Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Berkaca pada Jiwa, Ini Hakikat Hijrah yang Sesungguhnya

17 Juni 2026, 20:13 WIB • 3 menit baca
Ilustrasi konseptual hakikat hijrah yang sesungguhnya di era digital, seorang pria bermotif batik meninggalkan tumpukan layar ponsel pintar menuju hamparan bunga yang damai dan penuh cahaya.
Ilustrasi transformasi spiritual (hijrah) dari belenggu dunia maya menuju kedamaian jiwa yang autentik. (Foto: Dok. AI Ilustrasi/muhammadiyahsemarangkota.org)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org — Ruang digital saat ini kerap dipenuhi oleh kosmetik keagamaan yang memanjakan mata. Fenomena tersebut memicu munculnya sebuah refleksi tajam mengenai tipisnya batas antara pertobatan sejati dan tuntutan tren. Banyak orang kini terjebak pada ilusi dunia. Akibatnya, mereka menganggap kesuksesan hanya diukur dari harta, jabatan, popularitas, serta kemewahan materi semata. 

Dampak dari pergeseran nilai ini akhirnya melahirkan kegelisahan spiritual yang mendalam di tengah masyarakat. Oleh karena itu, publik perlu memahami kembali makna dan hakikat hijrah yang sesungguhnya. Perubahan spiritual yang sejati tidak boleh berhenti pada sekadar bungkus luar, melainkan harus menyentuh transformasi batin. 

Guna mengupas fenomena sosial tersebut, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag, memberikan penjelasan komprehensif. Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Semarang tersebut menyampaikan pandangannya kepada tim jurnalis muhammadiyahsemarangkota.org yang berlangsung pada Rabu (17/06/2026).

Ia membedakan dengan tegas antara mereka yang sekadar ikut tren pakaian dan mereka yang benar-benar mengalami revolusi jiwa. 

Meluruskan Niat di Balik Simbol Keagamaan

Menurut pandangan Dr. Aang Kunaepi, sebagian orang saat ini sayangnya memahami perubahan spiritual sebatas perpindahan tempat atau perubahan penampilan saja.

Padahal, esensi perpindahan tersebut sejatinya jauh lebih dalam daripada sekadar kosmetik visual atau simbol fisik. “Seseorang belum tentu disebut berhijrah hanya karena memakai simbol-simbol keagamaan,” tutur pakar kependidikan Islam tersebut saat mengklarifikasi fenomena kontemporer ini. 

Oleh karena itu, Ia menekankan pentingnya meluruskan motivasi agar perubahan batin tidak terjebak pada pencitraan belaka. Langkah awal yang paling krusial dalam proses ini adalah memperkuat niat murni karena Allah Swt. Hal ini selaras dengan sebuah hadis tentang niat hijrah yang sangat masyhur dalam riwayat Bukhari dan Muslim: 

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ


“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” 

Mengenal Ciri-Ciri Orang Berhijrah yang Autentik

Perubahan yang sejati pasti akan membuahkan transformasi karakter dan akhlak yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dr. Aang Kunaepi menjelaskan bahwa esensi utama dari proses ini adalah perpindahan hati, pikiran, sikap, dan perilaku. Seseorang sedang menjalani proses yang hakiki jika Ia terus berjuang meninggalkan dosa dan memperbaiki kualitas dirinya. 

Lebih lanjut, ciri-ciri orang berhijrah yang jujur dapat terlihat dari cara Ia berinteraksi dengan lingkungan modern. Di era digital, hal ini berarti Ia mampu menjaga jari dan mata dari konten-konten yang diharamkan. Ia akan menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan untuk memproduksi kebencian, ghibah, maupun hoaks. Sesuai kutipan langsung dari sabda Rasulullah Swt yang menjadi fondasi penting sepanjang zaman: 

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” 

Langkah dan Cara Istiqomah Setelah Hijrah

Namun demikian, mempertahankan konsistensi di jalan ketaatan merupakan perjuangan berat yang melibatkan pertarungan melawan hawa nafsu. Banyak tantangan nyata yang harus dihadapi, mulai dari meninggalkan lingkungan negatif hingga menghentikan penghasilan tidak halal. Sering kali seseorang merasa berat karena harus berhadapan langsung dengan pemakluman sosial di sekitarnya. 

Mengenai fenomena dilematis tersebut, Dr. Aang Kunaepi memberikan sebuah catatan kritis yang sangat kuat. “Hijrah adalah keberanian untuk mengatakan tidak kepada dosa meskipun lingkungan menganggapnya biasa,” ungkapnya. Guna mengatasi kendala dan tantangan berat tersebut, Ia membagikan beberapa tips taktis bagi umat Muslim. 

“Jangan pernah terburu-buru melakukan perubahan besar tanpa dasar yang kuat. Carilah lingkungan pergaulan yang baik dan teman-teman saleh, lalu perbaiki ibadah kita secara bertahap namun konsisten karena Allah sangat mencintai amalan yang kontinu meskipun sedikit,” pesan Dr. Aang Kunaepi. Nasihat tersebut menjadi salah satu cara istiqomah setelah hijrah yang dapat segera diterapkan agar semangat kebaikan tidak mudah padam.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: