Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Awas Terjebak Dukun! Ini Cara Terapi Ruqyah Syar’iyyah Sembuhkan Penyakit Batin

11 Juli 2026, 13:14 WIB • 3 menit baca
Seorang praktisi membacakan doa sambil memegang kepala pasien wanita yang sedang berbaring dalam proses terapi ruqyah syar'iyyah, didampingi keluarga yang turut berdoa di latar belakang.
Ilustrasi pendampingan spiritual melalui terapi ruqyah syar'iyyah kepada pasien. Metode penyembuhan holistik ini secara ilmiah diakui sebagai pendamping pengobatan medis yang efektif untuk memulihkan ketenangan batin.

YOGYAKARTA, muhammadiyahsemarangkota.org – Masyarakat kini sering menghadapi tekanan hidup dan tingkat stres yang tinggi. Akibatnya, banyak orang nekat mengambil jalan pintas lalu terjebak praktik perdukunan. Menanggapi fenomena tersebut, pakar mengusulkan terapi ruqyah syar’iyyah sebagai solusi pengobatan batin. Metode ini mampu memperkuat tauhid pasien sekaligus menyembuhkan penyakit mental mereka secara aman.

Dilansir dari Suara Muhammadiyah penjelasan ilmiah mengenai metode pengobatan ini bukanlah sekadar klaim kosong. Ujian Terbuka Disertasi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah mengupas tuntas isu tersebut. Acara akademik ini berlangsung pada Rabu (8/7/2026) di kampus UMY, Yogyakarta. Sebagai hasilnya, dunia medis modern kini makin menerima pendekatan penyembuhan holistik semacam ini.

Pendamping Medis yang Efektif

Dilansir dari Suara Muhammadiyah, pendekatan spiritual tersebut sama sekali tidak menolak peran penting seorang dokter. Sebaliknya, metode ini bertindak murni sebagai terapi komplementer bagi pasien. Oleh karena itu, intervensi rohani ini mempercepat proses pemulihan pasien secara beriringan. Pasien pun tetap mengonsumsi obat-obatan klinis sesuai dengan anjuran medis.

Selama ini, realitas di lapangan sering kali luput dari pandangan masyarakat awam. Banyak orang mengira pasien pengobatan ini selalu memiliki keluhan fisik yang kasat mata. Padahal, mayoritas pasien justru tengah bergelut hebat dengan gangguan non-medis. Mereka cenderung kehilangan stabilitas emosional dan kedamaian batin dalam kesehariannya.

Dr. Muhammad Faizar H., M.Pd. menyampaikan fakta tersebut secara lugas dalam paparannya. Ia menjelaskan esensi sejati dari metode pengobatan ini agar tidak terjadi salah kaprah.
“Ruqyah syar’iyyah tidak semata-mata kita pahami sebagai pembacaan doa. Terapi ini menjadi ikhtiar yang menyentuh dimensi fisik, emosional, dan spiritual pasien.”

Transformasi Spiritual Pasien

Selanjutnya, pendampingan spiritual ini tidak lagi berpusat pada rasa sakit di tubuh. Fokus utama terapi langsung beralih untuk menuntun jiwa pasien agar mencari ketenangan. Sebagai dampaknya, pasien mampu mempertebal kualitas kedekatan mereka dengan Tuhan.

Efek dari intervensi penyembuhan ini ternyata sangat mengejutkan para akademisi. Dampak positif terapi ruqyah syar’iyyah justru paling kuat membekas pada aspek rohani pasien.

Transformasi mental ini jauh melampaui sekadar perubahan fisik bagian luar. Oleh sebab itu, intervensi ini selalu menjadi jangkar penyeimbang bagi ketahanan jiwa masyarakat.
Faizar juga memaparkan temuan penting mengenai tingkat keberhasilan metode ini. Ia menyoroti perubahan yang sangat signifikan pada diri para pasien.

“Keberhasilan terapi ini lebih dominan terlihat pada aspek spiritual, emosional, dan kesadaran diri. Pasien mengalami peningkatan ketenangan batin dan penguatan keyakinan kepada Allah.”

Edukasi dan Batasan Ilmiah

Selain memaparkan manfaatnya, ia turut mengingatkan pentingnya menetapkan batasan yang jelas. Praktik pengobatan alternatif Islam ini harus selalu mematuhi koridor etika pelayanan kesehatan.

Pendekatan pengobatan wajib masuk akal dan dapat akademisi pertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan demikian, dunia kedokteran klinis dan pendekatan spiritual bisa berjalan sangat harmonis.

Saat ini, tugas terberat para akademisi adalah meningkatkan program edukasi publik. Literasi masyarakat luas mengenai akar keluhan psikis harus terus beranjak naik. Tujuannya, masyarakat memiliki pemikiran yang logis dan terhindar dari segala bentuk penipuan. Praktik supranatural yang menyimpang masih menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental dan spiritual kita.

Menutup paparannya, Faizar menegaskan kembali pentingnya langkah pencegahan sejak dini. Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk aktif saling memberikan edukasi yang mencerahkan.

“Edukasi mengenai gangguan non-medis perlu terus-menerus kita galakkan bersama. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak terjebak pada praktik perdukunan yang agama larang.”

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: