Kupas Makna Ikhlas dalam Beragama, KH Gunarto Muchsin: Hindari Ibadah Formalitas!
SEMARANG UTARA, muhammadiyahsemarangkota.org – Makna ikhlas dalam beragama bukanlah sekadar teori, melainkan pondasi agar ibadah tidak menjadi rutinitas kosong. Hal ini ditegaskan KH Gunarto Muchsin dalam Pengajian Muhammadiyah Bulu Lor, Selasa malam (6/1/2026). Beliau mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada simbol-simbol agama tanpa melibatkan ketulusan hati yang mendalam.
“Ibadah harus murni hanya kepada Allah SWT. Jangan sekali-kali mencampuradukkan keimanan kita dengan unsur kemusyrikan,” ujar Gunarto di hadapan jamaah yang memadati Gedung SMP Muhammadiyah 5 Semarang. Menurutnya, beragama tanpa keikhlasan hanya akan menghasilkan lelah fisik tanpa nilai spiritual.
Makna Inti Tafsir Surat Az-Zumar
Selanjutnya, penceramah senior ini membedah tafsir surat Az-Zumar ayat 13–16. Ayat tersebut memuat peringatan keras bagi siapa saja yang mendurhakai perintah Tuhan. Beliau menjelaskan bahwa ketakutan terhadap azab Allah seharusnya mendorong umat untuk memperbaiki kualitas makna ikhlas dalam beragama. Dengan begitu, setiap muslim akan lebih berhati-hati dalam berperilaku dan menjauhi kemaksiatan.
Gunarto menggambarkan dahsyatnya siksa neraka sebagaimana penjelasan Al-Qur’an sebagai alarm spiritual bagi jamaah. “Pesan dalam Surat Az-Zumar ini adalah pengingat agar kita tidak meremehkan dosa sekecil apa pun dan selalu waspada dalam bersikap,” tegasnya dengan nada serius. Harapannya, jamaah semakin termotivasi untuk meningkatkan amal saleh dan menjaga kemurnian tauhid.
Implementasi Takwa Menurut Buya Hamka
Dalam momen kajian Islam Semarang tersebut, beliau juga mengutip pemikiran tokoh besar Muhammadiyah, Buya Hamka. Menurut Hamka, takwa adalah iman kuat yang menjelma menjadi aksi nyata. Oleh karena itu, makna ikhlas dalam beragama harus tecermin dalam perilaku sosial dan hubungan baik antar sesama manusia.
Beliau menekankan bahwa iman yang sejati wajib terbukti lewat kontribusi positif di masyarakat. “Takwa itu bukan sekadar berhenti pada ucapan atau diam di masjid, melainkan iman yang kuat yang dibuktikan dengan kerja nyata di tengah masyarakat,” imbuh Gunarto menutup ceramahnya.
Sebagai penutup, Ketua PCM Semarang Utara menyatakan dukungannya terhadap kegiatan ini. Beliau menilai gerakan dakwah mencerahkan di tingkat ranting sangat efektif untuk membina umat. Melalui Pengajian Muhammadiyah Bulu Lor, persyarikatan berkomitmen untuk terus membekali warga dengan pemahaman agama yang substansial, bukan sekadar seremonial.
Baca juga : Rahasia Niat Ikhlas dalam Islam: Kunci Agar Lelahmu Menjadi Lillah,Rezeki Seret dan Banyak Cobaan? Cek Lagi Syarat Taubat dan Keutamaan Istighfar Ini