Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Mengapa Rezeki Terasa Sempit? Coba Cek dan Evaluasi Dulu Kualitas Salat Kita

21 Agustus 2026, 17:56 WIB • 3 menit baca
Ustadz Priyo Nugroho saat menyampaikan tausiyah mengenai cara memperbaiki kualitas salat dalam kajian di Masjid Assalam Wonodri Semarang.
Ustadz Priyo Nugroho, S.Pd., M.Pd. memaparkan materi evaluasi kualitas salat dan keutamaan wudu dalam kajian rutin Sab’ata Asyara di Masjid Assalam Wonodri, Semarang Selatan. (Foto: Tangkapan Layar / Dok. Istimewa)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Rasa sesak dan rezeki yang terasa seret sering kali bukan karena kurang giat bekerja, melainkan alarm batin untuk segera mengevaluasi kualitas salat kita. Ibadah yang berjalan terburu-buru kerap kehilangan ruh, sehingga gagal menghadirkan ketenangan dalam menghadapi himpitan persoalan hidup.

Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam kajian rutin Sab’ata Asyara di Masjid Assalam Wonodri, Semarang Selatan, Senin, 17 Agustus 2026. Di hadapan jamaah Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Wonodri, Ustadz Priyo Nugroho, S.Pd., M.Pd., mengajak umat menata kembali cara beribadah dari hal paling mendasar.

Ustadz Priyo mengingatkan bahwa salat semestinya tidak berlangsung sebatas rutinitas harian penggugur kewajiban. Ketika seseorang menghadapi kebuntuan dalam urusan kerja, keluarga, maupun sosial, ia perlu menengok kembali tempat sujudnya.

Mengawali Kualitas Salat dari Ketertiban Wudu

Mengutip QS. Al-Mu’minun ayat 1–2, sang dai menegaskan bahwa keberuntungan hidup berakar dari salat yang khusyuk. Menariknya, ia menekankan bahwa kekhusyukan sejati tidak muncul tiba-tiba tanpa persiapan wudu yang benar.

Kebiasaan membasuh anggota tubuh secara tergesa-gesa justru merusak kesiapan batin sebelum menghadap Sang Khalik.

“Awal dari kita untuk menciptakan suatu salat yang baik itu kita awali dengan wudu yang baik. Jadi urutan wudu juga harus kita lakukan sesuai dengan tuntunan, jangan kita loncat-loncat.” tegas Ustadz Priyo.

Langkah tertib bersuci ini secara perlahan melatih kedisiplinan dan kesabaran seseorang dalam menjalani realitas harian. Tak hanya itu, ia juga mengingatkan jamaah agar senantiasa mengenakan pakaian yang bersih dan terbebas dari najis saat beribadah.

Bahaya Menunda Waktu Salat demi Layar Gawai

Tantangan terbesar masyarakat modern saat ini kerap hadir dari kilatan notifikasi gawai. Banyak orang tanpa sadar menunda waktu bersujud hanya demi menatap layar ponsel beberapa menit lebih lama.

Padahal, kebiasaan menomorduakan panggilan azan menjadi pintu masuk hilangnya ketenteraman jiwa.

“Kita jangan sampai menunda-nunda salat. Karena kalau kita sudah menunda salat, itu namanya kita menyepelekan Allah.” ujarnya mengingatkan para hadirin.

Alih-alih terburu-buru menuntaskan rakaat, ia meminta jamaah menikmati setiap lafal ayat, doa, istigfar, dan selawat. Ketenangan dalam melafalkan zikir terbukti membersihkan noda hati serta menjadi penawar ampuh di kala badai masalah mendera.

Melapangkan Rezeki Lewat Sedekah dan Doa Tulus

Di samping ibadah mahdhah, Ustadz Priyo mendorong jamaah merutinkan sedekah sebagai pembuka pintu kemudahan hidup. Kebiasaan berbagi secara ikhlas melatih jiwa terbebas dari kecemasan finansial.

“Namanya sedekah enggak harus banyak-banyak. Kalau kita sudah ahli sedekah, bisa setiap hari, bisa rutin, insyaallah kita itu rezekinya ngalir sendiri.” tuturnya menyejukkan suasana majelis.

Menutup rangkaian acara, Ketua PR ‘Aisyiyah Wonodri, Natifah, mengajak jamaah mensyukuri nikmat usia dengan memperbanyak amal dan mendoakan kebaikan para pemimpin bangsa.

Pada akhirnya, perbaikan jalan hidup bermula dari langkah sederhana di atas sajadah. Menjaga kualitas salat sejak basuhan wudu hingga zikir penutup menjadi jalan paling tenang untuk mengundang kembali kelapangan rezeki ke dalam rumah tangga kita.

Kontributor: Humas Masjid Assalam Wonodri
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: