Awal Puasa Ramadhan 2026 Segera Tiba, Sudah Siap Berubah?
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org — Ibadah puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan momentum besar untuk meninggalkan bekas kebaikan (atsar) yang mampu mengubah jiwa secara permanen. Poin esensial ini menjadi penekanan utama Dr. H. KRAT. AM. Juma’i, SE., MM, Wakil Ketua PDM Kota Semarang. Ia mengajak jamaah Masjid At Taqwa melakukan persiapan menyambut Ramadhan secara batiniah agar ibadah tahun ini tidak berlalu hampa. Di tengah perbincangan warga mengenai kapan puasa 2026 dimulai, ia mengingatkan bahwa kualitas transformasi diri jauh lebih penting daripada rutinitas tahunan.
AM. Juma’i menegaskan bahwa awal puasa Ramadhan harus menjadi titik balik nyata bagi setiap muslim untuk mengukur kedalaman imannya. Ia tidak ingin umat muslim hanya mendapatkan dahaga tanpa membawa perubahan karakter yang positif.
“Jangan sampai kita melewati bulan Ramadhan tanpa mendapatkan apa-apa. Ramadhan harus meninggalkan atsar, bekas kebaikan, yang berdampak pada akhlak dan ketakwaan kita setelahnya,” tegasnyasaat kultum singkat ba’da dzuhur pada Selasa (10/2/2026) di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang.
Menakar Ketaatan di Balik Menahan Dahaga
Meski masyarakat sedang menanti kepastian melalui jadwal sidang isbat 2026, substansi puasa sebenarnya terletak pada ujian kepatuhan total. Menurutnya, puasa melatih manusia untuk menunda kesenangan yang semula halal demi menuruti perintah Sang Pencipta. Ia pun membagikan tips puasa bermakna dengan menekankan bahwa ketaatan ini adalah kunci utama dalam proses pembersihan jiwa.
Selain itu, dengan menahan diri dari apa yang kita sukai, kita sebenarnya sedang meruntuhkan ego keduniawian. Proses ini bertujuan agar hati kembali jernih. Dampaknya, kita akan lebih mudah menangkap esensi spiritual yang seringkali tertutup oleh nafsu harian.
Menemukan Rasa Syukur Melalui Rasa Lapar
Lebih dalam lagi, ia menjelaskan bahwa rasa lapar adalah guru terbaik untuk mengenal rasa syukur. Seringkali manusia menganggap nikmat makan sebagai hal biasa yang selalu tersedia. Namun, saat awal puasa Ramadhan tiba, keterbatasan tersebut justru membuka mata kita akan kekuasaan Allah SWT.
“Ketika kita menahan diri dari makan dan minum yang halal pada waktu siang, sejatinya kita sedang belajar mensyukuri nikmat yang selama ini sering kita anggap biasa,” jelasnya dengan nada reflektif. Baginya, syukur bukan sekadar ucapan lisan. Syukur adalah kesadaran hati yang muncul saat kita merasakan langsung rasa butuh kepada pemberian Tuhan.
Hikmah Sedekah Ramadhan sebagai Sekolah Empati
Selanjutnya, substansi puasa juga mencakup dimensi sosial yang kuat melalui hikmah sedekah Ramadhan. Ia mendorong jamaah untuk menyadari bahwa lapar yang kita rasakan saat puasa adalah realitas sehari-hari bagi warga yang kekurangan. Hal ini seharusnya memicu aksi nyata untuk saling berbagi.
Ia meyakini bahwa di dalam harta kita terdapat hak orang lain yang harus tersalurkan. Dengan memberi, seorang muslim tidak hanya membantu sesama. Ia juga sedang membersihkan hartanya dari sifat kikir yang sering menghambat kedekatan kepada Allah.
Target Akhir: Perubahan Karakter yang Menetap
Sebagai penutup, ia berharap seluruh rangkaian ibadah ini berujung pada terbentuknya pribadi yang bertakwa secara paripurna. Perubahan tersebut harus tercermin dalam kejujuran, kesabaran, dan kedisiplinan yang terus menetap. Nilai-nilai ini harus tetap kuat bahkan setelah bulan suci berlalu.
Oleh karena itu, mari kita luruskan niat sejak sekarang. Jadikan setiap detik ibadah nanti sebagai langkah pasti untuk menjemput perubahan jiwa yang hakiki. Semoga persiapan kita membawa kedamaian dan kedekatan yang lebih dalam kepada Sang Khalik.
Baca juga :
Persiapan Puasa Ramadhan 2026: Cara Melatih Anak Tanpa Paksaan!
Ramadhan 2026 di Depan Mata: Inilah Persiapan Menyambut Ramadhan Agar Ibadah Maksimal