Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 3 menit baca

Menggagas GPS Tokoh Muhammadiyah

Dr. AM. Jumai

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Menggagas GPS Tokoh Muhammadiyah
Dr. AM Jumai, S.E., M.M. (Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jateng / Komisi Dakwah MUI Jateng) menyoroti pentingnya nilai moral generasi muda dalam menyambut Indonesia Emas pada momentum Hari Kesaktian Pancasila 2026. (Foto: Istimewa)

Merawat para pejuang persyarikatan, jangan sampai terlupakan di masa senja.

Masyarakat selama ini mengenal GPS sebagai teknologi penunjuk arah dan pelacak lokasi. Namun, dalam konteks persyarikatan, kita dapat memaknai gagasan GPS Tokoh Muhammadiyah lebih luas. Kita menyebutnya sebagai Gerakan Perhatian dan Silaturahmi yang secara khusus menyasar para tokoh, kader, aktivis, dan pejuang Muhammadiyah.

Gagasan GPS Tokoh Muhammadiyah ini sangat penting. Banyak tokoh Muhammadiyah sejak muda aktif berdakwah dan menggerakkan organisasi. Mereka membangun amal usaha, mendidik kader, hingga mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, bahkan hartanya.

Saat usia mereka bertambah atau kesehatan menurun, mereka tidak lagi memegang jabatan struktural. Keberadaan mereka pun sering berlalu begitu saja tanpa terdengar kabarnya.

Jangan biarkan istilah GPS di masyarakat justru memunculkan sindiran sosial. Banyak orang kerap memelesetkannya menjadi “Gak Pernah Silaturahim”. Ini merupakan julukan satire bagi orang yang jarang saling berkunjung.

Mereka sekalinya bersilaturahmi justru baru datang saat takziah. Ironisnya, hal ini kerap terjadi. Kita sering baru mengetahui kabar para tokoh senior saat mereka sudah wafat.

Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid. Persyarikatan semestinya memantulkan spirit gerakan tersebut. Caranya melalui sikap organisasi saat memperlakukan para pejuangnya. Sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa kesinambungan gerakan bergantung pada proses kaderisasi dan pewarisan pengalaman.

Karena itu, perlu digagas GPS Tokoh Muhammadiyah sebagai sistem pendataan, pemantauan, silaturahmi dan pelayanan sosial bagi tokoh Muhammadiyah senior.

Gagasan GPS Tokoh Muhammadiyah ini tidak bertujuan mengawasi kehidupan pribadi seseorang. Sebaliknya, gerakan ini memastikan Persyarikatan mengetahui kondisi riil mereka. Kita perlu tahu keberadaan, kesehatan, kondisi ekonomi, dan keluarga mereka. Persyarikatan juga bisa mengetahui cara terbaik untuk membantu memenuhi kebutuhan para senior.

Langkah Nyata dan Implementasi Program

Pimpinan Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah, hingga Pusat dapat memulai langkah implementasi ini. Pimpinan perlu segera membentuk Tim Sahabat Tokoh. Tim ini akan rutin melakukan kunjungan langsung dan memperbarui data.

Mereka juga bertugas menjaga komunikasi dengan keluarga dan mengidentifikasi kebutuhan senior. Tim pengurus wajib mengelola data tersebut secara aman dan berbasis persetujuan. Mereka dilarang memublikasikan data itu secara sembarangan.

Persyarikatan dapat merancang berbagai program turunan dari GPS Tokoh Muhammadiyah. Langkah awalnya adalah menyusun basis data tokoh senior dan jadwal kunjungan berkala. Kita juga bisa mengadakan pemeriksaan kesehatan melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), bantuan sosial, dan pendampingan ekonomi.

Selain itu, organisasi bisa memberikan penghargaan atas jasa perjuangan mereka. Kita juga wajib mendokumentasikan sejarah lisan para tokoh. Tujuannya agar pengalaman berharga mereka tidak hilang termakan usia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebuah fakta penting. Indonesia kini telah memasuki fase penuaan penduduk (aging population). Proyeksi proporsi lansia akan mencapai 11,97 persen pada tahun 2025. BPS menegaskan bahwa persoalan lansia mencakup aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan perlindungan. Artinya, perhatian organisasi terhadap tokoh senior bukan sekadar alasan emosional. Langkah ini adalah bentuk pemenuhan kebutuhan sosial yang nyata.

Lebih dari itu, para tokoh senior merupakan memori hidup Muhammadiyah. Mereka menyimpan sejarah, pengalaman organisasi, dan kearifan dakwah. Pengetahuan berharga ini tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi.

Kita memegang prinsip “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Sudah saatnya kita melengkapi prinsip tersebut dengan pesan moral baru. Jangan hanya mengajak orang menghidupkan Muhammadiyah. Muhammadiyah juga harus hadir menguatkan para pejuangnya di masa senja. Jangan sampai kita baru hafal nama tokoh ketika ia meninggal, tetapi lupa menyapanya saat ia hidup.

Kita menghadirkan GPS Tokoh Muhammadiyah sebagai ikhtiar sederhana nan nyata. Tujuannya hanya satu. Kita ingin memastikan tidak ada pejuang persyarikatan yang berjalan sendirian dan terlupakan.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: