Kagumi Busana Muslim, Awal Perjalanan Spiritual Mualaf di Semarang Ucapkan Syahadat
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Kekaguman pada pesona busana muslimah ternyata menjadi awal sebuah perjalanan spiritual mualaf di Semarang. Chindi Acha Maysia Binanda membuktikan bahwa hidayah bisa menyapa melalui hal sederhana yang menuntun pencarian kedamaian sejati.
Pengembaraan batin tersebut mencapai puncaknya pada Ahad (2/8/2026) siang. Suasana haru langsung menyelimuti Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Wonodri, Kota Semarang, saat Chindi mengikrarkan syahadat usai salat Zuhur berjamaah.
Pesona Busana Pembuka Hidayah
Ketertarikan awal perempuan asal Kelurahan Randusari ini tumbuh saat mengamati keseharian kaum muslimah. Ia melihat secara langsung bagaimana busana tertutup itu membalut tubuh penggunanya di ruang publik.
“Ketertarikan saya terhadap Islam berawal dari kekaguman pada busana muslimah yang mencerminkan kesopanan, kehormatan, dan kemuliaan perempuan,” ungkap Chindi menjelaskan alasan utamanya memeluk keyakinan baru.
Rasa kagum murni itulah yang kemudian mendorongnya mendalami ajaran agama ini. Ia mulai tekun mencari tahu dan belajar agama Islam secara komprehensif hingga mantap mengambil keputusan.
Menemukan Keyakinan Tanpa Paksaan
Pencarian kebenaran tersebut lantas mempertemukannya dengan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jawa Tengah, Dr. H. KRAT AM Jumai. Tokoh masyarakat ini turun langsung memandu jalannya ikrar sang mualaf.
Sebelum membimbing lafal syahadat, ia mengingatkan para jamaah bahwa konstitusi menjamin kebebasan berkeyakinan setiap individu.
“Beragama tidak boleh didasarkan pada paksaan. Memilih agama adalah hak setiap individu yang dijamin oleh konstitusi,” tegas Jumai di hadapan para hadirin.
Konsekuensi dari pilihan sadar tersebut menuntut kesungguhan serta komitmen tinggi. Setiap muslim memikul tanggung jawab besar untuk terus mengamalkan ajaran agama dalam kesehariannya.
Dukungan Mengamalkan Rukun Islam
Pengucapan syahadat sejatinya baru menjadi gerbang pembuka dalam sebuah kisah hidayah. Untuk melangkah lebih jauh, penganut baru perlu mengusahakan pelaksanaan rukun Islam secara bertahap.
Mengingat beratnya proses adaptasi tersebut, Mualaf Center Aisyiyah (MCA) Kota Semarang hadir menawarkan pendampingan menyeluruh.
“Mualaf harus senantiasa istikamah dalam menapaki jalan hidayah, terus belajar Islam secara bertahap, serta menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup,” pesan Ustaz Eko Prayitno mewakili tim pembimbing.
Rangkulan hangat saudara seiman membuat langkah adaptasi ini terasa jauh lebih ringan bagi Chindi. Pada akhirnya, perjalanan spiritual mualaf ini membuktikan bahwa niat tulus mencari kedamaian batin pasti akan selalu menemukan jalannya sendiri.