Cara Membangun Keluarga Bahagia: Stop Main HP Saat Kumpul di Rumah
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Kebiasaan sepele di era digital sering kali menghambat penerapan cara membangun keluarga bahagia. Kehadiran fisik di rumah ternyata tidak menjamin kedekatan emosional saat setiap anggota keluarga sibuk menatap layar ponsel. Kita wajib mempraktikkan langkah stop main HP saat kumpul di rumah demi mengembalikan percakapan nyata bersama orang tercinta.
Pesan penting ini menjadi sorotan utama dalam Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Acara inspiratif tersebut berlangsung di Mushola At Tauhid Aira, Komplek Permata Puri Ngaliyan. Dr. Aang Kunaepi, M.Ag, selaku Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, mengupas tuntas isu keluarga ini di hadapan para jamaah.
Menyatukan Kiblat Spiritual Keluarga
Mengawali penjelasannya, Dr. Aang mengingatkan bahwa sekadar tinggal serumah tidak otomatis membuat hati berdetak seirama. Ia menyoroti fenomena keluarga modern yang kehilangan ruh kebersamaan akibat matinya komunikasi langsung. Oleh karena itu, ia memberikan penekanan khusus pada pentingnya kesamaan visi spiritual.
“Keluarga ideal bukan keluarga yang tidak pernah berbeda. Keluarga ideal adalah keluarga yang berbeda tetapi memiliki kiblat spiritual yang sama,” ungkap Dr. Aang.
Tujuan setiap anggota keluarga mungkin saja beragam setiap harinya. Akan tetapi, langkah mereka harus tetap bermuara pada ketaatan kepada Allah.
Ancaman Nyata di Balik Layar Ponsel
Kesibukan menatap layar mewakili bahaya gadget bagi keluarga yang paling merusak. Notifikasi media sosial sering kali memotong waktu kebersamaan yang sangat berharga. Situasi ini jelas menyulitkan para orang tua saat menerapkan cara mendidik anak di era digital.
Anak-anak pada dasarnya selalu meniru perilaku keseharian orang tuanya di rumah. Jika orang tua sibuk dengan gawai, anak akan melakukan hal yang sama.
“Gadget adalah alat, bukan pengganti kebersamaan. Jangan biarkan layar mencuri waktu terbaik keluarga,” tegasnya. Kalimat tajam ini menjadi teguran keras bagi orang tua yang jarang mengajak anaknya berinteraksi langsung.
Meja Makan sebagai Titik Kumpul
Sebagai solusi praktis, Dr. Aang menyarankan pembentukan zona bebas gawai di area ruang makan. Langkah sederhana ini membuka ruang diskusi yang jauh lebih sehat antar anggota keluarga. Praktik saling mendengarkan ini juga menjelma menjadi tips komunikasi suami istri yang sangat efektif.
Momen makan bersama sejatinya mampu menumbuhkan rasa syukur yang mendalam. Mengisi waktu luang dengan ngobrol tanpa gawai akan mempererat ikatan batin.
“Rumah yang berpusat pada Allah adalah rumah yang bahagia di dunia dan selamat di akhirat,” tuturnya.
Karena alasan tersebut, setiap keluarga perlu segera mengembalikan fungsi rumah sebagai tempat saling menyelamatkan.
Pada akhirnya, keberhasilan merawat keluarga bahagia selalu berawal dari kemauan untuk benar-benar hadir. Sikap mengabaikan komunikasi nyata hanya akan menabung penyesalan pahit di kemudian hari. Mari simpan ponsel Anda sekarang juga. Setelah itu, tataplah mata orang-orang yang paling Anda sayangi dengan sepenuh hati.