Kesiapsiagaan Tenaga Keperawatan: Cerita 58 Mahasiswa UNIMUS Hadapi Simulasi Gawat Darurat
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Suara alarm tanda henti jantung mendadak memecah keheningan ruang praktik. Sebanyak 58 mahasiswa D3 Keperawatan bergerak sigap memompa dada manekin demi menguji kesiapsiagaan tenaga keperawatan dalam situasi kritis.
Ujian ketangkasan ini berlangsung di Kampus Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Jawa Tengah, sejak Minggu (9/8/2026) hingga Jumat (14/8/2026). Melalui pelatihan Basic Trauma and Cardiac Life Support (BTCLS) 118, para mahasiswa mengasah keterampilan medis secara bertahap.
Gemblengan Ketat Calon Perawat Tanggap Darurat
Pada dua hari pertama, para peserta menyerap fondasi teori kegawatdaruratan secara daring. Selepas itu, ruang kelas langsung berubah menjadi arena simulasi fisik bertekanan tinggi selama empat hari berikutnya.
Para instruktur melatih calon perawat tanggap darurat ini untuk mengenali henti napas, menangani cedera berat, dan memacu kejut jantung. Pembelajaran intensif ini sekaligus mengacu pada pembaruan panduan American Heart Association (AHA) 2025.
Dekan FIKKES UNIMUS, Dr. Ns. Muhammad Fatkhul Mubin, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., menilai penguasaan respons cepat merupakan bekal mutlak bagi lulusan kesehatan. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental saat terjun ke lapangan.
“Pelatihan BTCLS menjadi bekal yang sangat penting bagi mahasiswa. Kompetensi yang diperoleh diharapkan semakin meningkatkan kesiapan mereka untuk bersaing dan bekerja secara profesional ketika memasuki dunia kerja,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ujian Penyelamatan Nyawa Pasien di Ruang Simulasi
Memasuki sesi praktik lapangan, ketegangan kian terasa saat simulasi korban kecelakaan massal dimulai. Para mahasiswa harus membagi fokus antara membuka jalan napas dan menstabilkan kondisi luka secara cepat.
Langkah taktis tersebut menentukan keberhasilan penyelamatan nyawa pasien sebelum tim medis merujuknya ke fasilitas lanjutan. Kecepatan tindakan mereka menjadi cerminan standar mutu pelayanan kesehatan rumah sakit masa depan.
Ketua Program Studi D3 Keperawatan FIKKES UNIMUS, Dr. Ns. Yunie Armiyati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB, mengapresiasi kerja keras seluruh peserta selama menjalani pelatihan berat ini. Ia berharap keterampilan praktis ini terus melekat saat mereka bekerja nanti.
“Kami menyampaikan terima kasih atas ilmu, pengalaman, dan keterampilan yang telah diberikan kepada mahasiswa. Harapannya, seluruh kompetensi yang diperoleh selama pelatihan ini dapat diterapkan dan memberikan manfaat ketika mereka menghadapi dunia kerja,” tutur Yunie.
Lulus Sempurna Menjaga Asa Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit
Perjuangan berhari-hari itu akhirnya terbayar tuntas saat seluruh peserta dinyatakan lulus evaluasi akhir. Perwakilan BTCLS 118, Ns. Nur Halimah, memuji konsistensi mahasiswa dalam melewati setiap pos ujian klinis.
“Mahasiswa telah melewati seluruh rangkaian pelatihan dan ujian. Seluruh peserta dinyatakan lulus,” kata Nur Halimah saat menutup rangkaian acara.
Suasana haru menyelimuti ruangan saat peserta terbaik menerima penyematan pin BTCLS 118. Lencana tersebut menjadi simbol pengingat bahwa keselamatan jiwa manusia kini berada di pundak mereka.
Keberhasilan 58 calon perawat ini menghadirkan angin segar bagi dunia kesehatan publik. Melalui gemblengan nyata tersebut, ketangguhan dan kesiapsiagaan tenaga keperawatan lulusan UNIMUS siap menjadi garda andalan masyarakat dalam melewati masa-masa kritis.