Adab Bertetangga dalam Islam: Mengapa Kuah Sayur Bisa Jadi Kunci?
GUNUNG PATI, muhammadiyahsemarangkota.org – Berbagi semangkuk sayur dengan warga sebelah rumah bukan sekadar urusan perut. Praktik sederhana ini justru menjadi wujud tertinggi adab bertetangga dalam Islam. Kebiasaan ini nyaris pudar di tengah masyarakat kota yang makin individualis. Oleh karena itu, umat perlu menyadari kembali pentingnya kepedulian sosial di lingkungan sekitarnya.
Mengaitkan Akidah dan Kehidupan Sosial
Pesan menyejukkan ini mengemuka pada pengajian Ahad pagi, 12 Juli 2026. Para jemaah memenuhi pelataran Masjid At-Taqwa Patemon, Gunungpati, Kota Semarang. Mereka berkunjung untuk mengikuti Pasar Rakyat sekaligus mendengarkan kajian Ahad Pagi. Acara ini juga menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Prof. Ahwan Fanani, M.Ag., hadir sebagai narasumber utama. Ia mengajak jemaah untuk memperluas cakrawala keimanan melampaui ritual formal.
“Hari ini akan kita sambung-sambung muamalah dengan akidahnya,” tegasnya di hadapan para hadirin. Langkah ini mengawali penjelasan tentang pentingnya tauhid muamalah dalam kehidupan sehari-hari.
Cara Menyambung Silaturahmi Lewat Kuah Sayur
Selanjutnya, Ahwan membumikan konsep teologi tersebut lewat contoh yang sangat lekat dengan keseharian warga. Ia membagikan sebuah resep sederhana tentang cara menyambung silaturahmi antarwarga.
Ulama ini mengingatkan kembali pentingnya berbagi makanan dengan orang terdekat. Praktik ini ternyata memiliki landasan keimanan yang sangat kuat.
“Nah ini ngajarkan kalau masak sayur perbanyaklah kuahnya, tanggane dianteri,” terang tokoh agama tersebut. Analogi ini langsung memantik senyum simpul dari para jemaah yang hadir.
Lewat pernyataan ini, ia menegaskan bahwa sedekah makanan ke tetangga merupakan bentuk nyata keimanan. Hal ini membuktikan bahwa agama selalu hadir membawa rahmat bagi sesama.
Mencegah Gangguan Terhadap Sesama
Lebih jauh lagi, penjabaran keimanan sosial ini tidak berhenti pada sekadar berbagi makanan. Ahwan menyoroti prinsip penting lainnya dalam bermuamalah, yaitu mencegah diri dari menyusahkan pihak lain. Sikap menahan diri ini menjadi fondasi utama kerukunan warga. Akibatnya, masyarakat bisa hidup berdampingan dengan damai.
“Ternyata iman itu juga perwujudannya dalam muamalah. Contohnya apa? Satu adalah kaful adza. Mencegah diri kita tidak menyusahkan orang lain,” paparnya. Ia menjelaskan bahwa seorang muslim sejati harus memastikan tetangganya aman dari perbuatan buruk.
Oleh sebab itu, ibadah ritual harus selalu sejalan dengan perbuatan baik di lingkungan sekitar.
Kesimpulannya, praktik ibadah sosial ini harus menjadi gerakan bersama, bukan sekadar teori.
Pesan dari Gunungpati ini sepatutnya mengajak setiap komunitas di Kota Semarang untuk menghidupkan tradisi saling peduli. Dengan demikian, kota ini akan tumbuh menjadi ruang hidup yang hangat dan rukun bagi warganya.