Waspadai Fitnah Ponsel Pintar, Ancaman Pola Asuh Anak di Era Digital
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Niat ayah mencari nafkah untuk keluarga sering kali berujung pada rasa bersalah akibat kesalahan pola asuh anak era digital. Fasilitas ponsel pintar sekolah kini menjelma menjadi gerbang senyap masuknya pengaruh buruk yang memutus cara komunikasi dengan anak.
Peringatan tajam ini menggema dalam khutbah salat Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates, Kota Semarang, pada Jumat (10/07/26). Dr. Hakim Junaidi, M.Ag, selaku khatib menyoroti fenomena anak-anak yang terpapar dampak negatif ponsel pintar di banyak rumah tagga keluarga muslim.
Orang tua sering merasa sudah menunaikan kewajiban saat membelikan gawai mutakhir. Padahal, bahaya gadget pada remaja mengintai dari lautan informasi tanpa filter di dalamnya.
Ironi Keringat Ayah dan Fitnah Layar Kaca
Para ayah berjuang memeras keringat dari pagi hingga sore hari. Mereka memastikan kebutuhan finansial tercukupi demi kemajuan pendidikan anak. Namun, fasilitas gawai dan paket data tanpa batas justru membangun tembok pembatas di dalam rumah. Keheningan ruang keluarga kini menyembunyikan tragedi komunikasi yang terputus.
Hakim Junaidi mengingatkan bahwa orang tua kerap terlena dengan kemajuan zaman tanpa kontrol ketat. Ia menyoroti kebiasaan orang tua yang hanya menuruti keinginan anak demi kelancaran sekolah. “Kita sering kali terbuai, tetapi kita tidak pernah mengecek: seperti apa gambarnya, atau berita apa yang sedang dibaca oleh anak-anak kita,” tegasnya di hadapan jamaah.
Pencarian Validasi di Dunia Maya
Selain itu, kesibukan orang tua memaksa anak mencari jalan keluar sendiri ke dunia maya. Anak-anak kehilangan sosok penuntun saat menemukan konten yang membingungkan. Mereka akhirnya menelan informasi mentah-mentah dari media sosial. Akibatnya, berbagai kenakalan remaja sering bermula dari ketidakmampuan mencerna arus informasi ini.
Lebih lanjut, Hakim mempertanyakan hilangnya peran diskusi dalam keluarga modern. Ia menegaskan bahwa ketiadaan waktu luang orang tua sangat berbahaya bagi psikologis anak.
“Kepada siapa anak-anak kita akan mengonfirmasi dan bertanya, ‘Pak, Bu, Ayah, apakah yang saya baca ini benar?’” tanyanya retoris. Anak-anak yang kebingungan ini pada akhirnya bertanya kepada teman sebayanya yang belum tentu paham kebenaran.
Momentum Evaluasi dan Tips Parenting Islami
Oleh karena itu, keluarga harus segera menerapkan tips parenting islami yang mengedepankan kehadiran emosional. Agama juga telah lama memperingatkan tentang potensi jebakan dari harta benda dan keturunan.
Momentum Tahun Baru Hijriah ini seyogianya menjadi titik balik evaluasi. Para ayah dan ibu perlu segera mereset ulang aturan penggunaan gawai di rumah.
Menutup khutbahnya, Hakim mengajak seluruh jamaah untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara mendalam. Ia meminta orang tua mengambil kembali kendali atas pendidikan moral anak.
“Bagaimana sikap dan kontrol kita terhadap penggunaan handphone anak-anak kita? Jangan sampai handphone yang memang banyak manfaatnya itu, justru mudaratnyalah yang lebih banyak diserap oleh anak-anak kita,” pesannya memungkasi.