Jangan Sampai Salah, Pahami Makna Maulid Nabi Lewat Kebaikan Sehari-hari
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Peringatan hari kelahiran Rasulullah kerap menyedot perhatian publik lewat kemeriahan panggung dan aneka seremoni. Padahal, makna Maulid Nabi yang sesungguhnya justru teruji dari bagaimana kita memperlakukan keluarga, tetangga, dan lingkungan setiap hari.
Pesan lugas tersebut diserukan dalam khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026. Ustadz Musman Tholib mengajak ratusan jemaah yang memadati masjid untuk menengok kembali esensi peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
Bukan Hanya Panggung dan Seremoni
Dalam khutbahnya, sang khatib mengingatkan agar peringatan Maulid tidak berhenti menjadi agenda rutin tahunan yang hampa. Umat Islam sejatinya dapat mengisi momentum ini dengan beragam aksi nyata, mulai dari pengajian, sedekah, hingga pentas kesenian islami.
Terkait variasi kegiatan tersebut, Ustadz Musman Tholib memberikan batasan yang jelas agar syiar tetap berada di koridor syariat. “Yang terpenting adalah kebaikan dan kemanfaatannya. Peringatan Maulid dapat dilakukan dengan berbagai bentuk selama sesuai dengan syariat dan tidak menimbulkan kemudaratan,” tuturnya di hadapan jemaah.
Mengutamakan Ukhuwah di Tengah Tradisi
Melalui mimbar tersebut, ia juga meminta masyarakat agar tidak terjebak dalam perdebatan tak berujung mengenai bentuk peringatan. Perbedaan tradisi di tengah warga semestinya mempererat persaudaraan, bukan memantik perselisihan yang merusak kerukunan.
Menurutnya, kreasi seni maupun kegiatan budaya sangat terbuka untuk menyampaikan pesan moral dan sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, seluruh kegiatan syiar harus berjalan proporsional tanpa menimbulkan pemborosan harta atau mengganggu ketenteraman lingkungan.
Refleksi Keteladanan Akhlak Rasulullah
Menyelami cara memperingati Maulid Nabi tentu menuntut bukti konkret dalam interaksi sosial. Sang khatib menegaskan bahwa kecintaan kepada Rasulullah harus tecermin dari kejujuran, sikap amanah, kesabaran, serta ketulusan menolong sesama.
Dari atas mimbar, ia melontarkan serangkaian pertanyaan reflektif yang membuat suasana masjid kian hening. “Sudahkah kecintaan kepada Rasulullah membuat kita semakin rajin beribadah? Sudahkah kita semakin baik kepada keluarga dan tetangga? Sudahkah kita mampu memberikan manfaat kepada masyarakat?” tanyanya lugas.
Menutup khutbahnya, sang khatib berpesan agar refleksi Maulid Nabi ini menjadi titik balik perubahan perilaku setiap Muslim. “Maulid boleh dirayakan dengan berbagai cara. Namun, jangan sampai kemeriahan perayaan mengalahkan pesan utama: semakin mencintai Rasulullah, semakin baik pula akhlak dan amal kita,” pungkasnya.