Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tanpa Dokumen Bukan Penghalang, Diaspora Muhammadiyah Malaysia Pasang Badan Buka Sekolah Anak Pekerja Migran

5 Oktober 2026, 15:49 WIB • 2 menit baca
Siswa-siswi dan para pengajar Sanggar Bimbingan Muhammadiyah berfoto bersama dengan pose ceria di dalam ruangan kelas berpapan nama "Sanggar Bimbingan Muhammadiyah Kampung Baru Kuala Lumpur".
Potret kebersamaan dan senyum riang anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) bersama jajaran pengajar dan relawan di Sanggar Bimbingan Muhammadiyah Kampung Baru, Kuala Lumpur, Malaysia. Inisiatif nyata PCIM-PCIA Malaysia ini hadir memberikan akses pendidikan anak malaysia bagi anak-anak PMI non-dokumen agar tetap memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah.

KUALA LUMPUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Keterbatasan status dokumen kependudukan kerap menjadi tembok tebal bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia untuk mengenyam bangku sekolah. Namun, kondisi miris tersebut tidak menghentikan kepedulian para diaspora Indonesia untuk pasang badan menyelamatkan hak dasar belajar mereka.

Melansir pemberitahuan resmi dari portal berita muhammadiyah.or.id, Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PCIM-PCIA) Malaysia menginisiasi pendirian Sanggar Bimbingan (SB) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Langkah nyata ini menjangkau anak-anak pahlawan devisa yang sebelumnya terancam putus sekolah akibat ketiadaan dokumen resmi.

Istimewanya, PCIM-PCIA Malaysia yang berdiri sejak 2007 ini bertransformasi dari sekadar organisasi mahasiswa menjadi wadah perjuangan sosial PMI. Kehadiran para pekerja migran di jajaran kepengurusan kian memperluas jangkauan program pemberdayaan perempuan dan pendidikan di Negeri Jiran.

Menjelma Jadi Oase Pendidikan Anak PMI Non-Dokumen

Wakil Ketua PCIA Malaysia, Nita Nasyitah, mengungkapkan bahwa status administratif orang tua tidak boleh merenggut cita-cita anak-anak Indonesia. Berawal dari ruang Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang sederhana, layanan belajar tersebut kini bertransformasi menjadi pusat kegiatan belajar formal penuh waktu.

“Ibu-ibu banyak yang meluangkan waktu untuk mengajar anak di sana, yang awalnya itu bermulai dari TPA sebetulnya. Dari TPA dulu kemudian baru empat tahun terakhir dibuat Sanggar Bimbingan,” ungkap Nita

Proses belajar mengajar di Sanggar Bimbingan kini berjalan rutin setiap hari Senin hingga Jumat, persis seperti sekolah umum. Dedikasi para pengajar sukarela ini sukses memulihkan rasa percaya diri anak-anak PMI di perantauan.

Ketulusan Mengabdi Tanpa Membedakan Status

Pengabdian tulus ini menjadi bukti nyata hadirnya nilai kemanusiaan di tengah dinamika pekerja migran di Malaysia. Tak sekadar membuka Sanggar Bimbingan, Pimpinan Ranting Istimewa ‘Aisyiyah (PRIA) di berbagai wilayah Malaysia juga kompak membangun jaringan PAUD mandiri.

Langkah progresif Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ini sukses merobohkan stigma dan keterbatasan tempat tinggal para pekerja migran. Di tengah kerasnya kehidupan perantauan, harapan dan mimpi anak-anak bangsa tetap menyala terang.

Senyum riang anak-anak di kelas menjadi hadiah terindah bagi para relawan diaspora. Melalui akses pendidikan yang setara, masa depan generasi penerus Indonesia di tanah perantauan terus terjaga dengan hangat.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: