Muhammadiyah Ajak Warga Jawa Teladani Nabi, Bukan Sekadar Ritual
SEMARANG.muhammadiyahkota.org – KH. Tafsir dari PW Muhammadiyah Jateng mengingatkan agar perayaan Maulid Nabi tidak berlebihan. Ia melihatnya sebagai karya sastra dan momentum refleksi untuk meneladani Rasulullah.
Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia, khususnya di Jawa, punya daya tarik unik yang kaya akan ekspresi budaya.
Namun, Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah, KH. Tafsir, mengundang kita untuk melihat tradisi ini dari sudut pandang yang lebih mendalam.
Ia menekankan bahwa perayaan ini seharusnya tidak hanya berhenti pada ritual, melainkan menjadi momentum untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah.
Saat berbagi pandangannya, KH. Tafsir menyoroti peran penting dua kitab legendaris dalam tradisi Maulid di kalangan umat Islam tradisional, yaitu Kitab Barzanji dan Diba’.
Kedua kitab ini, katanya, menjadi jembatan untuk menghidupkan kembali kisah perjalanan hidup Nabi, mulai dari silsilah, masa kecil, hingga diangkat sebagai utusan Allah.
Selain itu, isinya juga penuh dengan narasi sifat-sifat luhur beliau yang patut kita jadikan teladan.
“Ada dua jenis kitab yang sering dibaca oleh orang-orang Muslim, khususnya Islam tradisional, terkait perayaan Maulid Nabi Muhammad, yaitu Kitab Barzanji dan Diba’,” ungkapnya, dikutip dari laman PWMJATENG.COM (26/08/2025).
Menurut KH. Tafsir, perayaan Maulid Nabi Muhammad yang sarat dengan syair dan puji-pujian, termasuk lirik ikonik seperti, “Anta syamsun anta badrun, anta nurun fauqo nurin,” memang indah.
Lirik ini menggambarkan Nabi Muhammad sebagai “cahaya di atas cahaya,” simbol kemuliaan yang tiada tanding. Namun, ia mengingatkan warga Muhammadiyah untuk tidak terlalu berlebihan dalam merayakan.
KH. Tafsir melihat kedua kitab tersebut lebih sebagai karya sastra yang bernilai tinggi dan patut diapresiasi, bukan sekadar kitab yang dibaca secara ritualistik. Mengubah perspektif ini akan membantu kita memahami makna Maulid Nabi yang sesungguhnya.
Ia menegaskan bahwa perayaan Maulid seharusnya menjadi ajang untuk merefleksikan ajaran dan kehidupan Rasulullah, yang dapat memperdalam cinta dan menginspirasi kita untuk meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
KH. Tafsir juga menekankan pentingnya keseimbangan. Ia berharap, tradisi ini terus lestari sebagai sarana edukasi, terutama bagi generasi muda, agar mereka bisa lebih dekat dengan sejarah dan kepribadian Nabi Muhammad. Ini sejalan dengan data survei yang menunjukkan bahwa pemahaman generasi Z terhadap sejarah Islam masih perlu ditingkatkan.
Pesan penutup dari KH. Tafsir mengajak kita untuk menjadikan tradisi Maulid ini sebagai momentum untuk meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.
Mari jaga tradisi ini dengan cara yang tepat dan seimbang, agar tidak hanya menjadi ritual tanpa makna, melainkan sumber berkah dan inspirasi bagi kita semua.