Lelah yang Menjadi Pahala, Ketika Doa dan Pelukan Ibu Menentukan Masa Depan Generasi
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Suara bising mainan dan celoteh anak di sudut rumah kerap menguji kesabaran para ibu setiap hari. Namun, dari peluh dan ketulusan tangan seorang ibu yang tak kenal lelah itulah, masa depan dan nilai-nilai keimanan seorang anak sebenarnya sedang dibentuk pada Sabtu (15/8/2026).
Hadir sebagai penceramah utama dalam Pengajian Qolbun Salim, Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang sekaligus Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang, Ustadz Dr. Aang Kunaepi, M.Ag. Pihaknya mengupas tuntas pentingnya peran ibu mendidik anak guna menyelamatkan generasi penerus dari krisis moral akhir zaman.
Dalam pemaparannya, penceramah kajian ini menegaskan bahwa seorang muslimah memegang posisi paling strategis sebagai madrasah pertama. Sosok ibu menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenal cinta, bahasa, tauhid, hingga pembentukan karakter dasar.
“Dari tangan seorang ibu lahir generasi yang pertama kali belajar mengenal cinta, bahasa, iman, akhlak, disiplin, dan tanggung jawab. Ibu adalah pilar utama peradaban,” ungkap Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang tersebut saat menyampaikan materi kajian.
Benteng Akidah dan Karakter
Selanjutnya, pengajar UIN Walisongo ini menyoroti derasnya gempuran media sosial dan ketergantungan gadget pada anak-anak. Pihaknya mendorong para ibu untuk tampil sebagai penjaga benteng akidah keluarga agar anak-anak tidak mudah goyah.
Langkah konkret tersebut bermula dengan membiasakan ibadah, mengenalkan kasih sayang Allah, serta melatih kecerdasan emosional anak. Ibu yang sabar mengelola emosi secara otomatis mengajarkan anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang jujur, tangguh, dan penuh empati.
Oleh karena itu, keteladanan nyata dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih berkesan daripada sekadar nasihat lisan. Seorang ibu yang menjaga lisan dan taat beribadah bakal mencetak anak-anak yang memiliki ketahanan mental kuat.
“Anak belajar lebih banyak melalui apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Maka ibu bukan hanya pendidik melalui nasihat, melainkan juga melalui keteladanan akhlak,” tambah Dosen FTIK UIN Walisongo Semarang tersebut.
Kemuliaan Hakiki Muslimah
Sembari menuntun tata cara pengasuhan, Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah ini mengingatkan bahwa kemuliaan seorang muslimah sama sekali tidak terukur dari popularitas di media sosial. Kemuliaan sejati justru memancar dari keteguhan menjaga iman, keluasan ilmu, dan keberhasilan mencetak generasi bertakwa.
Maka dari itu, rumah tangga yang berfondasi nilai Al-Qur’an bakal melahirkan calon pemimpin masa depan yang berilmu dan berakhlak mulia. Sinergi antara ayah dan ibu dalam berdoa serta mendampingi anak menjadi kunci utama kebahagiaan dunia akhirat.
Lalu, pesan penutup dari kajian ini mengajak setiap perempuan untuk terus memperluas wawasan keagamaan. Sebab, mendidik satu anak di dalam rumah pada hakikatnya sedang menentukan wajah peradaban masa depan.
Akhirnya, kajian bulanan Qolbun Salim berhasil menggugah kesadaran para jamaah akan agungnya tugas seorang ibu. Kehangatan rumah tangga yang penuh zikir dan ilmu bakal menjadi cahaya penuntun bagi keselamatan keluarga.