Bantu Penderita Hipertensi dari Rumah, Inovasi SMART-HTN Dosen Unimus Raih Juara 1 Nasional
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Penderita hipertensi menjalani 24 jam kehidupannya bersama risiko penyakit jantung dan stroke. Padahal, perjumpaan fisik mereka dengan tenaga medis di rumah sakit hanya berlangsung beberapa menit saja.
Kesenjangan waktu perawatan di rumah inilah yang mengetuk kepedulian dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Ns. Prima Trisna Aji, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB. Bersama Elinda Rizkasari, akademisi ini merancang gagasan digital bertajuk SMART-HTN untuk mendampingi pasien hipertensi secara mandiri di rumah.
Gagasan humanis yang memadukan teknologi digital dan kemandirian perawatan diri ini sukses memikat dewan juri. Inovasi SMART-HTN resmi menyabet Juara 1 Lomba Menulis Abstrak Tingkat Nasional dalam ajang Pekan Raya Optimal ke-7 yang diselenggarakan oleh PT Optimal Untuk Negeri.
Mendorong Kemandirian Pasien dari Edukasi Menuju Pemberdayaan
Melalui SMART-HTN, Prima menekankan pentingnya pergeseran paradigma pelayanan kesehatan dari sekadar edukasi biasa menjadi pemberdayaan pasien secara aktif. Pihaknya merancang teknologi ini bukan untuk membuat pasien bergantung pada aplikasi, melainkan agar masyarakat makin lihai mengontrol pola hidup dan tekanan darah secara berkala
“Pasien hidup dengan hipertensi selama 24 jam, sedangkan pertemuan dengan tenaga kesehatan hanya berlangsung pada waktu tertentu. Karena itu, pertanyaan penting dalam penelitian kami adalah bagaimana intervensi keperawatan tetap dapat mendukung pasien ketika mereka kembali ke rumah,” ujar Prima.
Lebih lanjut, teknologi ini berfungsi sebagai perpanjangan tangan perawat di luar fasilitas kesehatan. Inovasi ini membuktikan bahwa digitalisasi keperawatan tetap berpusat pada sentuhan manusiawi tanpa mengurangi peran hangat seorang perawat.
Riset Berdampak Nyata dan Kebermanfaatan Bagi Masyarakat
Bagi akademisi UNIMUS ini, piala dan piagam penghargaan nasional bukanlah garis akhir perjalanan risetnya. Sebaliknya, capaian tersebut menjadi amanah besar agar gagasan SMART-HTN segera teruji secara klinis dan memberikan dampak langsung bagi kesehatan masyarakat luas.
“Bagi saya, ilmu mempunyai nilai ketika dibagikan, dikembangkan, dan dapat memberikan manfaat kepada orang lain. Jika kemudian memperoleh Juara 1, itu adalah bonus sekaligus amanah agar saya tidak berhenti menghasilkan inovasi yang bermanfaat,” tutur Prima penuh syukur.
Keberhasilan SMART-HTN menjuarai kompetisi tingkat nasional ini membawa angin segar bagi dunia keperawatan Indonesia. Terobosan ini membuktikan bahwa teknologi paling bermakna adalah teknologi yang sanggup membantu penderita penyakit kronis untuk hidup lebih sehat, mandiri, dan berdaya.