Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Rahasia Dibalik Seminar “Great Teacher” Mengubah Cara Guru Mengajar

19 Juli 2025, 07:26 WIB 3 menit baca
Rahasia Dibalik Seminar “Great Teacher” Mengubah Cara Guru Mengajar

TEMBALANG, Muhammadiyahkotasemarang.org – Aula Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) pada Jumat, (18/07/2025), dipenuhi optimisme dan semangat kolaborasi. Ratusan pendidik dari berbagai jenjang, mulai dari TK hingga SMA/SMK, berkumpul dalam Seminar Nasional How To Be a Great Teacher. Acara ini merupakan inisiatif Teacher Preneur Nusantara Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kota Semarang, menjadi momentum penting untuk memperkuat peran guru sebagai garda terdepan pembangun peradaban.

Ketua Majelis Dikdasmen & PNF Kota Semarang, Drs. Sutarto, M.M., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa seminar ini diikuti oleh 506 guru. Ia menekankan bahwa kegiatan ini tak hanya sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga platform strategis untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dari guru-guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah.

“Guru adalah jantung pendidikan. Jika jantung ini berdetak dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, maka nadi pendidikan akan hidup dan mengalir ke seluruh sendi kehidupan bangsa” Ungkap Sutarto.

Membangun Guru Abad ke-21: Kreativitas dan Akidah

Visi guru masa depan yang adaptif dan berkarakter kuat menjadi inti pembahasan. Dr. Eny Winaryati, M.Pd., Wakil Rektor III Unimus, menyoroti urgensi entrepreneurial mindset yang telah digaungkan oleh tokoh Muhammadiyah, Musyafi’, sejak 1926. Ia secara lugas menyatakan,

Sambutan Wakil Rektor III, Dr. Eny Winaryati, M.Pd dalam acara pembukaan Seminar Nasional How To Be a Great Teacher. (Foto: Afida)

“pada abad ke-2 ini, kita dituntut untuk tidak hanya mengajar, tapi juga membangun karakter anak didik melalui kemampuan critical thinking, problem solving, kolaborasi, dan inovasi” Ujarnya dengan tegas di atas mimbar.

Senada dengan pandangan tersebut, Dr. Bunyamin, M.Pd., Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang itu, menekankan pentingnya pengalaman belajar mendalam bagi siswa untuk jangka panjang. Ia memaknai Great Teacher secara sederhana: “diberikan kemampuan kreativitas untuk bisa survive.”

Namun, ia memberikan penekanan penting, bahwa kreativitas tersebut harus “diimbangi dengan nilai-nilai akidah,” sebuah fondasi moral dan spiritual yang tak boleh diabaikan.

Pihak Teacher Preneur Nusantara menegaskan bahwa program ini dirancang khusus untuk menunjang peningkatan kemampuan guru di lingkungan Muhammadiyah.

Mereka meyakini bahwa “Muhammadiyah memiliki kekuatan yang sangat besar untuk bisa memberikan dampak di dunia pendidikan yang ada di Indonesia,” sebuah potensi yang perlu terus dioptimalkan.

Transformasi Pola Pikir: Dari Masa Lalu ke Masa Depan

Sesi yang paling dinanti, dibawakan oleh motivator nasional Syafii Efendi, M.M., sukses membakar semangat para peserta. Dengan gaya komunikatifnya, ia mendorong para guru untuk melepaskan belenggu masa lalu dan berfokus pada masa depan dengan growth mindset.

Sapaan hangat oleh motivator nasional Syafii Efendi, M.M dalam sesi Seminar Nasional How To Be a Great Teacher. (Foto: Afida)

“Kalau gurunya stuck, anak didiknya juga ikut macet. Tapi kalau gurunya tumbuh, muridnya akan melesat,” tegasnya, disambut tepuk tangan meriah.

Ia juga menekankan pentingnya proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan unik setiap anak didik.

Seminar Nasional How To Be a Great Teacher ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah deklarasi kolektif bahwa menjadi pendidik hebat berarti menjadi agen perubahan sejati.

Dari upaya mempererat silaturahmi hingga pembekalan pola pikir growth mindset yang revolusioner, semangat untuk menciptakan generasi yang mampu menginspirasi dan menggerakkan bangsa telah mengakar kuat di hati para guru Kota Semarang.

Menjadi guru yang hebat adalah tentang mampu menyentuh hati anak didik dan menyalakan lentera perubahan. Karena sejatinya, guru bukan sekadar pengajar—mereka adalah penggerak peradaban.

Kontributor: Afida
Editor: Riki Apr
Bagikan: