali tidak membutuhkan shalat atau sujud dari hamba-Nya. Sebaliknya, manusialah makhluk fakir yang selalu membutuhkan kehadiran Tuhan dalam setiap tarikan napas.

Oleh sebab itu, Pengajian Ahad Pagi Semarang ini menjadi momentum penting untuk mengubah pola pikir masyarakat. Jamaah diajak agar menganggap ibadah shalat berjamaah di masjid sebagai sebuah kebutuhan hidup primer, bukan sekadar penggugur kewajiban formalitas belaka. Langkah nyata inilah yang menjadi kunci utama tentang bagaimana cara dicintai Allah secara mendalam.

“Sesungguhnya tidak ada bekal yang terbaik kecuali nilai-nilai takwa yang kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ustadz Djajuli saat mengutip Surat Al-Baqarah ayat 197.

Meneladani Perjuangan Sahabat Nabi yang Buta

Kesadaran spiritual ini terasa kian mendesak ketika ia membandingkan fasilitas ibadah zaman sekarang dengan masa lalu. Saat ini, banyak masjid yang dibangun dengan sangat megah dan indah. Sayangnya, kondisi fisik bangunan tersebut sering kali berbanding terbalik dengan jumlah jamaah yang datang memakmurkannya.

Untuk menggugah motivasi, ia menceritakan kisah luar biasa mengenai salah seorang sahabat Nabi, Ibnu Ummi Maktum, yang memiliki keterbatasan netra. Meskipun matanya tidak dapat melihat dan tidak memiliki penuntun jalan, Rasulullah SAW tetap memintanya untuk mendatangi masjid selama ia masih mendengar suara azan berkumandang.

“Barang siapa yang mendengar azan namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali ada uzur,” sebut Ustadz Djajuli saat mengutip hadis riwayat Muslim dan Abu Dawud untuk menegaskan kewajiban tersebut.

Mengutamakan Panggilan Langit Sebelum Ajal

Logika sederhana ini menjadi tamparan keras bagi manusia modern yang bertubuh sehat walafiat. Jika seorang hamba yang memiliki keterbatasan fisik saja tetap berjuang ke masjid, manusia dengan kaki dan mata sempurna seharusnya merasa malu. Di tengah hiruk-pikuk dunia, kita sering kali lupa bahwa malaikat maut bisa datang menjemput kapan saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Padahal, umur manusia terus berjalan dan semakin mendekati tanah kuburan. Oleh karena itu, mengutamakan panggilan azan di atas segala urusan bisnis dan pekerjaan merupakan bukti nyata dari ketulusan logika cinta kepada Allah. Langkah konkret ini pula yang kelak memastikan nama kita terukir sebagai hamba yang selalu dirindukan oleh langit.

Pada akhirnya, kita harus memeriksa kembali isi hati masing-masing sebelum raga ini terbujur kaku. Jangan sampai kita hanya mengetuk pintu langit saat badai ujian hidup datang menerpa, lalu berbalik memunggungi-Nya ketika dunia sedang manis. Maka dari itu, mari jadikan setiap hembusan napas dan langkah kaki menuju masjid sebagai wujud cara dicintai Allah yang sejati, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.

Kontributor: Media At Taqwa Ngaliyan Wates
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: