Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 7 menit baca

Dari Ruang Kelas Muhammadiyah ke Oxford

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orwil Jawa Tengah

Dari Ruang Kelas Muhammadiyah ke Oxford
Fungsionaris ICMI Orwil Jawa Tengah, Gunoto Saparie. Ia menyoroti bagaimana praktik kehidupan toleransi beragama di ruang kelas pendidikan Muhammadiyah kini sukses menembus ruang kajian akademik internasional di Oxford, Inggris. (Foto: Dok. Istimewa)

Ada perjalanan yang tidak ditempuh dengan pesawat terbang. Ia bermula dari sebuah ruang kelas. Di sana seorang anak duduk di antara anak-anak lain. Mereka mungkin berbeda nama keluarga, berbeda cara berdoa, berbeda rumah ibadah. Tetapi pada jam tertentu mereka berhadapan dengan papan tulis yang sama. Mereka belajar matematika, sejarah, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Mereka mengerjakan pekerjaan rumah, mengikuti ujian, mungkin juga sesekali mengeluh karena tugas terlalu banyak. Kehidupan sekolah, dalam arti yang paling sederhana, berlangsung seperti biasa.

Namun, justru dalam yang biasa itu, kadang-kadang sebuah gagasan besar tumbuh.

Dua buku karya Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kini menjadi koleksi Oxford Centre for Islamic Studies (OCIS), Inggris. Yang menarik bukan semata-mata bahwa dua buku dari Indonesia sampai ke sebuah lembaga akademik di Oxford. Yang lebih menarik adalah apa yang dibawa kedua buku itu: pengalaman tentang pendidikan, kemajemukan, toleransi, dan kehidupan beragama yang berlangsung dalam keseharian lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Sebab, sebuah gagasan sering kali menjadi lebih berarti ketika ia tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani.

Pluralisme, misalnya, adalah kata yang mudah menjadi hiasan pidato. Toleransi juga demikian. Kita dapat menuliskannya dalam dokumen, mencetaknya dalam brosur, atau mengucapkannya pada sebuah seminar. Tetapi makna kata-kata itu diuji bukan di podium. Ia diuji ketika seseorang yang berbeda keyakinan masuk ke ruang yang sama dan diterima sebagai bagian dari kehidupan bersama.

Di sinilah pengalaman sekolah menjadi penting.

Sebuah sekolah pada dasarnya adalah laboratorium kecil kehidupan sosial. Di sana manusia belajar bukan hanya dari buku pelajaran. Mereka belajar mengenai batas dan perbedaan. Mereka belajar bahwa teman di sebelahnya dapat memiliki keyakinan yang tidak sama. Dan mereka belajar pula bahwa perbedaan tidak selalu membutuhkan jarak.

Dan mungkin, dalam pengertian itu, pendidikan lebih tua daripada teori-teori tentang toleransi.

Seorang siswa Kristen atau Katolik yang belajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak sedang membaca definisi kemajemukan di sebuah buku teori. Ia sedang mengalaminya. Ia masuk ke gerbang sekolah, duduk di bangku, bertemu guru, bergaul dengan teman, dan menjalani rutinitas pendidikan di sebuah institusi yang memiliki identitas Islam.

Pertemuan semacam itu tampak sederhana. Tetapi sejarah masyarakat yang majemuk justru tersusun dari kesederhanaan-kesederhanaan seperti itu.

Kita sering membayangkan pluralisme sebagai sebuah konsep besar yang membutuhkan perdebatan besar. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, pluralisme mungkin bermula dari sesuatu yang jauh lebih kecil: kesediaan untuk berbagi ruang.

Berbagi ruang tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, ia mengandaikan bahwa perbedaan memang ada.

Karena itu, gagasan tentang “Pluralisme Positif” menjadi menarik ketika ditempatkan dalam pengalaman Muhammadiyah. Pluralisme di sini bukan sekadar kesadaran bahwa manusia berbeda. Ia memperoleh bentuk melalui tindakan sosial, terutama pendidikan. Ada perbedaan yang tidak disangkal, tetapi juga tidak dijadikan alasan untuk menutup pintu.

Mungkin di sinilah pendidikan menemukan salah satu tugasnya yang paling tua sekaligus paling sulit: mengajarkan manusia bagaimana hidup bersama manusia lain.

Kita hidup dalam zaman ketika perbedaan mudah berubah menjadi identitas yang keras. Teknologi komunikasi membuat seseorang dapat menemukan ribuan orang yang berpikiran sama dalam hitungan detik. Algoritma dapat membuat kita nyaman berada di dalam lingkaran sendiri. Kita membaca berita yang sesuai dengan keyakinan kita, mengikuti orang yang memperkuat pandangan kita, dan tanpa sadar menganggap dunia di luar lingkaran itu sebagai sesuatu yang asing.

Dalam keadaan seperti itu, sekolah menjadi penting bukan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai tempat perjumpaan.

Anak-anak tidak memilih semua perbedaan yang mereka temui di sekolah. Mereka tidak selalu dapat menentukan siapa yang duduk di sebelah mereka. Dan mungkin justru karena itulah pendidikan mempunyai kemungkinan yang tidak dimiliki oleh banyak ruang lain: ia mempertemukan manusia sebelum prasangka sempat menjadi terlalu kokoh.

Di ruang kelas, perbedaan dapat menjadi pengalaman sebelum menjadi teori.

Dari sana kita dapat memahami mengapa dua buku yang berangkat dari pengalaman pendidikan Muhammadiyah kemudian menemukan jalannya ke Oxford. Yang bergerak bukan hanya buku. Yang bergerak adalah pengalaman lokal menuju percakapan yang lebih luas.

Oxford, dalam imajinasi banyak orang Indonesia, mungkin terdengar seperti sebuah nama yang sangat jauh. Kota tua, universitas tua, perpustakaan, tradisi akademik yang panjang. Tetapi jarak geografis tidak selalu sama dengan jarak gagasan.

Sebuah pengalaman yang terjadi di sekolah Muhammadiyah di Indonesia dapat menjadi bahan pertanyaan bagi dunia akademik di Inggris.

Bagaimana pendidikan agama bekerja dalam masyarakat plural? Bagaimana sebuah organisasi Islam membangun lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat warga dengan latar belakang agama berbeda? Dan bagaimana toleransi dipraktikkan, bukan hanya dirumuskan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat sebuah pengalaman lokal menjadi relevan secara global. Dan di sinilah makna internasionalisasi sebuah organisasi keagamaan mungkin perlu dipahami dengan lebih hati-hati.

Internasionalisasi bukan sekadar semakin seringnya sebuah nama disebut di luar negeri. Bukan pula semata-mata bertambahnya jumlah kegiatan, kunjungan, konferensi, atau cabang di berbagai tempat.

Ada bentuk internasionalisasi yang lebih sunyi.

Sebuah pengalaman dibaca. Sebuah praktik dikaji. Atau sebuah gagasan dipertanyakan. Lalu pengalaman itu masuk ke dalam percakapan yang melampaui batas tempat ia dilahirkan.

Itulah yang membuat sebuah buku penting. Buku tidak membawa kita pergi seperti pesawat. Ia membawa sesuatu yang lebih sulit dibawa: pengalaman.

Dari sebuah sekolah di Indonesia, pengalaman tentang kehidupan bersama dapat masuk ke ruang kajian akademik internasional. Dari sebuah praktik pendidikan, lahir pertanyaan tentang agama dan masyarakat. Dan dari sebuah organisasi yang berakar dalam sejarah Indonesia pula muncul gagasan yang dapat dibaca oleh orang yang mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di sekolah Muhammadiyah.

Ada sesuatu yang menarik dalam arah perjalanan ini.

Selama ini kita sering membayangkan arus pengetahuan bergerak dari pusat ke pinggiran. Dunia membaca teori dari Barat, kemudian teori itu diterapkan di tempat lain. Universitas di negara berkembang belajar dari universitas di negara maju. Konsep-konsep global turun ke ruang kelas lokal.

Tetapi perjalanan dua buku Abdul Mu’ti menawarkan arah yang lain. Pengalaman Indonesia bergerak keluar. Bukan untuk mengatakan bahwa Indonesia memiliki semua jawaban. Bukan pula untuk menganggap pengalaman Muhammadiyah sebagai model yang dengan sendirinya harus diterima di tempat lain. Tetapi untuk menawarkan sesuatu yang layak dipelajari.

Di sana terdapat kerendahan hati sekaligus keberanian.

Kerendahan hati, karena pengalaman lokal bersedia masuk ke ruang akademik untuk dibaca dan mungkin diperdebatkan. Keberanian, karena pengalaman dari Indonesia tidak lagi diposisikan hanya sebagai penerima pengetahuan, melainkan juga sebagai sumber pertanyaan dan pengetahuan.

Bukankah demikian seharusnya percakapan berlangsung? Bukan dengan keyakinan bahwa kita datang membawa kebenaran yang selesai, melainkan dengan kesediaan mengatakan: inilah yang kami alami; apa yang dapat kita pelajari darinya?

Dalam hal ini, pendidikan Muhammadiyah mempunyai sejarah yang panjang. Ia bukan hanya tentang pembangunan sekolah atau perguruan tinggi. Ia merupakan bagian dari usaha membentuk masyarakat melalui pengetahuan. Pendidikan menjadi salah satu jalan dakwah, tetapi dakwah dalam pengertian yang tidak selalu berupa kata-kata.

Ada dakwah yang berlangsung melalui buku. Ada melalui guru. Juga ada melalui sekolah. Dan ada melalui cara sebuah institusi memperlakukan orang yang berbeda.

Barangkali yang terakhir itu justru yang paling sulit, sebab ia tidak cukup diumumkan. Ia harus dijalankan.

Toleransi yang baik bukan toleransi yang sibuk mengatakan dirinya toleran. Ia tampak dalam kebiasaan sehari-hari. Dalam cara seseorang membuka pintu. Dalam cara seorang guru mengajar murid. Dan dalam cara institusi memberi ruang. Atau dalam kesediaan untuk hidup berdampingan tanpa meminta perbedaan menghilang lebih dahulu.

Maka perjalanan dari ruang kelas Muhammadiyah menuju ruang kajian Oxford bukanlah perjalanan dari sesuatu yang kecil menuju sesuatu yang besar.

Ruang kelas itu sendiri sudah besar, jika di dalamnya manusia belajar hidup bersama. Oxford hanya menyediakan ruang lain untuk menanyakan kembali apa yang telah terjadi di sana.

Barangkali pendidikan memang demikian: sebuah percakapan yang tidak selesai.

Seorang guru berbicara kepada murid. Murid kelak berbicara kepada masyarakat. Sebuah sekolah menghasilkan pengalaman. Pengalaman melahirkan gagasan. Gagasan kemudian menyeberangi batas geografis dan masuk ke perpustakaan, universitas, dan ruang-ruang diskusi yang jauh.

Dari Indonesia, ia menuju dunia. Tetapi dunia, mudah-mudahan, juga kembali kepada Indonesia dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan baru.

Sebab internasionalisasi yang paling berarti bukanlah ketika dunia mengenal nama kita. Ia terjadi ketika pengalaman kita membuat dunia berpikir. Dan mungkin dari sanalah sebuah ruang kelas yang sederhana memperoleh arti yang lain. Papan tulisnya boleh tetap sama. Bangkunya mungkin tidak berubah. Anak-anak tetap datang membawa buku dan tas.

Tetapi tanpa mereka sadari, sesuatu yang terjadi di dalam ruang itu dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh. Dari ruang kelas pendidikan Muhammadiyah, menuju ruang kajian Oxford. Dan dari sana, barangkali, kembali lagi kepada kita, sebagai pertanyaan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bersama.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: