Rahasia Keluarga Sakinah: Saat Kewarasan Ibu Jadi Prioritas
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak ibu rumah tangga memaksakan diri tampil sempurna meski batinnya menjerit kelelahan. Padahal, rahasia keluarga sakinah justru berawal dari kesehatan mental dan kewarasan seorang istri. Perempuan berhak mengambil jeda sejenak tanpa perlu merasa bersalah.
Menjawab keresahan tersebut, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Jomblang 2 menggelar kajian khusus perempuan. Acara ini berlangsung hangat pada Sabtu, 26 September 2026, bertempat di Masjid Mujahiddin Semarang. Puluhan peserta antusias mengikuti majelis ilmu yang fokus membahas peran ibu ini.
Ketua PRA Jomblang 2, Aezun, S.Pd., melihat langsung bagaimana beban harian menguras energi para ibu. Ia menekankan bahwa ruang belajar bersama sangat penting untuk menguatkan mental perempuan.
“Menjadi istri dan ibu yang bahagia bukan berarti tanpa lelah, tapi bagaimana kita mampu merawat diri, menjaga hati, dan terus belajar. Semoga majelis ilmu sore ini membawa keberkahan untuk keluarga kita semua,” tutur Aezun dalam sambutannya.
Seni Mengelola Emosi Ibu
Wakil Ketua PRA Jomblang 2, dr. Afiana Rohmani, Ph.D., ikut menyoroti realitas ini dari sudut pandang medis. Dosen Fakultas Kedokteran Unimus ini menilai mengelola emosi ibu merupakan tantangan terbesar masa kini. Oleh karena itu, perempuan wajib memiliki keterampilan tersebut untuk mencegah stres berat.
Pandangan medis itu sejalan dengan analisis Psikolog Undip, Bunda Darosy, yang hadir sebagai narasumber utama. Ia membongkar fakta bahwa posisi istri sangat menentukan iklim psikologis seisi rumah. Ia mengajak peserta melihat kembali prioritas mereka sehari-hari.
“Istri adalah manajer utama dalam rumah tangga. Kebahagiaan istri akan menular pada kebahagiaan suami dan anak-anak,” tegas Bunda Darosy. Mengingat peran sentral tersebut, merawat diri secara fisik dan mental menjadi syarat mutlak bagi seorang ibu.
Harmoni Suami Istri
Dampak dari kewarasan ibu ini langsung memengaruhi dinamika hubungan pernikahan. Praktik ini sekaligus membuktikan pepatah istri bahagia suami bahagia di kehidupan nyata. Jika mental ibu stabil, kualitas pengasuhan anak pasti akan meningkat drastis.
Meskipun demikian, istri tidak bisa berjuang sendirian untuk menciptakan iklim positif ini. Islam mewajibkan suami dan istri sama-sama menuntut ilmu untuk bertumbuh bersama. Mereka harus saling bekerja sama mempraktikkan tips keharmonisan rumah tangga secara konsisten.
Ketaatan yang Membawa Berkah
Selain kerja sama tim, kelanggengan hubungan juga membutuhkan sikap saling menghormati. Ketaatan istri kepada suami dalam kebaikan memegang peranan penting. Sikap ini bukan berarti merendahkan martabat, melainkan bentuk cinta demi menjaga keutuhan keluarga.
“Bahagia itu keterampilan yang harus dilatih. Dengan ilmu, dengan iman, dan dengan saling taat dalam kebaikan, insyaAllah keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah,” pesan Bunda Darosy di akhir tausiyahnya.
Pada akhirnya, kunci kedamaian rumah tidak lahir dari kesempurnaan seorang ibu. Kedamaian hadir saat perempuan berani merangkul rasa lelahnya dan kembali menata hati. Mengelola kewarasan istri memang langkah awal terbaik untuk membangun peradaban keluarga yang tangguh.