Jangan Tunggu Jatuh Sakit, Ini Keutamaan Waktu yang Kerap Diabaikan Manusia
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang mengabaikan keutamaan waktu saat tubuh masih kuat dan bugar. Ironisnya, kesadaran beribadah sering kali baru muncul ketika penyakit sudah menyerang fisik.
Kenyataan pahit tersebut mengemuka dalam acara senam kesehatan jantung bersama ratusan warga. Kegiatan ini berlangsung di Halaman Masjid At Taqwa, Ngaliyan, Kota Semarang pada Ahad, 2 Agustus 2026.
Mengubah Syukur Menjadi Amal Nyata
Sembari merilekskan otot, peserta senam langsung mendengarkan tausiyah dari H. Ra’ad Noor Fattah, M.Ag. Ia menyoroti fenomena manusia modern yang sering lalai menjaga rutinitas ibadahnya. Lebih jauh lagi, kesehatan merupakan keistimewaan yang menuntut timbal balik secara nyata.
“Ada juga yang umurnya panjang, tetapi kesehatannya terganggu,” ujar Ra’ad. Untuk melengkapi argumennya, ia menambahkan bahwa bersyukur dalam Islam menuntut aksi konkret. “Kita memiliki kewajiban untuk membuktikan kepada Allah dengan cara apa? Dengan memperbanyak amal saleh,” tegasnya.
Ironi Pasien Muda di Ruang ICU
Berbekal pengalamannya sebagai petugas medis di RS Roemani, ia kerap melihat ironi kehidupan. Ia pun membagikan kisah nyata seorang pasien pria muda di ruang perawatan intensif. Akibat kondisi kritisnya, pemuda berusia tiga puluhan tersebut sempat mengalami henti jantung dua kali.
Meskipun mendapat kesempatan hidup kedua, pemuda itu mengaku enggan mendirikan sholat saat sehat. Berkaca dari peristiwa tersebut, kisah ini menjadi contoh betapa manusia sering menyepelekan anugerah. “Manusia itu beriman, ngakune beriman kepada Allah tapi kon puasa emoh, kon sedekah emoh, dikon sholat pun mboten kersa,” paparnya.
Jangan Rugi Kehilangan Keutamaan Waktu
Realitas memilukan di rumah sakit tadi membuktikan bahwa keimanan selalu butuh tindakan nyata. Tanpa adanya langkah konkret, keimanan seseorang hanya sebatas klaim kosong belaka. Oleh sebab itu, Tuhan memperingatkan manusia tentang keutamaan waktu agar tidak menyesal kelak.
Guna memperkuat argumennya, Ra’ad mengutip salah satu ayat suci Al-Qur’an. “Saking berharganya waktu, maka Allah bersumpah demi waktu,” jelas sang penceramah. Lewat penjelasan tersebut, ia mengingatkan kembali firman Tuhan tentang kerugian manusia. Manusia selalu merugi kecuali mereka yang konsisten beriman dan beramal saleh.
Sebagai penutup refleksi, waktu dan kesehatan adalah aset berharga yang tak tergantikan. Kisah ruang ICU ini seharusnya memacu kita untuk memaksimalkan umur yang tersisa. Selagi napas berhembus teratur, mari wujudkan rasa syukur melalui tindakan kebaikan setiap hari.