Mengenang Tokoh Muhammadiyah Ngaliyan KH. Salim AR
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Kabar duka menyelimuti keluarga besar persyarikatan. Menyusul berita KH. Salim AR wafat pada hari Sabtu, 8 Agustus 2026, umat kehilangan salah satu sosok panutan yang penuh dedikasi. Kepergian almarhum tokoh Muhammadiyah Ngaliyan ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam, tak terkecuali bagi Ketua Takmir Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates, Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag.,
Melalui catatan kesaksiannya berikut ini, Prof Ahwan yang juga Wakil Ketua PDM Kota Semarang ini, mengenang kembali jejak langkah, keuletan, dan semangat juang sang sesepuh yang seolah tak pernah lekang dimakan usia.
Mbah Salim: Sesepuh yang Tidak Menyerah pada Usia
“Idulfitri tahun ini, Masjiad At Taqwa Ngaliyan akan mulai menyelengga rakan salat Idulfitri. Tapi, biasanya warga kita pada pulang kampung. Di Ngaliyan, sekarang ada empat titik pelaksanaan salat Id, bertambah dari dua titik pada tahun-tahun sebelumnya. Apa sebaiknya kita salat Id di dalam masjid saja, jika jemaah sedikit tidak kelihatan dari jalan?”
Demikian perbincangan di kalangan Takmir Masjid At Taqwa Wates yang berlangsung tiga tahun lalu.
Mbah Salim, sapaan akrab almarhum KH. Salim AR, pun angkat bicara. Beliau berkata, “Dahulu, di tempat saya, meski jemaah hanya 5 orang, salat Id tetap dilaksanakan di luar.”
Nasihat Mbah Salim inilah yang kemudian meyakinkan takmir agar salat Idulfitri tetap dilaksanakan di halaman masjid.
Tidak disangka, jemaah salat Id saat itu cukup banyak, mencapai 100-an orang. Hal ini menjadi bekal kepercayaan untuk menyelenggarakan salat Id pada masa-masa selanjutnya.
Sejak masjid ini berdiri, Mbah Salim konsisten untuk selalu mengawal setiap kegiatannya. Bukan hanya di masjid, beliau juga selalu menyempatkan diri menghadiri agenda-agenda PCM Ngalyan. Hal ini tidak lepas dari rekam jejak beliau yang dahulu pernah mengemban amanah sebagai Ketua PCM Ngaliyan, sebelum era Mbah Hifni Syadzali.
Sebelum ketakmiran masjid terbentuk, Mbah Salimlah yang sering menjadi imam salat. Menjadi imam salat Tarawih pun beliau jalani dengan ikhlas, meski rumah beliau berjarak 10 kilometer dari masjid.
Setelah ketakmiran terbentuk, Mbah Salim mulai membatasi diri. Beliau tidak lagi mengimami atau memberikan arahan secara langsung. Yang beliau lakukan adalah senantiasa hadir dalam berbagai kegiatan, mulai dari salat Jumat, kajian Ahad pagi, hingga senam pada minggu pertama.
Meski tidak lagi bisa berjalan dengan lancar, beliau sering datang ke masjid dengan mengendarai mobilnya. Terkadang beliau diantar sopir, tetapi umumnya beliau menyetir sendiri dengan didampingi sang istri.
Kondisi tersebut terkadang membuat kita kagum, heran, sekaligus khawatir. Pada usia sepuhnya, beliau masih melakukan mobilitas yang berat.
Benar saja, saat pulang dari masjid pada Jumat minggu lalu, mobil beliau terperosok di jalan ring road yang memang tidak memiliki bahu jalan dan posisi jalannya lebih tinggi satu meter dari saluran air di sisi-sisinya.
Saat kejadian itu, beliau baru saja selesai menjalani kegiatan rutin, yaitu salat Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates. Setiap selesai salat Jumat, biasanya beliau duduk di kursi dekat pintu sambil mengawasi takmir yang sedang berbincang, menghitung kotak amal, atau rapat.
Pada hari Ahad minggu pertama pun, beliau biasa duduk di pojok teras masjid saat pengajian setelah senam usai. Saat ditawari makan, beliau lebih banyak menolak dan memilih untuk khusyuk mendengarkan tausiah.
Selama masa-masa itu, beliau lebih banyak diam mendengarkan. Kita pun jarang berbincang lama dengan beliau, selain bersalaman, menyapa, dan menanyakan kabar. Meskipun dalam diam, kehadiran beliau sangat berarti sebagai motivasi moral yang luar biasa bagi para takmir.
Dua tahun lalu, saat ada perbincangan tentang ide membuat area pemakaman, beliau langsung menawarkan tanah miliknya. Entah untuk dikelola Takmir Masjid ataupun PCM Ngaliyan, beliau bersedia menyediakan tanah jika rencana pembuatan makam tersebut bisa dilaksanakan. Sayang, karena berbagai kendala, ide tersebut terhenti.
Kini, jemaah merasa sangat kehilangan sosok yang selalu hadir mendampingi sejak masjid ini berdiri. Meski sudah sepuh dan sulit berjalan normal, beliau bersikeras untuk tidak menyerah pada usia. Beliau selalu ingin hadir dan terlibat merawat nyala dakwah.
Hanya kecintaan dan perasaan senang (hubb) semata yang mampu mendorong tindakan penuh tekad dan konsisten seperti yang dilakukan almarhum Mbah Salim. Itulah warisan teladan dari pribadi yang ulet dan punya tekad kuat.
Semoga amal ibadah beliau diterima dan dibalas oleh Allah Swt., serta semangat juang tokoh Muhammadiyah Ngaliyan ini selalu menjadi penerang bagi generasi selanjutnya.