Siapa Bilang Semarang Kering Spiritual? Lantunan Final MTQ Nasional 2026 Luluhkan Kerasnya Hati Metropolitan
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Siapa bilang Kota Semarang kering dari oase spiritual? Buktinya, hiruk-pikuk pusat kota metropolitan ini seketika meremang syahdu ketika Final MTQ Nasional 2026 Semarang bergulir pada Jumat malam (18/9/2026) tadi.
Di bawah kanopi langit malam yang cerah berselimut semilir angin, Lapangan Pancasila Simpang Lima seolah bertransformasi menjadi sebuah lautan manusia yang disatukan oleh gema kalam Ilahi. Ribuan pasang mata, dari anak-anak yang tertidur di pangkuan ibunya hingga lansia yang menunduk khusyuk. Semuanya terpaku pada panggung utama, mematahkan stigma gersangnya religiusitas di jantung kota metropolis ini.
Alunan merdu dari para finalis Cabang Seni Baca Al-Qur’an Golongan Dewasa dan Qiraat Golongan Sab’ah Mujawwad merayap perlahan menembus udara dingin. Ketika suara sang qari mengalun membelah keheningan, desir angin Simpang Lima terasa membawa magisnya tersendiri. Deru mesin kendaraan di pusat kota mendadak tersamarkan oleh cengkok tartil yang meliuk indah di udara.
Para penonton menahan napas, terhanyut dalam getaran emosi, lantas menyahut pelan dengan lafaz keagungan Tuhan. Malam itu, di hamparan lapangan alun-alun kota, orang-orang bisa merasakan langsung bagaimana teks suci itu hidup dan menyentuh batin mereka.
Dahaga Spiritual yang Terjawab
Bagi Anas Hamzah, pengurus Lembaga Pengembangan Masjid dan Musala (LPMM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, momen puitis semacam ini adalah sebuah kemewahan yang tak ternilai harganya. Pria yang usianya telah menginjak senja, lebih dari 68 tahun, rela menempuh perjalanan membelah padatnya jalanan kota.
Mantan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan ini datang menggandeng sang istri tercinta. Ia melangkah dari ujung barat perbatasan Kota Semarang, menuju pusat kota demi menjadi saksi peristiwa sejarah ini. Ini merupakan malam kedua baginya hadir langsung menyaksikan para qari dan qariah beraksi di panggung MTQ Nasional.
“Suasana cerah malam ini, disertai angin semilir masyarakat Semarang menikmati lantunan lomba MTQ Nasional 31 di Simpang Lima,” tutur Anas Hamzah dengan mata yang menyiratkan genangan haru.
Ia menyadari, kerinduan yang membuncah ini beralasan kuat. Sudah 47 tahun lamanya ajang nasional ini tak kunjung mampir ke bumi Semarang.
Di barisan depan tempat Anas Hamzah duduk, harmoni tanpa sekat terhampar nyata. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, Wakil Wali Kota Semarang Ir. H. Iswar Aminudin MT, dan Ketua PCNU Kota Semarang DR. H. Anasom, M. Hum, duduk mengemper merendahkan hati di atas tikar. Tak ada protokol ketat; yang tersisa hanyalah kesamaan status sebagai hamba Tuhan pencinta Al-Qur’an.
Mencari Makna di Tengah Ribuan Warga
Di sudut lain Simpang Lima, potret spiritualitas yang tak kalah menggugah berhasil direkam oleh Ketua PDM Kota Semarang, Dr. H. Fachrur Rozi, M.Ag. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo ini menyusuri jalannya sendiri. Ia telah hadir di tiga kesempatan berbeda: malam pembukaan, malam setelahnya, hingga malam final ini. Dirinya sengaja mencari titik duduk yang selalu berpindah-pindah demi melebur ke dalam denyut nadi masyarakat akar rumput.
Bagi Fachrur Rozi, manuver tanpa sekat ini memberikannya kepuasan batin yang luar biasa. “Penyelenggaraan MTQ di Kota Semarang ini cukup menggembirakan hati saya pribadi. Dan mungkin juga kebahagiaan bagi ratusan, ribuan, atau mungkin jutaan muslim yang lainnya yang mencintai Al-Qur’an,” ungkapnya dengan nada bergetar penuh syukur.
Lebih lanjut, ia menuturkan alasan emosional di balik kegigihannya untuk selalu hadir di tengah-tengah kerumunan warga, membaur bersama lautan manusia di Lapangan Pancasila Simpang Lima.
“Hanya karena kekhawatiran saya jangan sampai sepi orang yang hadir menyaksikan acara ini. Maka saya merasa perlu untuk memastikan hadir di tengah mereka. Seandainya ada jutaan yang hadir mudah-mudahan saya ada di dalamnya. Jika hanya ribuan yang hadir saya Insyaallah akan ada di dalamnya. Pun seandainya hanya tinggal ratusan saya berharap saya juga masih ada di dalamnya,” tegasnya dengan penuh haru.
Menepis Stigma “Merah” Semarang
Pengamatannya malam itu mematahkan stigma yang kerap menempel pada ibu kota Jawa Tengah ini. Semarang sering kali dilabeli sebagai kota metropolis yang sibuk, bahkan memiliki riwayat sosiologis yang keras atau “merah”. Akan tetapi, Final MTQ Nasional 2026 membuktikan anomali yang indah.
Dari manuver perpindahan tempat duduknya semalam, mata sang akademisi terbuka lebar melihat lanskap keberagamaan yang sesungguhnya. Ia berjumpa dengan para sesepuh Ahlul Qur’an, mantan juara MTQ di masa lampau dan juga para tokoh umat. Namun yang paling membuatnya takjub adalah perjumpaannya dengan generasi muda kota ini. Kekhawatirannya akan apatisme anak muda metropolitan luntur seketika.
“Saya menyaksikan langsung, bersentuhan langsung, mendengar langsung, dari kanan kiri saya anak-anak muda yang memahami seni bacaan Al-Qur’an dengan baik,” ujarnya dengan nada penuh kebanggaan.
Antusiasme para pemuda yang khusyuk menyimak langgam tilawah semalam menjadi bukti bahwa Semarang tidak pernah kering secara spiritual. “Insyaallah mereka yang akan melanjutkan tradisi ini dengan sebaik-baiknya,” tambah Fachrur Rozi.
Pertemuan-pertemuan tanpa skenario di atas rumput ini menyadarkan semua pihak bahwa di hadapan kebesaran Allah SWT, semua manusia sejatinya setara, membaur lebur, dan hanya ketakwaan yang menjadi garis batasnya.
Merawat Kota dengan Lantunan Ayat Suci
Melihat dahaga spiritual yang terjawab tuntas semalam, Fachrur Rozi tak ingin keindahan MTQ Nasional XXXI di Semarang ini terhenti begitu saja. Di penghujung pesannya, ia melontarkan seruan hangat yang menggetarkan, mengajak seluruh lapisan masyarakat—terutama segenap umat Islam dan warga Muhammadiyah di Kota Semarang—untuk tak melewatkan malam puncak penutupan.
“Mari hadir ramaikan, syiarkan ikut menjadi saksi malam-malam indah dibacakannya Al-Qur’an. Sehingga langit Kota Semarang tidak hanya dihiasi oleh suara dentuman musik tapi juga lantunan ayat-ayat Al-Qur’an,” serunya mengajak warga untuk hadir pada Sabtu malam Ahad ini.
Ia berharap, gema suci yang melangit dari pusat kota metropolitan ini mampu mengundang turunnya rahmat Ilahi, mewujudkan harapan luhur menjadikan Semarang—dan Indonesia secara luas—sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Final MTQ Nasional 2026 terbukti sukses menjadi cermin raksasa yang memantulkan identitas sejati warga kota yang senantiasa merawat rindu pada lantunan suci Al-Qur’an.