Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bagaimana Cara Ber-Islam Secara Kaffah ?

8 September 2025, 05:13 WIB 3 menit baca
Bagaimana Cara Ber-Islam Secara Kaffah ?

SEMARANG TENGAH,muhammadiyahkotasemarang.org Pengajian Ahad Pagi (07/09/25) membahas pentingnya ber-Islam secara kaffah. Ustadz Amiril Edi Pranomo menjelaskan tiga pilar utama: berserah diri, taat, dan berlepas diri dari syirik.

Pernahkah Anda bertanya, “Sudah kaffahkah kita dalam ber-Islam?” Pertanyaan mendalam ini menjadi topik utama dalam pengajian rutin Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tengah.

Acara yang diadakan di Masjid At Taqwa Indrapasta ini menghadirkan Al Ustadz Amiril Edi Pranomo, S.H.I., M.H., seorang ustadz dari Kerohanian RS Roemani Semarang, untuk mengupas tuntas arti dan pentingnya berserah diri seutuhnya dalam agama Islam.

Dalam paparannya, Ustadz Amiril menjelaskan bahwa secara bahasa, kata Islam berasal dari akar kata Arab yang bermakna tunduk, patuh, dan selamat. Dengan kata lain, menjadi seorang Muslim berarti memiliki kepasrahan total kepada Allah SWT untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

Sayangnya, tak sedikit dari kita yang masih terjebak dalam sikap “setengah-setengah” dalam beragama.

Ustadz Amiril menyoroti sebuah kisah masa lalu, saat beberapa sahabat Nabi yang dulunya Yahudi Bani Nadhir di Madinah masih terpengaruh norma-norma agama lama, seperti menghormati hari Sabtu dan tidak mengonsumsi daging unta, meskipun telah memeluk Islam.

Sikap inilah yang kemudian ditegur oleh Allah SWT, menjadi pengingat bagi kita semua untuk berislam secara kaffah.

Tiga Pilar Utama dalam Ber-Islam secara Totalitas

Berdasarkan Kitab Ushul Tsalatsah, Ustadz Amiril menguraikan tiga pilar utama yang harus dipegang teguh oleh setiap Muslim untuk mencapai keislaman yang seutuhnya:

Berserah Diri dengan Mentauhidkan Allah. Inti dari pilar ini adalah hanya menyembah dan berserah diri kepada Allah semata. Dengan demikian, seorang Muslim sejati tidak akan pernah menyandarkan harapannya atau menyembah selain-Nya, baik itu langit, pohon, maupun jin. Nabi Ya’kub, misalnya, berwasiat kepada anak-anaknya agar menyembah Tuhan yang satu.

Tunduk Patuh dengan Menaati-Nya. Iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi juga ketaatan pada setiap perintah Allah dan Rasul-Nya. “Apa pun yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mereka dengar dan patuh,” jelas Ustadz Amiril. Hal ini berbeda dengan orang-orang munafik yang hanya beriman di lisan tanpa tindakan nyata.

Berlepas Diri dari Kesyirikan dan Pelakunya. Pilar ini menekankan bahwa seorang Muslim harus meyakini hanya Islam agama yang benar dan berani mengingkari segala bentuk kesyirikan.
Sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim yang berlepas diri dari kaumnya dan apa yang mereka sembah selain Allah. Tanpa keyakinan ini, pengakuan tauhid akan menjadi sia-sia.

Ustadz Amiril mengingatkan kembali sabda Nabi Muhammad SAW, “Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing”.

Makna dari hadis ini adalah keberuntungan bagi mereka yang tetap teguh menjalankan syariat Islam, meski dianggap aneh atau berbeda di tengah masyarakat yang tidak lagi memahami hakikat agama.

Bukan hanya sekadar acara keagamaan, melainkan sebuah ajakan untuk merenung dan berbenah.

Menjadi Muslim seutuhnya berarti menerima Islam sebagai pedoman hidup, yang memberikan ketenangan dan kebahagiaan sejati. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang senantiasa berjuang untuk mencapai keislaman yang kaffah.

Kontributor: PCM Semarang Tengah
Editor: Adib Abyan alb
Bagikan: