Muhammadiyah dan Wasathiyah

Oleh:

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah

Kadang-kadang, kata “tengah” terasa lebih sulit dimengerti daripada kata “puncak” atau “dasar.” Puncak memanggil orang untuk berlari, dasar memaksa orang untuk jatuh. Tetapi tengah? Ia justru meminta kita untuk menahan diri, menjaga jarak dari kedua ujung, dan tetap waras ketika orang-orang di kiri-kanan sibuk berteriak.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dalam satu tulisannya tentang wasathiyah, mencoba menghidupkan kembali kata yang mungkin sudah terlalu sering dibunyikan, tetapi jarang dijalani. “Ummatan wasathan,” umat pertengahan, begitu ayat Al-Baqarah 143 dalam Al-Qur’an menyebutnya. Tafsir demi tafsir mengurai maknanya: adil, seimbang, tidak tenggelam di lautan ghuluw dan tidak pula terjerembap di lumpur tafrith. Semua itu terdengar indah, sampai kita sadar bahwa menjadi “pertengahan” sering kali berarti hidup di antara peluru yang saling bersahutan.

Dalam “Risalah Islam Berkemajuan”, Muhammadiyah menegaskan: Islam adalah ummatan wasathan. Umat pertengahan yang tegak; bukan sekadar “tidak condong ke kiri atau kanan,” tapi mampu menegakkan keseimbangan antara hak jasmani dan hak rohani, antara urusan dunia dan urusan akhirat. Sebab, dalam pandangan ini, keselamatan dan kebahagiaan bukan hanya janji yang ditangguhkan sampai di surga; ia juga proyek yang harus dirancang di bumi.

Wasathiyah, bagi Muhammadiyah, berarti menolak dua kutub yang sama berbahayanya. Di satu sisi ada ghuluw, sikap berlebihan yang membuat agama menjadi beban, penuh larangan yang bahkan Tuhan tak pernah tetapkan. Di sisi lain ada tafrith, sikap abai yang mempreteli agama dari kedalaman maknanya. Jalan di tengah berarti menolak keduanya, tanpa harus mengaburkan batas-batas yang digariskan wahyu.

Ada orang yang gelisah ketika wasathiyah disamakan dengan “moderasi.” Katanya, konsep moderasi beragama itu barang impor dari Barat. Padahal, seperti juga udara, keadilan tak mengenal paspor. Islam sendiri datang sebagai koreksi: bukan hanya kepada kaum materialis yang menolak langit, tetapi juga kepada kaum spiritualis yang menolak bumi.

Dalam kisah yang disampaikan Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqy, manusia memang bukan hanya “binatang” dan bukan hanya “malaikat.” Ia adalah keduanya, dan wasathiyah adalah seni merawat keduanya agar tidak saling meniadakan.

Di zaman ini, istilah “tengah” mudah sekali dipolitisasi. Kita bisa saja mengutip tujuh nilai wasathiyah dari Deklarasi Bogor: tawassut, i’tidal, tasamuh, syura, islah, qudwah, muwatonah. Semuanya seperti mutiara yang tersusun rapi. Tetapi kita juga tahu, mutiara bisa digantungkan di leher siapa saja, bahkan di leher orang yang tak pernah berenang di lautnya.

Ada kata wasathiyah yang terasa seperti jalan setapak di tengah sawah: rapi, membelah dua hamparan, namun tidak pernah kaku. Ia bukan garis lurus yang menuntut kaki tetap di tengah, melainkan undangan untuk berjalan tanpa jatuh ke jurang kiri atau kanan.

Haedar Nashir menyebutnya “berkemajuan,” dan kata ini, di telinga saya, terdengar seperti jeda yang bergerak. Seimbang, namun tidak diam. Di tengah, tetapi tidak membeku. Seperti sebuah perahu di sungai: ia tidak melawan arus sepenuhnya, tetapi juga tak pasrah dihanyutkan.

Muhammadiyah, dalam pandangan Haedar Nashir, telah lama menjadi perahu itu. Tidak hanya mengajarkan iman, ibadah, dan akhlak dengan komposisi yang adil, tetapi juga menolak menjadi monumen yang hanya dibaca sejarah. Ia bergerak, memutar kemudi, menyesuaikan layar, tanpa membiarkan kompasnya goyah.

Tetapi ada tantangan. Jalan tengah sering disalahpahami sebagai jalan aman. Padahal, “pertengahan” tidak berarti netral yang malas, atau moderasi yang steril dari risiko. Wasathiyah yang berkemajuan adalah memilih posisi, meski di tengah, dengan kesadaran penuh bahwa kanan dan kiri sama-sama mengundang. Iqbal pernah mengingatkan: iman tanpa akal hanyalah ritual, akal tanpa iman hanyalah hitungan kering. Pertengahan yang sejati, di situ, adalah jembatan yang mengikat dua dunia.

Namun, di zaman ketika media sosial memadatkan segala debat menjadi teriakan, pertengahan bisa terlihat samar. Orang yang tenang dianggap tak berpihak. Orang yang menimbang dianggap ragu. Barangkali di sinilah ujian sebenarnya: mempertahankan keseimbangan ketika semua di sekitar mengguncang.

Dan mungkin, wasathiyah yang dimaksud Haedar itu seperti taman di tengah kota yang bising: teduh, tetapi tetap terbuka. Bukan sekadar simbol damai, melainkan ruang yang mempersilakan semua datang, duduk, dan berbicara, tanpa takut diusir karena suara mereka berbeda. Sebab Islam pertengahan, kalau benar dijalani, bukan hanya untuk umatnya sendiri, tetapi untuk siapa saja yang melintas.

Muhammadiyah sendiri mencoba membumikan wasathiyah sebagai penolak ekstremisme dan penolak permisivisme. Sebuah posisi yang mengaku tegas tapi luwes, menghargai perbedaan tetapi tak memutihkan segala yang hitam. Barangkali di sinilah kesulitan itu: wasathiyah tidak pernah menjadi titik diam, melainkan keseimbangan yang harus terus diperbarui.

Kata “tengah” memang tak selalu berarti diam di titik netral. Dalam pandangan Muhammadiyah, wasathiyah adalah gerak; gerak yang tahu ke mana harus melangkah tanpa terbawa arus ekstremisme atau terseret banjir permisivisme. Ia adalah agama tauhid yang tak berhenti di ruang ibadah, tetapi menjelma jadi panduan menyeluruh: dari cara manusia menatap langit hingga bagaimana ia menegakkan keadilan di pasar.

Di sinilah wasathiyah menjadi semacam seni menata kompas moral. Kompas itu harus peka terhadap arah zaman, namun jarumnya tak boleh patah oleh pusaran kepentingan. Muhammadiyah merumuskannya dalam sikap tegas namun luwes, menghargai perbedaan tanpa menggadaikan prinsip, dan memudahkan pelaksanaan ajaran tanpa mengosongkan makna.

Tengah yang seperti ini bukan ruang nyaman yang statis. Ia lebih mirip jembatan gantung yang diguncang angin: untuk tetap berdiri, orang harus terus bergerak. Wasathiyah, dalam pandangan Muhammadiyah, adalah gerak itu; gerak yang menjaga agar iman tetap di hulu, amal tetap di muara, dan hidup manusia mengalir di antara keduanya.

Dan seperti halnya keseimbangan seorang penari di atas tali, ia menuntut mata yang tak terpaku pada ujung tali, namun pada langkah yang sedang diambil. Sebab di kiri ada jurang, di kanan ada jurang, dan di tengah, hanya ada sepotong jalan selebar tapak kaki. Itulah, barangkali, jalan yang dimaksud Haedar. Jalan yang, ironisnya, hanya terlihat jelas bagi mereka yang berani berjalan di

Editor:

Agung S Bakti

Bagikan berita ini

Kabar Lainnya

Scroll to Top