Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jangan Cuma Rajin Ibadah Tapi Lupa Tetangga, Begini Makna Ukhuwah Islamiyah

14 Agustus 2026, 19:00 WIB • 3 menit baca
Ustadz Ridwan menyampaikan khutbah Jumat tentang makna Ukhuwah Islamiyah di hadapan jamaah Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang.
Ratusan jamaah mendengarkan dengan khidmat khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Ridwan mengenai pentingnya menjaga Ukhuwah Islamiyah, kepedulian pada tetangga, dan adab bermedia sosial di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Jumat (14/8/2026).

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Ibadah ritual yang rutin kita jalani terasa kurang lengkap jika kita masih abai terhadap penderitaan tetangga. Memahami makna sejati Ukhuwah Islamiyah menuntut umat Islam untuk mewujudkan persaudaraan lewat kepedulian nyata, bukan sekadar teori yang dihafal.

Pesan menyejukkan ini menggema kencang dalam khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang pada Jumat, 14 Agustus 2026. Suasana khidmat menyelimuti ratusan jamaah yang hadir memenuhi ruangan siang itu. Mereka sejenak mencari jeda dari hiruk-pikuk pertikaian dunia maya yang kian melelahkan batin.

Ustadz Ridwan yang berdiri tenang di mimbar menatap saksama deretan wajah jamaah. Ia memahami betul bahwa tali persaudaraan kerap rentan terkikis oleh besarnya ego pribadi.

“Ukhuwah harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus terlihat dalam perilaku sehari-hari,” tegasnya mengingatkan jamaah.

Adab Bermedia Sosial dan Bahaya Lisan

Menyikapi riuhnya era digital saat ini, Ustadz Ridwan menyoroti urgensi untuk menerapkan adab bermedia sosial dalam Islam. Arus informasi yang melaju begitu cepat membuat masyarakat modern sangat mudah tersulut provokasi. Akibatnya, banyak orang merespons berita secara emosional tanpa menyaring kebenarannya terlebih dahulu.

Beranjak dari kenyataan tersebut, Islam secara tegas mengajarkan pentingnya tabayyun sebelum menanggapi sebuah isu liar.

Langkah klarifikasi ini mampu mencegah ruang digital berubah menjadi arena perdebatan yang menguras energi. Di samping itu, umat juga perlu menguasai cara menjaga lisan dengan senantiasa menahan jemari agar tidak mengetik fitnah.

Menjaga kehati-hatian lisan menjadi sangat krusial mengingat hubungan baik bertahun-tahun bisa hancur seketika akibat rentetan komentar buruk.

“Persaudaraan dapat dibangun bertahun-tahun, tetapi dapat rusak hanya karena perkataan yang tidak dijaga,” ucap Ustadz Ridwan meminta jamaah untuk lebih menahan diri.

Menghidupkan Kepedulian dari Lingkungan Terdekat

Usai mengurai akar konflik di ranah maya, ia merangkul jamaah untuk kembali berpijak pada realitas sosial. Ustadz Ridwan menawarkan langkah penyelesaian praktis dengan menghidupkan kembali empati di lingkungan terdekat. Gerakan kebaikan komunal ini harus bermula dari keluarga, lalu merambat perlahan ke lingkungan tetangga sekitar.

Pembuktian persaudaraan ini menuntut aksi konkret ketika tetangga terdekat sedang terhimpit oleh kesulitan. Umat Islam harus sigap hadir membawa solusi nyata, bukan malah sibuk berdebat untuk memperbesar perbedaan pandangan. Langkah kepedulian ini sangat selaras dengan ajaran Al-Qur’an agar umat aktif bergerak menyebarkan kebaikan.

Ukhuwah Menjadi Energi Amal Keberkahan

Membawa semangat yang sama, harmoni sosial di tengah masyarakat secara otomatis akan menciptakan barisan umat yang tangguh.

“Ukhuwah harus menjadi energi untuk beramal. Ketika persaudaraan terjaga, amal akan semakin kuat dan manfaatnya semakin luas,” jelas Ustadz Ridwan memecah keheningan ruangan utama masjid.

Sebagai muaranya, keberkahan sebuah amal sama sekali tidak bergantung pada seberapa besar nominal hartanya. Kebaikan sederhana yang dikerjakan penuh rasa ikhlas justru bernilai sangat besar di mata Allah SWT. Melalui kesalehan sosial semacam inilah, bangunan masjid benar-benar berfungsi maksimal sebagai pusat pembinaan umat yang mendamaikan.

Kontributor: Humas At Taqwa PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: