Ketika Sains dan Iman Bertemu: Mengapa Adab di Majelis Taklim Menentukan Derajat Seorang Pencari Ilmu?
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menuntut ilmu mengandalkan pembentukan akhlak mulia, melampaui hafalan teks atau pengejaran gelar semata. Di era modern yang serba cepat ini, pemahaman mengenai pentingnya adab di majelis taklim sering kali terabaikan oleh para pencari pengetahuan.
Menghidupkan Kembali Ruh Majelis Ilmu
Suasana khidmat menyelimuti Masjid At-Taqwa, Komplek RS Roemani, Jalan Raya Wonodri 22, Kota Semarang. Tepat pada Ahad pagi, 18 Oktober 2026 atau bertepatan dengan 7 Jumadil Awal 1448 H, para jamaah tampak antusias memadati ruangan sejak fajar menyingsing. Kehadiran mereka di tempat itu didorong oleh satu tujuan yang sama, yakni menggali kedalaman makna adab menuntut ilmu langsung dari para ahli.
Dr. Zuhad Masduki, M.Ag., hadir sebagai penceramah utama dalam Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PDM Kota Semarang. Mengusung tema besar “Adab Majelis dan Kedudukan Ilmuwan”, ia menguraikan bagaimana Islam sangat memuliakan etika dalam menimba ilmu pengetahuan. “Kelapangan dada di dalam majelis adalah cerminan iman yang hidup, di mana setiap hamba saling menghormati ruang saudaranya,” ujar Zuhad Masduki di hadapan para jamaah yang menyimak dengan saksama.
Pesan tersebut merujuk langsung pada tuntunan Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menekankan pentingnya melapangkan tempat duduk demi kenyamanan bersama. Menurut Zuhad Masduki, tata krama fisik ini menjadi gerbang awal sebelum seseorang menyerap luasnya samudra hikmah. “Etika sederhana seperti merapatkan shaf dan memberi ruang bagi sesama ternyata menjadi fondasi utama sebelum seseorang menyerap luasnya samudra pengetahuan,” tambahnya menegaskan esensi akhlak bermajelis.
Harmoni Ayat Kauniyah dan Posisi Mulia Ilmuwan
Tak berhenti pada tata krama sosial, pembedahan mendalam terhadap surat al mujadilah ayat 11 tentang ilmu membuka kesadaran baru tentang posisi mulia para ilmuwan. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan mereka yang dianugerahi ilmu pengetahuan beberapa tingkat lebih tinggi. “Ilmu berfungsi sebagai sarana menumbuhkan rasa takut sekaligus kagum kepada Sang Pencipta, melebihi fungsi utamanya sebagai alat kebanggaan diri,” ungkap Zuhad Masduki saat mengaitkan ayat tersebut dengan fenomena alam semesta.
Harmoni antara ayat-ayat kauniyah seperti siklus hujan, variasi warna magma di perut bumi, hingga misteri genetika dalam Surah Fathir membuktikan bahwa sains modern sejalan dengan kebenaran wahyu. Oleh karena itu, penerapan etika pencari ilmu islam menjadi sebuah keharusan agar kecerdasan akal tidak kehilangan arah moralnya. Para jamaah kemudian membubarkan diri dengan membawa pulang pencerahan baru tentang bagaimana adab dan ilmu harus selalu berjalan seiring.
Sebab pada akhirnya, setinggi apa pun ilmu yang direngkuh, seorang manusia tidak akan pernah menjadi mulia di hadapan-Nya tanpa ketundukan hati dan keluhuran adab di majelis taklim tempat ia pertama kali belajar merendahkan diri.