Menguak Keutamaan Bulan Muharram yang Kerap Tertutup Mitos Horor
NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Pelurusan sejarah dan keyakinan menjadi inti sari khutbah yang membongkar salah kaprah masyarakat dalam memahami keutamaan bulan Muharram. Khatib menyerukan umat untuk menghentikan ketakutan berlebih terhadap mitos sasi Suro, meluruskan tradisi begadang yang keliru, serta mengembalikan esensi zikir pada keheningan batin yang khusyuk.
Pesan spiritual yang menggetarkan hati ini disampaikan secara langsung di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Wates, Semarang pada Jumat (19/06/2026) siang. Ratusan jamaah tampak memadati saf salat demi mendengarkan Drs. KH. Danusiri, M.Ag. yang menegaskan bahwa bulan ini harus dimuliakan dengan puasa, bukan justru ditakuti atau dilarang untuk menggelar pernikahan.
Ayat tentang Bulan Muharram dan Larangan Menganiaya Diri
KH. Danusiri mengawali khutbahnya dengan membacakan firman Allah dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 36. Ia melantunkan ayat “Inna ‘iddatash-shuhuuri ‘indallāhits-nā ‘ashara shahran fī kitābillāh” dengan penuh penghayatan. Kalimat suci tersebut menegaskan bahwa ketetapan dua belas bulan ini telah berlaku sejak Allah menciptakan langit dan bumi.
Kemudian, Ia menjelaskan bahwa dari dua belas bulan tersebut, terdapat empat bulan yang mulia dan suci. Namun, umat Islam saat ini justru sering kali melecehkan firman Allah dengan membalikkan kesucian bulan tersebut menjadi sesuatu yang angker. Manusia bertindak sangat ceroboh dengan menganiaya keyakinan mereka sendiri melalui ketakutan yang tidak berdasar.
Mengupas Salah Kaprah Amalan Bulan Suro di Masyarakat
Kenyataan di lapangan memang memperlihatkan pergeseran nilai kultural yang luar biasa keliru. Di tanah Jawa, bulan Muharram sangat identik dengan bulan Suro yang maknanya dibalik 180 derajat menjadi bulan horor. “Di masyarakat kita berkembang mitos bahwa pada bulan Suro tidak boleh mantu (mengadakan pernikahan), tidak boleh pindah rumah, serta tidak boleh melakukan hajatan-hajatan lain yang berpotensi mengundang orang banyak,” ujar KH. Danusiri dari atas mimbar.
Lebih lanjut, Ia menceritakan fenomena miris mengenai orang tua yang enggan menikahkan anaknya yang sudah telanjur berbuat maksiat hanya karena alasan sasi Suro. Padahal, pernikahan tersebut mestinya sesegera mungkin dilaksanakan untuk menutup peluang perbuatan dosa. Akibatnya, esensi spiritual mulia dari amalan bulan Suro akhirnya bergeser menjadi sekadar aktivitas fisik yang kosong dan menyimpang.
Selain itu, istilah thariqah atau jalan spiritual kini banyak diganti masyarakat menjadi istilah “tirakat” yang keliru. Alih-alih mengisinya dengan agenda zikir menenangkan hati, malam sakral tersebut justru habis untuk aktivitas begadang. Mereka sekadar melek semalaman sambil minum kopi, bermain catur, kartu remi, atau menonton siaran sepak bola.
Panduan Zikir Menenangkan Hati Menurut Al-Qur’an
KH. Danusiri juga memberikan kritik halus terhadap maraknya tradisi zikir komunal yang menggunakan pengeras suara secara berlebihan atau horeg. Tindakan tersebut dinilai nyata-nyata telah menyalahi esensi zikir yang sebenarnya. Oleh karena itu, Ia mengingatkan jamaah untuk kembali membuka dan mengamalkan tuntunan ibadah yang lurus.
Berdasarkan ayat tentang bulan Muharram dalam surat Al-A’raf ayat 205, zikir mestinya diucapkan di dalam hati dengan penuh kekhusyukan dan tidak terdengar oleh siapa pun. Selanjutnya, umat Islam juga dapat meraih berkah besar melalui ibadah puasa Muharram secara fleksibel kapan saja. Langkah universal ini jauh lebih mumpuni dan benar daripada meributkan lafal niat yang detail atau terjebak dalam perdebatan bidah.
Refleksi Akhir: Menghidupkan Kembali Kesucian Muharram
Pada akhirnya, meluruskan salah kaprah seputar bulan suci ini adalah tanggung jawab kolektif keimanan kita. Menghilangkan ketakutan tak berdasar terhadap larangan adat dan menggantinya dengan rutinitas ibadah yang tulus merupakan esensi utama dari keutamaan bulan Muharram.
Oleh karena itu, mari jadikan setiap detiknya sebagai waktu pembersihan batin dan menjauhi prasangka batil yang menganiaya diri sendiri. Dengan mengetuk pintu langit melalui untaian zikir menenangkan hati dan merujuk teguh pada dalil sahih, kita dapat melangkah di atas agama yang lurus.