Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Khutbah 15 menit baca

Khutbah Jumat: Meneladani Kepemimpinan Rasulullah di Bulan Rabiul Awal

Redaksi

Khutbah Jumat: Meneladani Kepemimpinan Rasulullah di Bulan Rabiul Awal
Ilustrasi: Sikap rendah hati seorang tokoh masyarakat yang langsung turun ke permukiman untuk melayani dan memberikan bantuan bahan pokok kepada warga lansia. Visual ini merepresentasikan esensi kepemimpinan Rasulullah SAW yang memosisikan diri sebagai pelayan umat, bukan pihak yang minta dilayani. (AI Generated)

Bulan Rabiul Awal senantiasa menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk merefleksikan kembali keteladanan paripurna Nabi Muhammad SAW. Menjawab kebutuhan masyarakat dan para khatib akan materi dakwah yang bermutu, redaksi menyajikan naskah khutbah Jumat pilihan bertema “Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani”.

Naskah ini merupakan Khutbah ke-10 yang kami kutip secara utuh dari e-book “Naskah Khutbah Jum’at Satu Tahun Sesuai Kalender Hijriah”. Karya monumental ini disusun langsung oleh Ustaz Kasmui, seorang akademisi sains yang juga aktif sebagai pengurus Majelis Tabligh Muhammadiyah.

Bagi Anda yang membutuhkan referensi lengkap naskah dakwah sesuai manhaj Muhammadiyah, silakan unduh e-book tersebut secara gratis melalui tautan: https://kasmui.cloud/khutbah/.

Berikut adalah sajian utuh naskah Khutbah Jumat tersebut:

Tema: Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Amma ba’du. Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, teladan abadi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Wasiat takwa tak henti-hentinya saya sampaikan, karena takwa adalah sebaik-baik bekal. Takwa bukan sekadar lisan yang berdzikir, tetapi hati yang tunduk dan perbuatan yang menjauhi larangan-Nya, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Hadirin Jamaah Jum’at yang Dimuliakan Allah, Hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan di tengah umat. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan dan posisi kepemimpinan, namun sedikit yang memahami esensi dari amanah tersebut.

Kita sering melihat pola kepemimpinan yang feodal, di mana pemimpin memosisikan diri sebagai “raja” yang harus dilayani, bukan sebagai “pelayan” yang melayani. Mentalitas minta dilayani ini telah mengakar, menciptakan jarak antara pemimpin dan rakyat, antara atasan dan bawahan, bahkan antara ulama dan umat.

Padahal, kita memiliki sosok agung, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, sekaligus imam besar. Namun, apakah beliau hidup di istana megah dengan pelayan yang berbaris? Tidak. Beliau menambal bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk sama rendah dengan para sahabatnya. Inilah tema khutbah kita hari ini: “Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani.”

Ma’asyiral Muslimin, Landasan utama kepemimpinan Nabi adalah kasih sayang dan kelembutan. Beliau tidak memimpin dengan tangan besi atau arogansi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan karakter ini dalam Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Ayat ini menjelaskan bahwa soft skill atau kelembutan hati adalah modal utama seorang pemimpin. Kata ‘fazzan’ (bersikap keras) dan ‘ghalidzal qalbi’ (berhati kasar) adalah sifat yang dibenci dalam Islam bagi seorang pemegang amanah.

Rasulullah melayani umatnya dengan mendengarkan keluh kesah mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan mengajak mereka bermusyawarah. Ini adalah bentuk pelayanan psikologis dan emosional yang luar biasa dari seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Sebagai penguat, mari kita renungkan doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para pemimpin umat. Beliau memberikan ancaman sekaligus harapan dalam Hadits Riwayat Muslim:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyayangi (berlemah lembut) kepada mereka, maka sayangilah dia.” (HR. Muslim, No. 1828).

Hadits ini mengandung doa mustajab dari Nabi. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja—baik kepala keluarga, ketua RT, pejabat, hingga pemimpin negara—yang menggunakan kekuasaannya untuk mempersulit urusan orang lain demi minta dilayani atau dihormati. Sebaliknya, pemimpin yang melayani dan memudahkan urusan orang lain didoakan langsung oleh Nabi agar Allah memudahkan hidupnya.

Jamaah yang Berbahagia, Bukti nyata bahwa Nabi melayani dan bukan minta dilayani terlihat dari keseharian beliau di dalam rumah. Seringkali, karakter asli seseorang terlihat saat ia berada di rumahnya. Allah memerintahkan Nabi untuk merendahkan hati, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 215:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah hatimu (berbuat baiklah) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215).

Perintah “Wakhfidz janahaka” (rendahkanlah sayapmu) adalah metafora indah tentang perlindungan, pengayoman, dan pelayanan tanpa batas atau sekat status sosial.

Bagaimana implementasinya? Lihatlah kesaksian istri beliau, Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Aku (Al-Aswad) bertanya kepada Aisyah: ‘Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumahnya?’ Aisyah menjawab: ‘Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya (melayani keluarganya). Namun, jika waktu shalat tiba, beliau segera keluar untuk shalat.’” (HR. Bukhari, No. 676).

Bayangkan, seorang Rasul pilihan Allah tidak gengsi menjahit bajunya yang robek, memperbaiki sandalnya, atau membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau tidak duduk manis menunggu dilayani istri atau sahabatnya. Jika kepada keluarga saja beliau melayani, apalagi kepada umatnya. Inilah Role Model sejati.

Lalu, apa solusinya bagi kita? Solusinya adalah menanamkan mindset bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab (mas’uliyyah), bukan kemuliaan (tasyriif). Kita harus kembali meneladani beliau secara utuh. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Meneladani beliau berarti siap capek, siap berkorban, dan siap melayani. Sebagai motivasi akhir di khutbah pertama ini, ingatlah sabda Nabi tentang hakikat setiap kita adalah pemimpin yang akan diaudit kinerjanya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara/wilayah) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya…” (HR. Bukhari, No. 893 & Muslim, No. 1829).

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan gila hormat, serta dianugerahi hati yang tulus untuk melayani sesama semata-mata karena Allah.

بَارَكَ اللُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللِ، اتَّقُوا اللَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Sebagai ringkasan dari khutbah ini, mari kita tanamkan dalam hati bahwa jabatan, harta, dan kedudukan hanyalah titipan sesaat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang yang melayaninya, tetapi seberapa besar manfaat dan pelayanan yang ia berikan kepada orang lain. Sayyidul qaumi khadimuhum (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).

Mari ubah orientasi hidup kita: dari mentalitas “ingin dilayani” menjadi mentalitas “siap melayani” demi meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Marilah kita menundukkan kepala dan hati, memohon kepada Allah agar negeri ini dikaruniai para pemimpin yang melayani rakyatnya dengan tulus, serta agar kita dijaga dari fitnah kekuasaan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

اللَّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِينَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Ya Allah, angkatlah untuk kami pemimpin-pemimpin yang terbaik di antara kami, dan janganlah Engkau angkat pemimpin yang buruk di antara kami. Ya Allah, janganlah Engkau kuasakan kepada kami—disebabkan dosa-dosa kami—orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami).

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللِ أَكْبَرُ، وَاللُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Wasssalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: