Mata Batin Melantunkan Ayat Suci, 12 Finalis Tuna Netra Menjemput Puncak MTQ
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Keterbatasan penglihatan sama sekali tidak melunturkan kedekatan batin seseorang dengan kitab suci. Di tengah riuh persaingan babak akhir, sebanyak 12 peserta tuna netra membuktikan bahwa keterbatasan fisik justru melahirkan ketajaman bacaan dan kedalaman penghayatan Al-Qur’an yang luar biasa.
Gelanggang Studio Catwalk BBPVP Kementerian Ketenagakerjaan Semarang menjadi saksi keharuan tersebut pada Jumat (18/9/2026). Enam finalis cabang Tartil dan enam finalis cabang Tilawah Tuna Netra menyuguhkan penampilan terbaik mereka pada hari keenam pelaksanaan MTQ Nasional ke-31.
Suasana panggung berubah khidmat tatkala setiap peserta melantunkan ayat demi ayat dengan ketepatan tajwid yang presisi. Kehadiran para finalis dari berbagai provinsi ini membawa pesan tersendiri bahwa kekurangan fisik bukanlah batas untuk mengukir prestasi tertinggi.
“Untuk pengumuman juara kita tunggu besok malam di upacara penutupan MTQ di Simpang Lima,” ungkap Muhammad Asyiq, PIC Majelis 3 Cabang Seni Baca Al-Qur’an Golongan Tartil dan Tilawah Tuna Netra.
Pertarungan Mata Batin
Selanjutnya, persaingan di panggung final berlangsung sangat ketat di hadapan jajaran dewan hakim. Para peserta dari cabang Tartil seperti Bahirus Shiheb dari Jawa Timur hingga Dea Elkanaya Faseha dari Jawa Tengah tampil penuh ketenangan dalam merangkai setiap ketukan tajwid.
Bahkan, arena perlombaan cabang Tilawah turut menyajikan lantunan nada yang menggetarkan batin penonton. Duta-duta daerah seperti Zamrin Habib dari Kalimantan Timur serta Nunu Nugraha dari Jawa Barat menunjukkan bahwa nada indah tilawah bersumber langsung dari ketulusan hati.
Di samping itu, kesungguhan mereka di panggung lomba menyadarkan publik mengenai makna ketekunan yang sejati. Keterbatasan pandangan mata tidak menghalangi mereka untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama serta sahabat terbaik sepanjang hayat.
“Setiap peserta berusaha menyuguhkan penampilan terbaik di hadapan dewan hakim. Tidak sekadar mengejar nilai, mereka tampil membawa pesan bahwa keterbatasan penglihatan bukan alasan membatasi kedekatan dengan Al-Qur’an,” tegas Muhammad Asyiq saat mendampingi jalannya perlombaan.
Satu Malam Menuju Puncak
Sementara itu, ketegangan lomba kini telah berganti menjadi penantian penuh doa bagi seluruh peserta dan pendamping. Usai menuntaskan bacaan terakhir, seluruh berkas penilaian kini tersimpan rapat di tangan dewan hakim untuk menentukan siapa yang berhak membawa pulang gelar terbaik.
Selain itu, panggung penutupan di kawasan Lapangan Simpang Lima Semarang pada Sabtu (19/9/2026) malam bakal menjadi titik puncak perjuangan mereka. Ribuan pasang mata siap menyambut pengumuman nama-nama pemenang dengan penuh kebanggaan.
Dengan demikian, ulasan mengenai final MTQ disabilitas netra ini memberikan pelajaran berharga tentang kegigihan manusia. Usaha pantang menyerah para peserta menjadi bukti bahwa ketulusan memuliakan ayat suci selalu memancarkan keindahan yang tak ternilai.
Pada akhirnya, siapa pun yang akan berdiri di podium juara kelak, seluruh finalis ini telah menjadi pemenang di hati masyarakat. Lantunan indah yang telah terdengar bakal terus bergema sebagai inspirasi kebaikan bagi bangsa.