Pernyataan Sikap Muhammadiyah, Seruan Dialog dan Kedamaian
SEMARANG_muhammadiyahkotasemarang.org– Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi nasional yang diwarnai aksi massa dan kekerasan, khususnya tragedi yang menimpa almarhum Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta.
Dalam pernyataan resminya, Muhammadiyah menyerukan semua pihak untuk menahan diri, menghentikan kekerasan, dan mengutamakan jalan dialog demi menjaga persatuan bangsa.
Pernyataan yang dirilis Jumat (29/8/2025) dengan nomor 20/PER/I.0/I/2025 tersebut tidak hanya mengecam tindakan represif aparat, tetapi juga menyoroti pentingnya peran para elit politik dalam mendengarkan aspirasi rakyat.
Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan dianggap sebagai cerminan dari kegagalan komunikasi antara pemangku kebijakan dan masyarakat.
PP Muhammadiyah secara khusus berempati kepada para ojol yang menuntut keadilan, menggarisbawahi perjuangan mereka yang sering kali luput dari perhatian.
Masyarakat Butuh Teladan, Bukan Janji Belaka
Dalam rilisnya, Muhammadiyah secara tegas meminta para elit politik, pejabat negara, dan anggota legislatif untuk lebih sensitif terhadap aspirasi publik.
Perilaku yang santun, kesederhanaan, dan kepedulian yang tinggi dinilai sebagai kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa publik membutuhkan keteladanan dari para pemimpinnya, bukan sekadar janji politik yang kosong.
Pernyataan ini menjadi pengingat bagi para wakil rakyat untuk kembali kepada mandat awal yang diberikan oleh masyarakat.
Tidak hanya itu, Muhammadiyah juga menyambut baik komitmen Kapolri untuk mengusut tuntas kasus meninggalnya Affan Kurniawan.
Organisasi Islam ini menekankan pentingnya pendekatan persuasif dan non-kekerasan oleh aparat keamanan.
Aparat diharapkan tidak lagi menggunakan kekerasan berlebihan yang justru memicu konflik. Kematian seorang warga negara dalam sebuah aksi massa harus menjadi momentum evaluasi total bagi reformasi kepolisian.
Muhammadiyah juga mengimbau masyarakat, terutama para peserta aksi unjuk rasa, untuk tetap menjaga ketertiban dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab, terutama yang beredar di media sosial. Di era disinformasi yang masif, masyarakat diharapkan menjadi lebih arif dan cerdas dalam memverifikasi informasi.
Meminta klarifikasi kepada pihak berwenang atau tokoh panutan menjadi langkah bijak untuk menghindari perpecahan.
Pernyataan ini ditutup dengan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo untuk mendengar aspirasi publik dan melakukan perbaikan di berbagai sektor.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Muhammadiyah menegaskan bahwa soliditas dan persatuan bangsa adalah modal utama untuk mencapai Indonesia Maju, berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera.
Semangat 80 tahun Kemerdekaan Indonesia menjadi landasan untuk terus menjaga kedamaian dan stabilitas nasional, yang selama ini menjadi karunia terbesar bangsa.