Tubuh Renta Bukanlah Akhir, Ikhtiar Damai dan Sehat di Usia Senja
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Penurunan fisik kerap memicu rasa frustrasi saat tubuh makin menua. Namun, meratapi hilangnya tenaga masa muda bukanlah jalan keluar yang tepat. Setiap orang sebenarnya bisa tetap berdaya dan sehat usia senja dengan cara mengelola pikiran serta merawat raga.
Topik inilah yang mengemuka dalam kajian kesehatan di Masjid At-Taqwa pada Ahad (20/9/2026). Mayoritas jemaah yang hadir sering mengalami keluhan nyeri persendian dan otot kaku seusai beribadah. Mereka menyimak dengan saksama pemaparan dari pakar fisioterapi sekaligus penceramah, Ustadz Zainal Abidin, S.S.T.Ft.R., M.H.
Sinyal Tubuh yang Kerap Terabaikan
Banyak orang sering mengabaikan alarm penting dari tubuh mereka sendiri. Banyak pihak kerap menganggap rasa lemas atau pegal sekadar imbas dari kelelahan bekerja. Padahal, kondisi ini merupakan teguran nyata dari tubuh yang menuntut perhatian lebih.
Menanggapi fenomena tersebut, Zainal membedah akar masalah penurunan stamina. “Penurunan kekuatan fisik bukanlah proses yang terjadi dalam sekejap, melainkan akumulasi dari kebiasaan dan cara kita memperlakukan tubuh selama bertahun-tahun,” jelasnya kepada para jemaah.
Ia kemudian mengingatkan jemaah tentang hakikat penciptaan manusia. “Kekuatan bukanlah kondisi yang permanen. Suatu saat kita bisa berdiri tegak, namun di waktu lain bisa jadi kita harus menjalani takdir dengan kondisi fisik yang berbeda. Kuncinya adalah bagaimana kita memanfaatkan tubuh ini sebaik mungkin selagi mampu,” terang Zainal.
Menjaga Kebugaran Tubuh Alami lewat Salat
Menyikapi perubahan fisik ini, lansia sebenarnya tidak selalu membutuhkan terapi medis yang mahal. Cara merawat sendi dan otot bisa berawal dari rutinitas harian yang sederhana. Salah satu metode terbaik untuk menjaga kebugaran tubuh alami adalah melalui gerakan salat yang tepat.
Otot manusia mutlak membutuhkan ruang gerak agar tidak mengunci secara perlahan. Saat seseorang jarang meregangkan tubuhnya, otot kaki akan merespons dengan rasa nyeri ketika duduk tawarruk. Karena itulah, gerakan ibadah yang rileks dan seimbang bisa berfungsi layaknya olahraga ringan untuk lansia.
Psikologi Sakit dan Cara Merawat Tubuh dalam Islam
Selain masalah fisik, pikiran ternyata memegang kendali utama atas rasa sakit. Kebiasaan mengeluh kepada orang lain justru memperparah kondisi tubuh. Otak manusia secara otomatis akan memvalidasi keluhan tersebut menjadi sebuah penyakit nyata.
Proses psikologis ini berdampak langsung pada sistem saraf pendengaran dan perasaan. “Ketika ada yang bertanya mengapa kita terlihat sakit, lalu kita menjawab dengan keluhan, secara tidak langsung otak merespons dan memvalidasi bahwa tubuh kita memang bermasalah,” ungkapnya mengingatkan jemaah. Respons inilah yang membuat memori otak merekam rasa nyeri secara berlebihan.
Berangkat dari fakta tersebut, cara merawat tubuh dalam Islam menuntut sinergi antara keikhlasan hati dan aktivitas fisik. Masyarakat harus berhenti menghakimi rasa sakit dan mulai menumbuhkan pikiran positif. Lewat pengelolaan stres yang baik dan tubuh yang aktif bergerak, impian hidup damai serta sehat usia senja pasti bisa terwujud.