Sering Insecure Lihat Medsos? Coba Digital Detox Ala Ajaran Islam Ini
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Apakah Anda sering merasa cemas saat membandingkan hidup dengan pencapaian orang lain di dunia maya? Tanpa sadar, kecanduan media sosial dapat membuat jiwa menjadi sangat kelelahan. Oleh karena itu, Anda membutuhkan sebuah metode digital detox yang tepat untuk mengembalikan ketenangan pikiran.
Kegelisahan masyarakat modern ini menjadi sorotan utama dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa Ngaliyan Wates. Pada hari Jumat (24/07/26), Dr. Aang Kunaepi M.Ag selaku ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang memaparkan pentingnya menjaga kesehatan jiwa abad 21. Selanjutnya, ia mengingatkan para jamaah agar tidak terus-menerus mencari validasi dari manusia lain.
Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang itu menjelaskan bahwa manusia sering tersesat saat mengejar pengakuan maya. “Kadang kita menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa ingin dipuji oleh orang lain, tetapi orang-orang yang senantiasa ingin dipuji orang lain menandakan bahwa dirinya masih butuh validasi manusia,” ungkap Aang. Padahal, ia menegaskan bahwa validasi terpenting di dunia ini hanyalah dari Sang Pencipta.
Takhalli sebagai Langkah Awal Digital Detox
Untuk melepaskan diri dari belenggu ini, praktik tasawuf menawarkan jalan keluar yang sangat nyata. Langkah pertama bernama takhalli, yaitu sebuah cara membersihkan hati dari kotoran batin. Oleh sebab itu, konsep ini sangat relevan untuk membuang segala pengaruh buruk dari internet.
Lebih lanjut, ia membedah makna takhalli dalam konteks kehidupan digital masa kini. “Di zaman media sosial, takhalli berarti membersihkan diri dari kecanduan gawai, budaya membandingkan diri dengan orang lain, kebiasaan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, serta gaya hidup konsumtif,” paparnya mengutip naskah khutbah tertulis. Dengan demikian, menghentikan kebiasaan buruk ini akan sangat menyehatkan jiwa.
Mengganti Kebiasaan Melalui Tahalli
Setelah mengosongkan diri dari racun dunia maya, manusia tidak boleh membiarkan hatinya hampa. Fase selanjutnya dalam perjalanan spiritual ini bernama tahalli. Proses ini mewajibkan seseorang memasukkan perbuatan baik sebagai pengganti kebiasaan buruk sebelumnya.
Aang lantas mengaitkan konsep ini dengan pemikiran futurolog Alvin Toffler. “Bahwa orang yang dianggap buta huruf itu adalah bukan orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak belajar, dan tidak mau membuang apa yang sudah dia alami keburukan-keburukan,” kutipnya tegas. Maka dari itu, manusia modern harus berani meninggalkan kebiasaan lama.
Mencapai Ketenangan Jiwa Abad 21
Pada akhirnya, menjaga kewarasan mental bukanlah sekadar mematikan koneksi internet untuk sementara waktu. Lebih dari itu, hal ini adalah sebuah perjalanan spiritual untuk menata ulang niat. Transformasi ini tentu membutuhkan kedisiplinan serta komitmen yang sangat tinggi dari setiap individu.
Apabila rutinitas pembersihan batin ini terus dilakukan, cengkeraman obsesi dunia maya akan perlahan menghilang. “Oleh karena itu, kesehatan jiwa di abad ke-21 bukan hanya bebas dari stres, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan iman, akhlak, dan integritas,” ucap Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang tersebut. Mari jadikan langkah ini sebagai gerbang pembuka menuju kedamaian sejati.