Sejarah Pembukuan Al Quran Tepis Tuduhan Kitab Karangan Manusia
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Masih ada pihak yang menuduh kitab suci umat Islam hanyalah rekayasa atau karangan manusia biasa dari masa lalu. Nyatanya, rentetan fakta terkait mukjizat Alquran berhasil menepis keraguan tersebut secara telak melalui bukti sejarah yang tak terbantahkan.
Penjelasan mendalam mengenai hal ini terungkap dalam khutbah salat Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates, pada hari Jumat (25/09/2026). Sukamdo M.Si selaku Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang memaparkan bagaimana proses dan sejarah pembukuan Alquran merekam kegagalan umat manusia dalam menjawab sayembara Sang Pencipta. Tokoh agama ini mengingatkan jemaah bahwa keraguan semacam itu sebenarnya sudah mengakar sejak ribuan tahun silam.
Tiga Level Tantangan Allah dalam Alquran
Sejak era kenabian hingga peradaban modern, banyak cendekiawan skeptis mencoba meruntuhkan validitas wahyu ilahi ini. Menghadapi fenomena tersebut, Sang Pencipta merespons keraguan kaum kafir lewat sebuah sayembara terbuka yang bertahap. Sukamdo menguraikan bahwa ujian ini sengaja Allah berikan untuk membungkam keangkuhan logika manusia dan jin.
“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, niscaya mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, sekalipun sebagian mereka membantu sebagian yang lain,” tegasnya merujuk pada Surah Al-Isra ayat 88.
Tantangan level pertama yang menuntut pembuatan karya utuh 30 juz ini terbukti gagal total di tangan umat manusia. Tidak ada satu pun ahli bahasa yang mampu menandingi presisi makna maupun kedalaman hukumnya. Merespons kebuntuan kaum intelektual tersebut, Tuhan dengan elegan menurunkan level tantangannya menjadi 10 surah saja.
Sayangnya, sejarah kembali mencatat kegagalan telak manusia dalam memenuhi syarat tersebut. Rentetan kegagalan ini secara logis menjadi bukti kebenaran Islam yang terus menyala melintasi peradaban. Puncaknya, Allah mereduksi ujian intelektual itu hingga level yang paling minimalis.
“Zaman Nabi, sahabat, tabi’in, bahkan sampai dengan zaman kita sekarang ini, tidak ada manusia yang mampu membuat serupa Al-Qur’an satu surah pun,” ucap Sukamdo mempertegas tantangan terakhir di hadapan para jemaah.
Jawaban Atas Alasan Klasik Umat
Ironisnya, realitas agung terkait mukjizat Alquran ini kerap membentur kebiasaan buruk di tengah masyarakat akar rumput. Umat Islam modern justru sering menciptakan dinding imajiner yang memisahkan mereka dengan tuntunan hidupnya sendiri. Banyak orang merasa langkah untuk mempelajari firman Tuhan ini terlalu sulit dijangkau.
Wakil Ketua PDM Kota Semarang ini menyoroti langsung dalih klasik yang sering menggema di lingkungan sekitar kita. “Bahkan banyak yang menyatakan, ‘Aku ki wis apek, timbangane moco mending tahlilan’ (Aku ini sudah tua/capek, daripada membaca mending tahlilan),” ucapnya menirukan kelelahan batin sebagian kelompok usia lanjut. Alasan semacam ini justru menghalangi umat untuk menyelami pedoman hidup mereka secara utuh.
Padahal, asumsi kerumitan itu otomatis terbantahkan manakala kita melihat realitas di lapangan. Jutaan anak kecil terbukti mampu menghafal bait-bait suci ini dengan ingatan yang sangat jernih.
Membawa Mukjizat Alquran ke Dalam Rumah
Berpijak dari rentetan fakta tersebut, kekaguman terhadap bukti kebenaran Islam pantang berhenti hanya di mimbar masjid. Tuntunan mulia ini harus segera menyatu menjadi kebiasaan harian di setiap sudut rumah keluarga muslim. Perubahan positif ini tentu menuntut para orang tua untuk segera mengambil peran aktif.
“Mari rumah-rumah kita, kita sinari dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an,” pesan Sukamdo memberikan solusi praktis bagi ketenangan batin keluarga. Cahaya keberkahan ini akan muncul saat orang tua mau meluangkan waktu secara konsisten bersama anak-anaknya.
Lebih dari sekadar menjatuhkan perintah, orang tua modern wajib menampilkan keteladanan secara langsung. Anak-anak zaman sekarang jauh lebih membutuhkan sosok pendamping nyata, bukan sekadar instruksi sepihak untuk belajar atau menunaikan salat.
Mendampingi anak mengaji sehabis Maghrib adalah sebuah langkah kecil yang melahirkan dampak raksasa. Praktik hangat ini tidak hanya merawat memori mulia dari sejarah pembukuan Alquran, tetapi juga menanamkan bukti kebenaran Islam secara kokoh di dada generasi penerus. Lewat rutinitas sederhana inilah, mukjizat Alquran dan pesona tantangan Allah dalam Alquran akan terus hidup merawat akal serta iman keluarga kita.