Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ciri-Ciri Orang Beriman Saat Dengar Sindiran, Anda Termasuk?

4 Juli 2026, 18:49 WIB • 3 menit baca
Dr. KH. Fachrur Rozi M.Ag memakai peci hitam dan baju koko putih sedang memberikan ceramah menggunakan mikrofon dalam kajian rutin di Masjid Al Mujahidin Purwosari Semarang.
Ketua PDM Kota Semarang, Dr. KH. Fachrur Rozi M.Ag, saat menyampaikan nasehat islami menyentuh hati mengenai ciri-ciri orang beriman dan hakikat muhasabah di Masjid Al Mujahidin, Purwosari, Semarang Utara. (Foto: Dok. muhammadiyahsemarangkota.org)

SEMARANG UTARA, muhammadiyahsemarangkota.org – Masyarakat dapat melihat ciri-ciri orang beriman yang sesungguhnya dari cara mereka merespons teguran agama. Oleh karena itu, momen pergantian tahun Hijriah di bulan Muharram ini menjadi waktu paling tepat untuk mengevaluasi diri.

Kajian rutin pekan pertama ini berlangsung khusyuk di Masjid Al Mujahidin, Jalan Patriot Raya Semarang Utara pada Sabtu (04/07/26). Pada kesempatan tersebut, Dr. KH. Fachrur Rozi M.Ag hadir sebagai pembicara utama. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang ini menyampaikan nasehat islami menyentuh hati dengan gaya bahasa Jawa yang sangat segar.

Filosofi Bensin dan Indikator Kesehatan Iman

Saat memulai ceramah, Ia melempar sebuah perumpamaan sederhana mengenai kepekaan spiritual manusia. Menurutnya, cara membersihkan hati dalam Islam tercermin nyata dari keikhlasan batin saat menerima kritikan tajam. Maka dari itu, Ia membandingkan kesehatan fisik manusia dengan ketajaman nurani dalam menangkap hidayah.

“Umpami ketetesan bensin kok mak nyes berarti kulit waras. Ngaji kok mak nyes berarti ngajine nembe sehat… Ngaji kok kraos, asal kuat insya Allah sehat. Ning nek kraos mulih muni-muni, tambah lara,” ujar Ketua PDM Kota Semarang tersebut.

Melalui analogi itu, Ia menjelaskan bahwa kulit yang sehat pasti terasa dingin jika terkena bensin. Begitu pula dengan keimanan; hati yang sehat pasti merasa sejuk (mak nyes) saat menerima wejangan agama. Namun, jika seseorang merasa tersindir lalu pulang dengan mengomel (muni-muni), hal itu menandakan batinnya justru bertambah sakit.

Oleh sebab itu, Ia menegaskan bahwa rasa tersindir yang berubah menjadi amarah merupakan tanda penyakit batin. Sebaliknya, orang beriman akan menyambut nasehat tersebut dengan lapang dada untuk memperbaiki kualitas diri.

Hakikat Muhasabah yang Jujur di Bulan Muharram

Selanjutnya, narasumber juga menyoroti fenomena evaluasi diri atau muhasabah yang sering kali salah kaprah. Ia menilai bahwa esensi pertobatan tidak terletak pada formalitas pakaian ataupun tangisan massal. Langkah ini Ia sampaikan demi menjaga kemurnian niat dalam setiap ibadah umat Muslim.

“Muhasabah itu ora kudu kudung putih, peci putih, klambi putih, kabeh putih ngko terus nangis bareng-bareng boten ngoten niku. Sebab lek mung ngajari nangis bareng gampang… Asal kulo dungone rodo nangis sithik-sithik, yakin kulo panjenengan melu nangis,” cetus sosok ulama Semarang itu.

Ia menegaskan bahwa muhasabah tidak harus dilakukan dengan atribut serba putih lalu menangis bersama. Menurutnya, mengondisikan tangisan massal itu perkara mudah, cukup dengan melantunkan doa yang menyayat hati. Namun, batin yang bersih justru lahir dari keberanian mengakui kelemahan diri di hadapan Allah Swt, kesadaran batin inilah yang nantinya akan menuntun seorang hamba menjadi pribadi yang lebih baik.

Sinergi Kebaikan dan Adab di Dalam Keluarga

Di samping hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan domestik. Tantangan terbesar dalam berbakti biasanya muncul ketika orang tua sudah memasuki usia senja. Oleh karena itu, Ia meminta generasi muda untuk senantiasa memperluas samudra kesabaran mereka.

“Sing dadi anak ayo do bekti karo wong tuwo… sing dadi mantu ayo do hormat karo maratuwa… Kita yang jadi wong tuwo sayo umur sayo tambah ayo kemudian ingat bahwa manusia itu… meh sudo kemampuannya,” tutur ulama tersebut.

Melalui seruan ini, Ia mengajak anak untuk berbakti kepada orang tua dan menantu untuk menghormati mertua. Seiring bertambahnya usia, orang tua pun harus sadar bahwa kemampuan fisik mereka akan semakin berkurang (suda kemampuannya). Sinergi dan kesadaran posisi masing-masing inilah yang akan menciptakan kedamaian di dalam rumah tangga.

Pada akhirnya, kajian KH Fachrur Rozi ini mengajak jamaah untuk melakukan refleksi mendalam. Kita semua harus menjaga hati agar tetap lembut, peka terhadap kebenaran, serta tulus memuliakan orang tua.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: