Ajal Tak Pernah Menunggu, Husnul Khatimah Tidak Datang Tiba-Tiba
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Waktu sering kali terasa berjalan biasa saja berganti hari, minggu, lalu tahun tanpa banyak disadari. Namun di balik rutinitas itu, tersimpan satu pesan penting tentang hidup yang perlahan terus bergerak menuju akhir. Pesan inilah yang disampaikan Ustaz H. Agus Supriyadi, S.Ag., dalam khutbah Jumat di Masjid Assalam Wonodri, Jumat (12/12/2025).
Saat jamaah diajak merenungi kembali makna waktu sebagai amanah Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Khutbah tersebut tidak berhenti pada nasihat normatif, tetapi mengajak jamaah melihat waktu sebagai penentu kualitas hidup dan arah akhir perjalanan manusia.
Waktu Tak Berlalu Begitu Saja
Dalam penyampaiannya, Ustaz Agus menekankan bahwa pergantian hari, bulan, dan tahun bukan sekadar rutinitas kalender. Waktu disebutnya sebagai amanah Allah SWT yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Ia mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah satu fase singkat menuju perjumpaan dengan Allah. Setiap kesempatan yang terlewat tidak akan pernah terulang.
“Setiap manusia memiliki batas waktu dalam kehidupannya, dan ajal itu pasti datang tanpa bisa dimajukan ataupun ditunda. Karena itu, cara kita menjalani hidup hari ini akan menentukan bagaimana kita mengakhiri kehidupan,” tegasnya.
Lebih jauh, Ustaz Agus mengajak jamaah memahami bahwa akhir kehidupan tidak hadir secara instan. Baik atau buruknya penutup hidup sangat ditentukan oleh bagaimana waktu dimanfaatkan sejak sekarang.
Ia menyoroti dua nikmat besar yang sering dianggap remeh yakni kesehatan dan kesempatan hidup. Keduanya disebut sebagai modal utama untuk beramal dan memperkuat iman.
Tanpa kesehatan, panjang umur kehilangan makna. Tanpa kesadaran waktu, kesempatan hidup mudah terbuang sia-sia.
Khutbah itu juga menegaskan bahwa masa lalu bukanlah penentu utama kemuliaan seseorang.
“Kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh bagaimana masa lalunya, tetapi oleh bagaimana ia menutup perjalanan hidupnya,” ujar Ustaz Agus, merujuk pada makna sabda Nabi tentang nilai amal yang ditentukan di akhirnya.
Selama Hidup, Pintu Perbaikan Tak Pernah Tertutup
Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk tidak terjebak dalam penyesalan. Selama napas masih berhembus, peluang memperbaiki diri selalu terbuka.
Kesadaran akan keterbatasan waktu justru disebut sebagai pemantik harapan bahwa setiap hari masih bisa diisi dengan amal saleh, kontribusi kebaikan, dan langkah-langkah kecil menuju ridha Allah SWT.