3 Cara Mendidik Anak Ala Rasulullah, Jauhkan Keluarga Dari Neraka
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak bapak terjebak rutinitas mencari nafkah hingga melupakan bekal akhirat keluarganya. Padahal, cara mendidik anak ala Rasulullah menjadi kunci utama untuk menyelamatkan keluarga dari api neraka. Oleh sebab itu, tanggung jawab ini menuntut ayah tidak sekadar memberi uang, tetapi juga memastikan keselamatan ruhani istri dan anaknya.
Pesan mendalam ini menggema secara lugas dalam khutbah salat Jumat pada hari Jumat (03/07/26). Ustadz Asep Jauharudin S.Ag menyampaikan teguran tersebut secara langsung di hadapan jamaah Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates. Ratusan jamaah pria sontak terdiam merenungi hakikat tugas mereka sebagai seorang pemimpin rumah tangga.
Tanggung Jawab Mensurgakan Keluarga
Mengejar materi memang penting, namun keselamatan akhirat keluarga jauh lebih utama. Ustadz Asep kemudian mengutip surat At-Tahrim ayat 6 mengenai kewajiban menjaga keluarga dari siksa neraka. Ia menegaskan bahwa jaminan surga seorang pria sangat bergantung pada kondisi spiritual istri dan anaknya di rumah.
Selanjutnya, ayah memikul beban besar untuk membawa keluarganya menuju kebaikan yang abadi. “Tugasnya mensurgakan istri dan anak kita. Anak kita, istri kita, jaminan masuk surga tertangguh kepada suaminya,” tegas Ustadz Asep. Akibatnya, kegagalan menunaikan tugas ini bisa berujung fatal di pengadilan akhirat kelak.
Pemenuhan Hak Anak dari Orang Tua
Oleh karena itu, setiap ayah harus memahami hak anak dari orang tua sejak dini. Berdasarkan hadis tentang pendidikan anak riwayat Imam Muslim, langkah pertama pendidikan sejatinya dimulai sejak anak lahir. Sang ayah wajib memberikan identitas yang membawa keberkahan bagi masa depan anaknya.
Bahkan, nama bukan sekadar panggilan, melainkan pelindung spiritual bagi anak tersebut. “Tolong kasih nama yang baik, yang bermakna dan mengandung doa,” pesan Ustadz Asep kepada para jamaah. Langkah ini menjadi ikhtiar awal yang krusial guna menaungi anak dari panasnya api neraka.
Setelah itu, orang tua wajib menanamkan pemahaman Al-Qur’an saat akal anak mulai berkembang. Hak berikutnya adalah segera menikahkan sang anak ketika usianya telah mencapai fase baligh. Pada akhirnya, pemenuhan ketiga hak ini akan menggenapi upaya perlindungan keluarga secara menyeluruh.
Kewajiban Mengajarkan Salat Sejak Dini
Selain pemenuhan hak dasar, inti dari pendidikan karakter terletak pada kedisiplinan beribadah. Seorang bapak harus tampil tegas dalam mengawal kemudi spiritual buah hatinya. Karena itu, kewajiban mengajarkan salat selalu menempati posisi sentral dalam penerapan syariat agama Islam.
Ketegasan ini pun memiliki batasan umur yang jelas sesuai dengan tuntunan Imam Tirmidzi. “Perintahkan anak kita, perintah salat, anak genap umur 7 tahun. Manakala sampai 10 tahun enggan, dia dipukul,” papar Ustadz Asep. Dengan demikian, tindakan tersebut murni merupakan edukasi kedisiplinan, bukan pelampiasan amarah.
Sebagai renungan bagi setiap komunitas di Kota Semarang, mari kita berpegang erat pada ajaran mulia ini. Harta benda di dunia pasti akan musnah seiring berjalannya waktu. Namun, mendidik keluarga dengan fondasi iman akan menjadi tiket reuni abadi di surga Allah.