Ada kalanya sebuah perjalanan sastra justru membawa kita kepada sejarah. Atau lebih tepatnya, kepada sesuatu yang diam-diam telah lama menunggu untuk kita baca kembali.
Saya datang ke Banda Aceh untuk mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIV pada 22–29 Juni 2026, ydi mana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti membuka acara tersebut.. Sekitar dua ratus penyair dari empat belas negara berkumpul, membaca puisi, berdiskusi, saling bertukar bahasa, dan menyaksikan bagaimana kata-kata dapat melintasi batas geografis maupun politik. Acara ini berlangsung di beberapa tempat, salah satunya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh.
Di antara padatnya jadwal pembacaan puisi, seminar, dan perjumpaan yang nyaris tanpa jeda, saya menyelinap ke rak-rak perpustakaan. Barangkali seorang penyair memang selalu mudah tergoda oleh buku yang tidak direncanakan untuk dibaca.
Saya mencari buku-buku tentang Muhammadiyah di Aceh. Bukan karena sedang mengerjakan penelitian, melainkan karena rasa ingin tahu sering kali datang tanpa memberi alasan. Perpustakaan mempunyai cara yang tenang untuk mengajarkan sejarah. Ia tidak berteriak, ia hanya menyimpan.
Di sana, saya menemukan bahwa perkembangan Muhammadiyah di Aceh ternyata bukan kisah yang sederhana. Ia bukan sekadar catatan mengenai berdirinya sebuah organisasi keagamaan, melainkan cerita tentang perjumpaan antara pembaruan dan tradisi, antara gagasan dan kenyataan, serta antara cita-cita dan masyarakat yang sedang berubah.
Catatan sejarah Muhammadiyah Aceh menyebutkan bahwa pergerakan ini mulai tumbuh pada 1927. Tahun itu menjadi salah satu penanda penting ketika para pelopor mulai memperkenalkan dakwah Islam berkemajuan secara lebih terorganisasi di Tanah Rencong.
Nama A.R. Sutan Mansur muncul sebagai salah seorang pelopor yang membawa semangat pembaruan Islam ke wilayah pesisir timur Aceh. Bersama tokoh-tokoh lokal seperti Teuku Muhammad Hasan Geulumpang Payong, benih-benih gerakan itu mulai ditanam.
Menariknya, Muhammadiyah tidak lahir dari ruang kosong.
Aceh telah memiliki tradisi keislaman yang sangat kuat.masyarakat membangun identitas mereka melalui hubungan yang erat antara agama, adat, dan perjuangan.. Dalam masyarakat seperti itu, setiap gagasan baru tentu harus menemukan bahasanya sendiri. Pembaruan tidak mungkin hadir dengan memutus masa lalu; ia harus berdialog dengannya.
Mungkin di situlah salah satu kecerdasan Muhammadiyah.
Gerakan ini datang bukan sekadar menawarkan organisasi baru, tetapi juga cara baru memahami pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah. Agama tidak hanya dibicarakan di mimbar. Agama diterjemahkan menjadi sekolah, panti asuhan, rumah sakit, dan lembaga pendidikan.
Barangkali karena itu pula masyarakat relatif cepat menerima Muhammadiyah
Sesudah kehadiran awalnya di Lhokseumawe dan Sigli pada 1927, cabang-cabang Muhammadiyah terus bermunculan. Kuala Simpang menyusul pada 1928, Tapaktuan berdiri pada 1933, lalu berkembang ke Kutacane pada 1937, dan Meulaboh pada 1942. Jika diperhatikan, penyebaran itu mengikuti jalur-jalur perdagangan, pendidikan, dan pusat-pusat pertumbuhan masyarakat.
Sejarah sering kali bergerak melalui jalan yang tampak biasa.
Di balik pembukaan sebuah cabang organisasi, sesungguhnya terdapat perjalanan panjang para mubalig, guru, saudagar, dan tokoh masyarakat dengan segala keterbatasan zamannya. Mereka membawa buku, gagasan, dan lebih dari itu, membawa keyakinan bahwa masyarakat dapat dibangun melalui ilmu pengetahuan.
Tidak mengherankan apabila kelompok-kelompok terdidik, para pedagang, serta sebagian elite adat menjadi motor awal perkembangan Muhammadiyah di Aceh. Mereka memahami bahwa perubahan sosial memerlukan institusi. Semangat saja tidak cukup. Harus ada sekolah. Harus ada organisasi. Dan juga harus ada kader.
Tetapi Aceh bukan hanya pesisir. Ada pegunungan. Ada Dataran Tinggi Gayo. Juga da daerah-daerah yang secara geografis jauh dari pusat kekuasaan maupun perdagangan. Menarik bahwa pada 1928 Muhammadiyah juga mulai menjangkau Takengon dan kawasan Gayo. Ini menunjukkan bahwa gagasan pembaruan tidak berhenti di kota-kota pelabuhan. Ia bergerak menuju wilayah pedalaman.
Barangkali memang demikian sifat sebuah ide. Ia tidak mengenal jalan raya. Ia cukup menemukan satu orang yang percaya.
Dari satu orang, lahir dua orang. Dari dua orang, berdirilah sebuah ranting. Kemudian dari ranting, tumbuh cabang. Sejarah organisasi hampir selalu dimulai dari percakapan kecil yang kemudian berubah menjadi gerakan besar.
Perjalanan sejarah Muhammadiyah Aceh tentu tidak selalu mudah. Masa kolonial, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, pergolakan politik nasional, hingga konflik yang pernah berlangsung di Aceh menjadi ujian yang tidak ringan. Namun organisasi ini tetap bertahan.
Mungkin yang membuatnya bertahan bukan semata-mata struktur organisasinya, melainkan kemampuannya menanamkan pendidikan sebagai fondasi. Di sinilah kita melihat bahwa sekolah lebih panjang usianya daripada pidato.
Seorang guru yang mengajar puluhan murid setiap tahun sesungguhnya sedang membangun sejarah yang lebih sunyi dibandingkan seorang orator yang berpidato di hadapan ribuan orang. Muhammadiyah tampaknya memahami hal itu sejak awal.
Karena itulah ekspansi amal usaha pendidikan menjadi salah satu babak penting dalam perkembangannya di Aceh. Sejak akhir dekade 1960-an, berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai berkembang lebih sistematis. Sekolah-sekolah berdiri. Madrasah berkembang. Pendidikan menjadi wajah paling nyata dari gerakan pembaruan itu.
Puncak dari perjalanan tersebut tampak ketika Universitas Muhammadiyah Aceh berdiri pada 1991 di Banda Aceh.
Universitas bukan hanya gedung. Ia adalah pernyataan. Pernyataan bahwa kita tidak dapat membangun masa depan hanya dengan mengenang masa lalu.. Ia memerlukan ruang bagi ilmu pengetahuan, penelitian, dialog, dan pembentukan generasi baru. Kampus menjadi tempat di mana tradisi dan modernitas saling bertemu tanpa harus saling meniadakan.
Barangkali itulah makna terdalam dari Islam berkemajuan yang selama ini diperkenalkan Muhammadiyah. Kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Kadang-kadang ia justru mengajak tradisi menemukan bentuknya yang baru.
Perjalanan panjang sejarah Muhammadiyah di Aceh memperoleh pengakuan simbolik ketika Banda Aceh menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-43 pada 1995. Sebuah muktamar tentu hanyalah beberapa hari dalam kalender. Namun untuk menjadi tuan rumah perhelatan nasional sebesar itu diperlukan perjalanan puluhan tahun.
Tidak ada organisasi yang tiba-tiba besar. Ia tumbuh melalui kerja yang sering kali tidak tampak.
Ketika saya menutup buku-buku sejarah itu di perpustakaan, saya kembali teringat pada para penyair yang sedang berkumpul di ruang-ruang diskusi Pertemuan Penyair Nusantara. Mereka datang membawa puisi dari negeri masing-masing. Mereka percaya bahwa kata-kata mampu melintasi batas.
Para perintis Muhammadiyah hampir satu abad yang lalu pun sesungguhnya melakukan sesuatu yang mirip. Mereka membawa kata-kata. Tetapi kata-kata itu kemudian menjelma menjadi sekolah, rumah ibadah, organisasi, dan pelayanan sosial.
Barangkali sejarah memang selalu dimulai oleh bahasa. Ada orang yang mengucapkan sebuah gagasan. Ada orang lain yang mempercayainya. Lalu lahirlah tindakan.
Perpustakaan mengingatkan kita akan hal itu. Rak-rak buku tidak pernah sekadar menyimpan kertas. Ia menyimpan percakapan yang belum selesai. Setiap generasi datang untuk membacanya kembali dengan pertanyaan yang berbeda.
Saya meninggalkan perpustakaan sore itu dengan membawa beberapa catatan. Di luar gedung, Banda Aceh tetap bergerak seperti biasa. Lalu lintas berjalan. Para peserta Pertemuan Penyair Nusantara kembali berkumpul. Pembacaan puisi berikutnya segera dimulai.
Namun di kepala saya, yang terus bergema justru bukan larik-larik puisi. Melainkan kesadaran sederhana bahwa sebuah organisasi dapat bertahan hampir satu abad bukan semata karena besarnya nama, melainkan karena kesediaannya terus bekerja di tempat-tempat yang sunyi: di ruang kelas, di perpustakaan, di rumah-rumah sederhana, dan di hati orang-orang yang percaya bahwa ilmu adalah jalan panjang menuju peradaban.
Mungkin itu pula sebabnya sejarah Muhammadiyah Aceh masih layak dibaca hingga hari ini. Bukan untuk bernostalgia. Melainkan untuk memahami bahwa kemajuan selalu lahir dari kesabaran yang panjang. Dari orang-orang yang bersedia bekerja tanpa menunggu tepuk tangan.
Dari keyakinan bahwa perubahan tidak selalu berlangsung dengan gemuruh. Kadang ia hanya berupa sebuah buku yang menunggu pembaca menyentuhnya di rak perpustakaan., lalu membuka jalan bagi pembaca berikutnya untuk melanjutkan percakapan yang telah dimulai hampir seratus tahun silam.