Drama Bantal Terbang dan Anti-Poligami: Resep Nyata Rumah Tangga Harmonis ala Dosen UI
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Membangun rumah tangga harmonis ternyata tidak butuh teori rumit. Sebagai buktinya, Dr. Mohammad Nasih membuktikan bahwa wujud suami sayang istri justru berawal dari kejujuran dan tawa keseharian. Berangkat dari situ, kisah romantis suami istri ini menunjukkan bahwa keluarga sakinah mawaddah warahmah lahir dari kesepakatan sederhana terkait urusan anti-poligami.
Secara lebih rinci, ia mengungkapkan kisah jenaka ini saat mengisi Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 16 Agustus 2026. Tepat di hadapan jemaah Masjid At Taqwa Ngaliyan, Wates, Kota Semarang, dosen pascasarjana UI dan UMJ itu membagikan pengalaman pribadinya. Melalui forum tersebut, ia membedah dinamika pernikahan yang jauh dari kesan kaku.
Janji Pranikah Anti-Poligami
Menengok ke belakang, perjalanan cinta sang dosen berakar dari janji pranikah yang sangat tegas. Jauh sebelum meminang istrinya, ia harus menjawab pertanyaan krusial dari mertuanya.
“Dulu dipanggil Bu Sri Suharjati, ‘Nanti anak saya dipoligami apa enggak?’ Saya janji, ‘Oh, saya enggak bakal poligami‘,” ceritanya menirukan percakapan masa lalu.
Sadar akan komitmennya, janji tersebut terus ia rawat hingga sekarang. Menariknya lagi, istrinya yang berprofesi sebagai dokter punya cara cerdas untuk merespons candaan tentang poligami.
“Istri saya sering bilang sama saya, ‘Ya kalau kamu mau poligami ya boleh, yang penting salah satunya bukan aku’,” ungkapnya. Sejalan dengan hal itu, ungkapan telak tersebut langsung menyulut gelak tawa para jemaah yang hadir.
Ketegangan Berujung Bantal Terbang
Memasuki babak baru, dinamika rumah tangga ini makin seru ketika pandemi Covid-19 melanda Tanah Air. Lantaran harus bekerja dari rumah setiap hari, ia sempat mengalami kejadian menegangkan. Tanpa diduga, sang istri mendadak mogok bicara selama beberapa hari penuh tanpa alasan yang jelas.
Lambat laun, aksi bungkam itu rupanya mencapai batas klimaks pada hari ketiga. Pada puncaknya, sang istri akhirnya meledak dan melampiaskan perasaannya melalui sebuah lemparan bantal.
“3 hari, saya dilempar bantal, ‘Ini gara-gara kamu!’ katanya,” kenang Dr. Nasih sambil tersenyum simpul mengingat kejadian tersebut.
Berawal dari insiden lemparan bantal itu, ia akhirnya sadar. Siapa sangka, sang istri ternyata tengah mengandung anak kelima mereka secara tidak terencana.
Resep Tawa dalam Keluarga
Menyikapi hal tersebut, rentetan kejadian lucu ini justru memperkuat fondasi agama sang akademisi. Lebih jauh lagi, ia memandang bahwa memiliki pasangan hidup merupakan fitrah manusia seutuhnya.
“Jadi yang ideal bagaimana? Yang ideal laki-laki punya istri, yang ideal Ibu-ibu punya suami,” tegasnya menjelaskan konsep hidup ideal dalam Islam.
Oleh karena itu, suami harus mau menekan ego pribadi demi menjaga keutuhan keluarga. Bahkan sebagai seorang akademisi, ia tidak malu mengakui posisinya di dalam rumah.
“Saya ini, saya sering bilang saya ini Dewan Pembina Ikatan Suami Takut Istri,” kelakarnya menutup kisah.
Pada akhirnya, rentetan insiden kecil nan manusiawi itulah yang memperlihatkan wajah asli sebuah pernikahan. Dengan berbekal tawa dan kelapangan hati, setiap pasangan pasti bisa mengubah kejutan tak terencana menjadi rasa syukur yang mendalam.