Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Headline 5 menit baca

Hukum Shalat Syuruq Menurut Hadis: Panduan Ibadah Pagi Sesuai Sunnah

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Hukum Shalat Syuruq Menurut Hadis: Panduan Ibadah Pagi Sesuai Sunnah
Ilustrasi seorang Muslim tengah berzikir di masjid sembari menanti waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan shalat pagi sesuai panduan sunnah. (Ilustrasi: AI Generated)

Umat Islam sering mempertanyakan bagaimana sebenarnya hukum shalat syuruq menurut hadis shahih. Banyak orang rutin melaksanakan ibadah pagi ini setiap hari setelah shalat Subuh berjamaah di masjid.

Sebagian masyarakat meyakini istilah shalat syuruq terasa lebih syar’i ketimbang menyebutnya shalat thulu’. Secara bahasa, kedua istilah tersebut merujuk pada momentum matahari terbit perlahan di ufuk timur. Namun, kita perlu memahami panduan ibadah pagi ini secara tepat sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Kita sungguh tidak menemukan istilah shalat syuruq secara eksplisit dalam empat belas kitab hadis induk. Para ulama ahli hadis hanya mendapati ungkapan asyraqat asy-syamsu atau matahari terbit sebanyak empat kali. Dua riwayat di antaranya langsung membahas aktivitas ibadah pagi umat Islam.

Mari kita pelajari hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Muslim berikut ini untuk mengetahui pedomannya.

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى عَلَى مَسْجِدِ قُبَاءَ أَوْ دَخَلَ مَسْجِدَ قُبَاءَ بَعْدَمَا أَشْرَقَتْ الشَّمْسُ فَإِذَا هُمْ يُصَلُّونَ فَقَالَ إِنَّ صَلَاةَ الْأَوَّابِينَ كَانُوا يُصَلُّونَهَا إِذَا رَمِضَتْ الْفِصَالُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Masjid Quba atau memasuki Masjid Quba setelah matahari terbit, dan ternyata orang-orang sedang shalat, maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya shalatnya orang-orang yang bertaubat, adalah ketika anak-anak Unta yang menderum – karena panas. – (HR Ahmad: 18540, 18463, Muslim: 1238).

Melalui teks hadis tersebut, Nabi Muhammad SAW memberikan teguran yang sangat lembut dan mendidik. Beliau mengingatkan para sahabat bahwa pelaksanaan ibadah di Masjid Quba saat itu masih terlalu kepagian. Posisi matahari di ufuk timur belum memancarkan panas yang cukup ke permukaan bumi.

Rasulullah SAW justru mengarahkan umatnya untuk melaksanakan shalat awwabin. Orang-orang beriman mengerjakan ibadah ini ketika sinar matahari pagi sudah terasa menyengat panas.

Kajian Dalil Shalat Syuruq dan Awwabin

Banyak penceramah mengutip satu hadis spesifik saat mengupas hukum shalat syuruq bagi umat Islam. Hadis ini menyebutkan secara jelas bahwa pelakunya meraih pahala setara ibadah haji dan umrah. Berikut adalah teks hadis yang sering menjadi rujukan utama amalan tersebut:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barang siapa yang shalat subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir sampai matahari terbit yang dilanjutkan dengan shalat dua raka’at, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.(Anas radliallahu ‘anhu) berkata, Rasulullah bersabda: Sempurna, sempurna, sempurna – (HR Turmuzi: 535).

Menariknya, teks hadis tersebut justru memakai istilah thulu‘, bukan istilah syuruq.

Banyak jamaah begitu terobsesi mengejar pahala besar ini setelah menyimak uraian para tokoh agama. Namun, para kritikus hadis masih berselisih pendapat mengenai kualitas sanad riwayat ini. Syekh Nashiruddin Al-Albani menilainya masuk kategori hasan sehingga aman diamalkan. Sebaliknya, ulama seperti Abu Thahir Zubair Ali Zai secara tegas menilainya dhaif atau lemah.

Aturan dasar ilmu fikih melarang umat Islam berkreasi dalam urusan ibadah mahdhah tanpa landasan kuat. Kita hanya boleh melaksanakan ritual jika Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan perintah yang pasti.

Hal ini sejalan dengan prinsip dasar kehati-hatian dalam menetapkan hukum shalat syuruq. Kita sebaiknya memilih ibadah yang dalilnya sudah disepakati oleh seluruh ulama.

Panduan Ibadah Pagi Sesuai Sunnah

Kita justru menemukan banyak riwayat shahih yang secara tegas melarang ibadah persis saat matahari terbit. Mari kita perhatikan dengan saksama panduan ibadah pagi dari hadis riwayat Imam Bukhari berikut ini:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عِنِ الصَّلَاةِ عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَعِنْدَ غُرُوبِهَا

Dari Nafi’ bahwa ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata; “Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat ketika matahari sedang terbit dan ketika sedang terbenam – (HR Bukhari: 1523).

Banyak pakar hadis ternama lainnya juga turut meriwayatkan larangan ketat serupa ini. Imam Muslim, Imam Malik, Imam Nasai, dan Imam Ahmad serempak mencatat larangan ibadah pada waktu transisi tersebut.

Pada masa kenabian, para sahabat biasanya lebih memilih duduk santai di masjid setelah Subuh. Mereka berbincang ringan mengenang kisah masa lalu sambil menunggu waktu yang diperbolehkan shalat.

Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW memberikan kepastian kapan kita bisa memulai ibadah pagi. Beliau memerintahkan umat Islam menunda shalat hingga posisi matahari naik minimal seukuran tinggi tombak.

فَدَعْ الصَّلَاةَ حَتَّى تَرْتَفِعَ قِيدَ رُمْحٍ وَيَذْهَبَ شُعَاعُهَا

Maka tinggalkanlah shalat hingga matahari mulai meninggi seukuran tombak dan sinarnya mulai menyebar – (HR Nasai: 568).

Para ulama salaf akhirnya sepakat menetapkan arahan ini sebagai batas awal masuknya waktu shalat Dhuha. Jadi, kita merasa jauh lebih tenang jika langsung merutinkan shalat Dhuha saja setiap pagi.

Panduan ibadah pagi ini menjaga kualitas iman kita agar tetap berada di atas dalil shahih. Shalat Dhuha memiliki landasan hukum sunnah yang sangat kuat dan tak lagi terbantahkan.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: