Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Oleh: Prof. Dr. Ahwan Fanani, Pakar Budaya dan Kajian Islam UIN Walisongo Semarang

Mengapa, setelah sekian putaran “belajar agama,” kita masih saja disergap rasa hampa? Seperti sebuah wadah yang, entah mengapa, terasa jauh dari hakikat.

Kisah Wujil, seorang mualaf dari Majapahit yang mengeluh setelah satu dekade menuntut ilmu, terasa begitu akrab. Ia telah “berpindah iman,” katanya, tapi “kebenaran sejati” tak juga ia genggam.

Bukankah ini cermin dari banyak di antara kita? Terjebak dalam formalitas, mengenakan topeng kesalehan. Sementara di dalam, kita masih bergumul dengan gumpalan nafsu, keangkuhan, dan sehelai kepalsuan. Mungkin, kita salah satunya?

Wujil, berguru pada Syekh Barri—yang konon adalah Sunan Bonang, atau setidaknya murid utamanya—merasa ada keganjilan. Ia telah merasakan kerasnya hidup pesantren, menjalani prihatin. Namun, apa yang benar-benar berubah dalam dirinya? Sebuah kejujuran spiritual, langka kini, di tengah riuh-rendah media sosial di mana orang sibuk memamerkan ketaatan, sementara hatinya kering kerontang.

Syekh Barri, dengan kearifan seorang sufi, menjawab keluh kesah Wujil dengan tiga metafora yang menohok. Relevan, bahkan di abad digital ini.

Pertama, perumpamaan telur. “Kalau belajar, jangan menuntut. Jangan berkepentingan ingin menuntut menjadi orang. Jangan seperti telur yang luarnya putih, ternyata dalamnya kuning.”

Sebuah tamparan telak. Berapa sering kita belajar atau beramal bukan semata karena Allah, melainkan karena ingin “dianggap”, “dilihat”, “dihormati”? Wujil datang belajar, niatnya tulus. Tapi kita? Seringkali, tanpa sadar, menginginkan “kemuliaan”—disimbolkan kuning dalam budaya Jawa—yakni dipandang alim, punya kedudukan, atau pujian. Di dalamnya, terselip nafsu. “Jobone putih jerone ireng,” luarnya putih dalamnya hitam.

Atau bahkan jika kuning pun, jika di sana ada nafsu duniawi, ia takkan mencapai makna terdalam Islam. Sebab Islam itu pasrah, menerima dengan tulus, hanya karena Allah. Maka, pesan pertama Syekh Barri jelas: perbaiki niat. Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya.” Sebuah refleksi yang tak pernah usang.

Lalu, kisah bangau. Seekor bangau tua, biasa memangsa ikan, tiba-tiba “bertobat”. Berdiam diri di danau, tak lagi berburu. Ikan-ikan pun percaya, menganggapnya suci. Di musim kering, bangau menawarkan bantuan, memindahkan ikan-ikan ke kolam lain.

Namun, si kepiting yang cerdik, menaruh curiga. Ia minta diangkut terakhir, sambil memegang leher bangau saat terbang. Terlihatlah di bawah, kerangka-kerangka ikan yang telah habis dimangsa. Bangau yang pura-pura tobat itu ternyata pemakan sesama.

Pesan Syekh Barri: “Don’t judge a book by its cover”. Jangan menilai dari sampulnya, dari penampilan luarnya yang kini begitu mudah dipoles dan dipamerkan.

Bangau bisa berubah penampilan, tapi watak aslinya tidak. Bantuan yang seolah tulus itu hanyalah cara untuk melahap sesama. Ini mengajarkan Wujil, dan kita hari ini: jangan hanya mengubah kulit, tapi ubahlah yang di dalam diri. Mata hati dan mental, itulah yang harus sejalan dengan niat hakiki.

Carilah kebenaran tidak hanya pada formalitasnya, tapi pada apa yang bersemayam di dalam. Nabi bersabda, “Ketahuilah di dalam dirimu ada segumpal darah. Jika dia itu baik maka baik seluruh tubuhnya dan jika itu buruk maka buruklah, ketahuilah dia adalah hati manusia.”

Terakhir, filosofi kaca atau cermin. Kaca itu mampu menangkap seluruh wujud, dekat maupun jauh, tanpa diskriminasi. Cermin, dalam budaya Jawa—dan dalam Islam—adalah simbol mengenal diri sendiri. Dengan mengenal diri, kita akan mengenal Tuhan. Sebuah adagium sufi yang tak lekang oleh zaman: “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”

Jika kita mengenal diri sebagai makhluk lemah, tak berdaya di hadapan pandemi, krisis, atau bencana, kita akan mengenal Zat Yang Maha Kuasa. Jika kita tahu diri terbatas, fana, kita akan mengenal Tuhan yang tak terbatas, Abadi. Jika kita fakir, butuh, kita akan mengenal Zat yang Maha Kaya.

Imam Ghazali, seorang permata ilmu, bahkan mengatakan, hati kita ibarat cermin. Jika dibersihkan dari kotoran nafsu dan syahwat, dari iri dan kesombongan, ia akan memantulkan pemahaman yang lebih tinggi, lebih jernih. Jika kotor, ia takkan mampu mencerminkan keagungan Ilahi.

“Ngeli ning ora keli”: menghanyutkan diri tapi tidak terhanyut. Ikuti arus zaman, serap yang baik dari kemajuan teknologi, dari pertukaran budaya, tapi jangan sampai kehilangan jati diri. Budaya Jawa itu “momot” (memuat, mengakomodasi, bersinergi) dan “momor” (menjadi satu). Namun, keunikan diri tak boleh hilang.

Di era globalisasi, kita menerima perubahan, menyantap makanan cepat saji, menyeruput kopi impor, menikmati musik global, mengikuti mode fashion terkini, namun tetap melestarikan identitas. Islam juga mengajarkan “as-tsabit wal mutakhayyir”: ada nilai-nilai yang tetap (keimanan, tauhid, akhlak dasar) dan ada yang berubah (pakaian salat, cara haji yang menyesuaikan zaman).

Maka, mari merenung. Mempelajari filosofi Wujil, telur, bangau, dan cermin ini adalah menyelami kesadaran akan diri dan lingkungan. Agar kita tahu bagaimana bersikap tepat dalam setiap situasi, berada pada titik yang “benar” dan “pener”—tepat sasaran, tepat guna.

Di tengah badai zaman yang menghempas, di mana identitas mudah larut, di mana niat seringkali terdistorsi oleh validasi media sosial, hanya dengan niat yang lurus, hati yang bersih, dan pemahaman diri yang mendalam, kita bisa tetap teguh, tak goyah, dan menemukan hakikat Islam yang sejati.

Ini, barangkali, adalah peta jalan kita menuju kemurnian iman. Sebuah perjalanan yang takkan usai, sampai napas terakhir

*Konten ini juga bisa ditonton di channel youtube @attaqwa_ngaliyan di link https://www.youtube.com/watch?v=ikXvApED9sw&t=44s (bagian 1) dan https://www.youtube.com/watch?v=CAiSLHeZ3pg&t=21s (bagian 2)