Cara Menenangkan Hati dan Pikiran Saat Rumah Tangga Diuji Badai
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang modern mencari cara menenangkan hati dan pikiran ketika badai masalah keluarga datang bertubi-tubi merusak kebahagiaan rumah tangga mereka. Kegelisahan spiritual ini menjadi sorotan utama dalam khutbah Jumat yang berlangsung khidmat. Oleh karena itu, sang khatib mengajak jemaah melihat jauh ke dalam batin untuk menemukan kembali kedamaian hakiki.
Hardiyanto menyampaikan khutbah yang menggugah empati ini di Masjid At-Taqwa Ngaliyan Wates pada Jumat, 17 Juli 2026. Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan tersebut mengupas berbagai fenomena miris yang belakangan ini kerap berseliweran di media sosial. Secara spesifik, ia mencontohkan kisah viral seorang pegawai migas bergaji 35 juta rupiah yang berulang kali menghadapi pengkhianatan rumah tangga.
Selain itu, Hardiyanto juga menyoroti tingginya angka permohonan perceraian di Garut yang menembus angka 5.000 kasus hingga Juli 2026. Ia merasa prihatin melihat maraknya penyimpangan sosial yang justru dominan terjadi di lingkungan masyarakat muslim sendiri. “Tingkat pemahaman keislaman kita hanya pada titik keimanan saja, belum sampai pada tahap bagaimana kita meningkatkan dan menjaga ketakwaan kita pada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkap Hardiyanto saat merefleksikan fenomena tersebut.
Kembali pada Petunjuk Al-Qur’an
Di hadapan ratusan jemaah, Hardiyanto menegaskan bahwa gejolak sosial tersebut muncul karena renggangnya hubungan manusia dengan kitab suci. Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam menata kehidupan sehari-hari. Langkah awal yang paling penting adalah menumbuhkan komitmen personal untuk kembali belajar membaca al quran tanpa memandang batasan usia.
Sebelumnya, Hardiyanto memaparkan data memprihatinkan dari Majelis Ulama Indonesia tentang tingginya angka buta aksara Al-Qur’an yang mencapai 58 hingga 65 persen. Fakta ini menjadi alasan kuat mengapa banyak jiwa merasa hampa dan rapuh menghadapi ujian hidup. “Bagaimana tuntunan ajaran Al-Qur’an mau kita ikuti kalau hanya 35% dari warga kita yang mengaku Islam yang bisa membaca?” tanya Hardiyanto secara retoris dari atas mimbar.
Lebih lanjut, Hardiyanto mengingatkan bahwa hilangnya ketenangan hidup sering kali bermula dari kelalaian manusia dalam membaca petunjuk-Nya. “Maka kunci pertama kalau kita mau memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita, mari kita kembali pada Al-Qur’an. Jadikan Al-Qur’an sebagai hudan dalam kehidupan kita,” tegasnya di tengah keheningan jemaah.
Menjadi Ulil Albab di Era Digital
Guna menyikapi gempuran informasi dan konflik sosial yang melelahkan jiwa, Hardiyanto mengarahkan jemaah pada surat ali imran ayat 190. Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan setiap mukmin untuk melatih ketajaman berpikir dan kepekaan rasa. Alhasil, umat Islam harus mampu memetik hikmah mendalam dari setiap peristiwa alam maupun dinamika lingkungan di sekitar mereka.
Dengan tegas, Hardiyanto menjabarkan esensi menjadi manusia yang visioner secara spiritual di tengah modernitas. “Kita selaku seorang mukmin diminta oleh Allah untuk memperhatikan dunia ini. Bergantinya siang dan malam, apa pun yang terjadi di dunia ini, kita disuruh untuk menjadi Ulil Albab,” ujar Hardiyanto saat menjelaskan kandungan ayat tersebut.
Ia juga mengajak jemaah menyadari hakikat kehidupan di dunia yang hanya sementara agar tidak mudah goyah oleh urusan materi. “Jadi kunci yang kedua, ternyata kita harus meyakini dulu bahwa kehidupan kita ini fana. Kehidupan kita ini nanti akan dipertanggungjawabkan,” tambahnya untuk memperkuat fondasi batin jemaah.
Memperbaiki Kualitas Salat dan Tanggung Jawab Batin
Selanjutnya, Hardiyanto mengingatkan bahwa mendirikan salat secara khusyuk dan tepat waktu merupakan benteng terbaik dari perbuatan keji dan mungkar. Namun, ia menyayangkan fenomena pembangunan masjid megah yang sering kali sepi dari kehadiran jemaah. Padahal, perbaikan kualitas ibadah harian merupakan kunci utama untuk memulihkan kedamaian hati yang sejati.
Hardiyanto bahkan memberikan teguran emosional mengenai kebiasaan menunda-nunda ibadah yang sering merusak ketenangan spiritual seseorang. “Bagaimana kualitas iman kita akan terbukti dan ketakwaan kita akan tumbuh, jika komponen sebagai gerbang awal kita membangun pribadi-pribadi yang rahmatan lil ‘alamin tidak betul-betul terjadi,” tuturnya dengan nada bergetar.
Sebagai penutup, Hardiyanto mengajak seluruh jemaah untuk segera mengambil langkah nyata dalam memperbaiki kualitas keimanan mereka dari lingkup terkecil. Ia meminta setiap individu tidak menunda-nunda waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. “Yang belum bisa membaca, masih ada waktu and umur, mari sama-sama belajar,” pungkas Hardiyanto mengakhiri khutbahnya.