Merasa Apes Terus? Ternyata Bukan Kutukan, Ini Makna Hari Sial yang Sering Disalahpahami
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang masih mengaitkan nasib buruk dengan siklus waktu tertentu. Padahal, makna hari sial dalam Islam sangat jauh dari sekadar kutukan kalender. Bahkan, pemahaman keliru ini justru sering menutupi penyebab musibah dalam Islam yang sesungguhnya.
Penjelasan tajam ini hadir dalam khutbah pada Jumat, 24 Juli 2026. Ustadz Dr. KH. Zuhad Masduki, M.A. menyampaikannya secara langsung di hadapan jamaah Masjid At-Taqwa PDM Kota Semarang. Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk berhenti memercayai mitos takhayul.
Jangan Terjebak Takhayul Bulan Safar
“Islam mengajarkan agar mukmin tidak terjebak pada takhayul. Jangan menganggap suatu bulan membawa kesialan dengan sendirinya,” kata Ustadz Zuhad. Selanjutnya, ia menegaskan semua kejadian alam semesta berada murni dalam ketetapan Allah. Oleh karena itu, kecemasan berlebihan terhadap bulan Safar tidak memiliki dasar yang kuat.
Al-Qur’an memang pernah merekam istilah hari nahas atau hari yang buruk. Namun, penyebutan ini tidak menetapkan adanya hari yang mutlak membawa kesialan bagi semua manusia. Sebaliknya, ia menjelaskan istilah itu merujuk pada momen turunnya hukuman Tuhan bagi kaum pembangkang.
Peringatan dari Ayat Alquran tentang Azab
Sang khatib kemudian mengutip salah satu ayat Alquran tentang azab dari Surah Al-Qamar. Ayat 19 tersebut menceritakan azab angin kencang yang menyapu bersih kaum Nabi Hud.
Faktanya, hukuman berat itu turun akibat kesombongan mereka menolak kebenaran rasul.
“Yang menjadikan suatu hari sebagai hari penuh musibah bukanlah karena waktu itu sendiri.
Kehancuran terjadi karena Allah menurunkan azab kepada kaum yang melampaui batas dalam kemaksiatan,” ungkapnya. Padahal, waktu sama sekali tidak pernah berniat jahat terhadap nasib manusia. Manusia sendirilah yang secara sadar mengundang kehancuran tersebut melalui ragam dosa.
Pentingnya Muhasabah Diri Menolak Bala
Sejarah kelam umat terdahulu harus menjadi bahan muhasabah diri bagi umat modern. Sebagai contoh, kaum ‘Ad dan Tsamud hancur akibat merawat penyakit hati yang sama. Mereka terus menolak petunjuk kebenaran dan membiarkan kezaliman merajalela di bumi. Pada akhirnya, kesombongan fatal inilah yang memicu penyebab musibah dalam Islam.
Ustadz Zuhad lalu mengingatkan jamaah agar memperbanyak amalan doa penolak bala. “Seorang muslim tidak perlu takut terhadap bulan Safar atau hari tertentu. Yang seharusnya kita takuti adalah apabila kita hidup dalam kemaksiatan,” tegasnya. Selain itu, doa yang tulus merupakan ikhtiar terbaik untuk mendapat perlindungan dari langit.
Kesimpulannya, makna hari sial bukanlah kutukan misterius dari alam semesta. Hari penuh duka tiba tepat saat manusia mulai menanggalkan ketaatan kepada-Nya. Mari kita segera memperbanyak istighfar, sedekah, dan selalu menjaga silaturahmi. Sebab, perlindungan sejati hanya datang dari tingkat kedekatan manusia dengan Sang Pencipta.