Gaji Cukup tapi Sering Gelisah? Ini Ketenangan Batin Islam Sejati
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Gaji rutin masuk dan tagihan bulanan aman, tetapi hati sering merasa hampa. Kekosongan jiwa ini menjadi sinyal nyata bahwa kita sedang kehilangan arah hidup. Untuk meraih kebahagiaan sejati dalam Islam, kita mutlak butuh ketenangan batin Islam yang sebenarnya.
Kajian Islam Ahad Pagi membahas tuntas panduan merawat jiwa tersebut. Acara ini berlangsung pada Ahad, 9 Agustus 2026, berlokasi di Masjid Jami’ Jatisari, Jalan Alun-alun perumahan Jatisari. Banyak jamaah hadir mendengarkan ulasan mendalam dari Ustadz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. Selaku ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang
Mengatasi Jebakan Ilusi Duniawi
Manusia modern sering keliru saat menentukan standar kebahagiaan mereka. Mereka menjadikan tumpukan harta atau tingginya jabatan sebagai sumber kedamaian mutlak. Ironisnya, pencapaian materi mewah tidak akan pernah cukup untuk menambal kekosongan jiwa.
Melihat fenomena memprihatinkan tersebut, Aang memberikan pandangannya secara lugas.
“Kenikmatan dunia dapat menyenangkan, tetapi tidak selalu menenteramkan,” ungkap dosen FTIK UIN Walisongo itu di hadapan jamaah. Ungkapan ini menampar kesadaran kita tentang rapuhnya standar hidup duniawi.
Merespons realitas itu, setiap muslim butuh cara mengatasi overthinking menurut Islam yang aplikatif. Langkah paling krusial adalah mengubah sudut pandang tentang arti kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan murni sejatinya tidak menuntut jalan hidup yang serba sempurna.
Meraih Makna Hayatan Thayyibah
Sebagai solusi konkret, ajaran Islam menawarkan konsep agung bernama Hayatan Thayyibah. Konsep istimewa ini mencerminkan kehidupan yang baik, penuh keberkahan, dan diridhai Allah. Aang menjelaskan bahwa kondisi tenteram ini bertumpu pada dua fondasi utama.
Kedua pilar penting tersebut adalah iman yang lurus serta amal saleh yang rutin. Ketika seseorang memadukan keduanya dalam keseharian, ia pasti mampu menghadapi berbagai krisis dengan kepala dingin. Hati yang terjaga iman tidak akan mudah retak oleh tekanan hidup.
Menegaskan hal tersebut, sang pendakwah membongkar esensi dari kebahagiaan sejati. “Kebahagiaan yang kokoh bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi memiliki iman yang kuat, hati yang bersyukur, pasangan yang saling menguatkan, dan tujuan hidup yang tertuju kepada Allah,” jelas Aang dengan penuh penekanan.
Menghadapi rintangan dengan iman kuat inilah yang melahirkan sikap qanaah. Sikap lapang dada ini membuat seseorang rida menerima hasil ujian. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak pernah menghentikan laju ikhtiarnya.
Sabar dan Doa Penawar Gelisah
Melewati beragam kesulitan hidup jelas menuntut kesabaran tingkat tinggi. Padahal, sabar dalam kacamata Islam bukanlah sebuah kepasrahan tanpa daya. Sabar justru menjadi kekuatan jiwa yang bergerak sangat aktif menembus batas.
Meluruskan pandangan yang salah, dosen UIN Walisongo tersebut memberikan definisi utuh. “Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi terus berusaha dengan hati yang kuat dan berserah diri kepada Allah,” tutur Aang merangkum kekuatan sabar. Semangat pantang menyerah yang beriringan dengan doa inilah yang mengundang keajaiban.
Sebagai pelengkap seluruh ikhtiar bumi, umat muslim harus senantiasa memanjatkan doa ketenangan hati. Aang mengingatkan sebuah doa warisan Rasulullah SAW yang merangkum permohonan petunjuk dan kekayaan batin. Merutinkan amalan doa ini membangun pelindung tak kasat mata agar kita tidak tenggelam oleh tuntutan duniawi.