Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Negara Sudah Merdeka, tapi Hati Masih Cemas? Pahami Makna Kemerdekaan Sejati

15 Agustus 2026, 08:57 WIB • 2 menit baca
Pria muslim khusyuk beribadah di atas sajadah melambangkan ketenangan hati menurut Islam di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kota Semarang.
Ketenangan batin di tengah bisingnya dunia. Meraih makna kemerdekaan sejati dengan berserah diri kepada Sang Pencipta, melepaskan diri dari belenggu hiruk-pikuk rutinitas dan ekspektasi duniawi. (Ilustrasi)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Perayaan kemerdekaan sering kali bertolak belakang dengan kondisi mental masyarakat modern saat ini. Orang-orang secara fisik bebas beraktivitas, tetapi kecemasan justru menjerat pikiran mereka setiap malam. Beranjak dari situasi tersebut, kita sangat membutuhkan pemahaman tentang makna kemerdekaan sejati agar mental terlepas dari tekanan ekspektasi duniawi.

Pembahasan mengenai kebebasan batin ini menjadi sorotan utama di lingkungan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah pada Jumat (14-8-2026). Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang sekaligus dosen Psikologi Undip, H. Suparno BM S.Ag., M.S.i., menguraikan hakikat merdeka dalam khotbahnya. Ia merinci persoalan kesehatan mental modern langsung di hadapan para jemaah.

Lepas dari Tekanan Ekspektasi

Sewaktu menelusuri akar rasa lelah batin, ajaran Islam ternyata memiliki panduan yang sangat jelas. Suparno menyebutkan bahwa kebebasan fisik, status kewarganegaraan, dan kemapanan finansial hanyalah sarana penunjang hidup. Ia menegaskan, jiwa manusia baru terbebas ketika tidak ada lagi ketakutan terhadap sesama makhluk.

“Kemerdekaan sejati adalah pembebasan jiwa dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT,” tutur Suparno. Berbekal prinsip inilah, setiap orang bisa menerapkan cara mengatasi overthinking dalam Islam secara tepat sasaran dan bertahan lama.

Runtuhnya Kebutuhan Validasi

Apabila materi dan jabatan menempati posisi teratas, manusia otomatis masuk ke dalam perangkap gaya baru. Perlahan namun pasti, banyak pekerja berubah wujud menjadi budak opini orang lain. Mereka terus memaksakan diri bekerja melampaui batas wajar semata-mata untuk mencari pengakuan dari lingkungan sekitar.

Guna menyadarkan jemaah, dosen psikologi ini membagikan ketegasan sikap sahabat Nabi bernama Rib’i bin ‘Amir. “Allah mengutus kami untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata,” ucapnya menceritakan kembali catatan sejarah tersebut.

Selama fondasi tauhid menancap kuat, rasa takut kepada atasan maupun komentar miring tidak akan mudah menggoyahkan ketahanan mental.

Menata Niat dan Prioritas Harian

Tindakan paling masuk akal untuk menyudahi tekanan batin adalah merombak ulang skala prioritas. Setiap individu pantang menomorduakan nilai agama ketika sedang mengejar keuntungan finansial maupun gengsi sosial. Melalui penjagaan integritas serta sikap amanah saat menuntaskan pekerjaan, rasa damai itu akhirnya bisa hadir seutuhnya.

Beranjak dari kesadaran itu, Suparno mengajak jemaah meluruskan niat bekerja berlandaskan Surah At-Taubah ayat 105. “Jangan pernah mengorbankan hukum Allah demi mengejar rida manusia, materi, atau popularitas duniawi,” pesannya secara lugas. Begitu seseorang beraktivitas murni karena Allah, ia akan merasakan ketenangan hati menurut Islam yang tidak bisa kita beli dengan kemewahan apa pun.

Kontributor: MPI PDM Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: